728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 15 Agustus 2017

    #Warta : Megawati pun Turun Tangan Membela Jokowi

    Belakangan sering terdengar istilah “Presiden Diktator” yang disikapi dengan santai dan penuh guyonan oleh Pak Jokowi, sang korban tuduhan tersebut. Semua berawal dari pembubaran Ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kisruh RUU Pemilu yang telah disahkan Jumat dinihari tanggal 21 Juli 2017 beberapa waktu lalu.

    Pembubaran Ormas HTI dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang (Perpu) No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat (Ormas) yang baru saja dikeluarkan Presiden Jokowi. Kemudian UU Pemilu yang telah melalui proses pembahasan cukup lama akhirnya disahkan. Seperti diketahui, partai-partai yang bukan pendukung pemerintah menentang pengesahan UU tersebut karena dirasa banyak pasal yang kurang memuaskan, terutama terkait Presidential Threshold yang ditetapkan 20%, sama seperti dua pemilu sebelumnya.

    Berikutnya menyusul pertemuan SBY – Prabowo di Cikeas baru-baru ini yang mendapat liputan dari berbagai media tanah air. Sebenarnya pertemuan itu murni silaturahmi atau pendekatan politik biasa antara dua tokoh partai berbeda, sekaligus sesama alumni AKABRI. Akan tetapi pernyataan kedua tokoh tersebut di depan pers sehabis acara menjadi hal terpenting dari pertemuan tersebut.

    Pak Prabowo secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap langkah pemerintah dan parlemen yang mengesahkan UU Pemilu yang dalam pandangan beliau penuh ketidakadilan dan condong menguntungkan pemerintah sekarang. Sementara SBY di sisi lain, meski tidak secara langsung menanggapi UU Pemilu, lebih menekankan pada penegasan bahwa jalannya pemerintahan yang sekarang harus terus diawasi, tidak boleh sampai melampaui batas.

    Saya berpikir positif, kedua tokoh tersebut baik Pak Prabowo maupun Pak SBY saat itu sedang menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintahan tanpa ada maksud yang lain. Apalagi dengan posisi keduanya sebagai tokoh publik, pemimpin dua partai yang bukan termasuk partai pendukung Jokowi, sah-sah saja mereka menyampaikan pendapatnya tentang langkah yang diambil pemerintah.

    Namun kalau coba ditelusuri, sejak pertemuan itulah muncul istilah ‘Presiden Diktator’ oleh pihak-pihak yang tidak puas oleh kebijakan-kebijakan tegas pemerintahan Jokowi belakangan. Keputusan mengeluarkan Perpu, membubarkan ormas HTI, dan sikap fraksi partai pendukung pemerintah menge-golkan RUU Pemilu dianggap oleh para kaum sebagai bentuk kesewenang-wenangan Pemerintah. Padahal pengambilan keputusan dan pengesahan undang-undang dilindungi oleh konstitusi, dimana juga ada langkah hukum yang bisa diambil apabila dirasa ada kebijakan atau undang-undang yang tidak adil. Tapi justru label “Presiden Diktator” yang lebih sering digemakan di ruang publik.

    Label tersebut cukup menggelitik kita, termasuk Pak Jokowi sendiri. Seperti disampaikannya saat menjawab tudingan diktator sambil berguyon, kemarin beliau dibilang cuma Presiden petugas partai, Presiden ‘ndeso’, sekarang dibilang Presiden diktator. Hebat ya peningkatan level kekuasaan Jokowi selama tiga tahun terakhir, hehe.

    Nah belakangan, Megawati pun ‘turun gunung’ membela kader terbaiknya itu dari tuduhan-tuduhan tendensius. Berbeda dengan Jokowi yang menyikapi dengan santai, Ketua Umum PDIP tersebut melontarkan tantangan keras bagi penyebut “Presiden Diktator” untuk membuktikan kebenaran ucapan mereka.

    Megawati berkata, “Kalau Jokowi dibilang diktator, orang yang ngomong itu sanggup enggak membuktikan kediktatorannya?”  Pertanyaan cukup keras tapi boleh dibilang retorik tersebut disampaikan saat beliau memberikan sambutan dalam acara Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Bogor, Sabtu, 12 Agustus 2017.

    Saya yakin itu pertanyaan retorik karena tidak akan ada orang yang menjawab tantangan tersebut. Ya, karena ucapan “Presiden Diktator” tersebut lebih merupakan reaksi ungkapan kekesalan, kekecewaan, sekaligus cara mendiskreditkan seorang pemimpin nasional yang dihormati banyak orang dan terus bekerja keras demi kesejahteraan masyarakat. Ucapan tersebut bukan sebuah fakta yang didasari data-data atau rangkuman informasi yang memadai untuk melabeli seorang pemimpin dengan kata ‘diktator’

    Tidak sampai di situ saja, secara terbuka Megawati juga mengungkapkan pengalamannya saat Jokowi masih menjadi Walikota Solo. Megawati menceritakan bagaimana cara Jokowi ‘membujuk’ sejumlah warga agar bersedia digusur dari tempat tinggal mereka saat itu dengan pendekatan diplomasi makan siang. Dengan menyampaikan fakta tersebut, beliau hendak memberi kontradiksi bagaimana seorang tokoh pemimpin yang lebih mengutamakan pendekatan sosial kepada masyarakat seperti Jokowi bisa-bisanya disebut seorang Diktator.

    Pembelaan Megawati terhadap kader terbaik partainya sekaligus Presiden RI sangat ini tentu sangat menyegarkan, terutama seperti mengurangi beban di pundak Jokowi. Ya, Presiden ke-4 RI dan pimpinan partai dimana Jokowi bergabung, dengan garang menantang pihak-pihak yang mendiskreditkan Jokowi.

    Kita tahu Megawati bukanlah seorang tokoh politik yang rajin bicara di media seperti halnya Fadli Zon, SBY, Prabowo, Fachri, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, dan lainnya. Oleh karena itu turun tangannya beliau membela Jokowi tentu memiliki arti sangat penting. Ini memberi pesan baik kepada partainya sendiri, partai pendukung pemerintah, partai di luar pemerintahan, serta masyarakat luas bahwa Jokowi memiliki pendukung yang kuat di belakangnya.

    Pernyataan tegas Megawati juga mengimplikasikan Jokowi bukanlah seorang petugas partai yang menunggu instruksi, tapi beliau adalah seorang Presiden sebuah negara yang berdaulat yang akan bekerja membangun negara. Semua elemen pendukung pemerintahan akan bahu membahu melindungi dan membela beliau dari serangan pihak-pihak manapun.

    Kita berharap Megawati dan tokoh-tokoh besar pendukung pemerintah yang lain bersedia lebih sering lagi membela Jokowi dari berbagai tuduhan-tuduhan aneh dan lucu yang dialamatkan kepadanya. Janganlah waktu Jokowi yang demikian sedikit dan berharga harus terpotong sia-sia untuk menanggapi hal-hal yang tidak terlalu penting tersebut. Lebih baik beliau berkonsentrasi penuh di urusan pemerintahan untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia.

    Kalaupun Pak Jokowi mau menanggapi serangan verbal yang diarahkan terhadapnya, sebaiknya dilakukan belakangan aja dengan gaya beliau yang santai dan penuh guyonan. Biarlah para tokoh yang mendukung pemerintahannya beserta para pendukungnya yang turun lebih dulu untuk membela.


    Penulis   :  Andre Sihotang    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Megawati pun Turun Tangan Membela Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top