728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 20 Agustus 2017

    #Warta : Mega-SBY Akur, Prabowo Goyah : Ambisi atau Reputasi?

    Keinginan Prabowo untuk tetap maju sebagai calon presiden masih cukup kuat. Meski sudah pernah tiga kali gagal secara berturut-turut, hal itu tidak membuat langkah Prabowo terhenti. Hasrat untuk menjadi presiden lebih besar ketimbang reputasinya jika kalah lagi. Namun, begitulah Prabowo. Tidak ada kata menyerah dalam kamusnya.

    Tahun 2004 Prabowo pernah maju dalam konvensi Partai Golkar. Ia kalah. Konvensi dimenangkan Wiranto yang kemudian menjadi calon presiden dari Partai Golkar berpasangan dengan Sholahuddin Wahid.

    Tahun 2009, Prabowo kembali unjuk gigi. Kali ini ia punya kendaraan sendiri, Partai Gerindra. Semula Prabowo berniat melenggang bersama Ketua Umum PAN kala itu Sutrisno Bachir yang digandengnya menjadi calon wakil presiden. Namun sayang, pasangan ini sudah layu sebelum berkembang karena tak mampu memenuhi persyaratan kursi dukungan.

    Dengan terpaksa, upayanya untuk menggandeng Sutrisno pun harus berhenti ditengah jalan. Prabowo mengubah haluan dan berlabuh dalam koalisi bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden. Melalui perundingan yang alot, Prabowo akhirnya “legowo” dipasangkan sebagai calon wakil presiden.

    Namun harapan Prabowo untuk menang, tak kunjung berbuah manis, dengan merangkul Budiono sebagai wakilnya, SBY kembali memenangkan pertarungan. SBY-Budiono resmi menang dalam satu putaran. Berdasarkan hasil Rapat Pleno Rekapitulasi Suara Pemilihan Presiden 2009, pasangan yang didukung 24 partai itu menyapu 60,8 persen suara.

    Prabowo sempat frustasi dengan keadaan ini, sebelum akhirnya bangkit dan bertarung kembali pada pemilu 2014. Kegagalan tak menyurutkan niat Prabowo meraih pucuk pimpinan negeri ini. Untuk ketiga kalinya ia maju bertarung dalam Pemilu 2014. Meski belum mendeklarasikan diri sebagai calon presiden dari Gerindra, niat Prabowo menjadi Presiden tak terelakkan.

    Jauh-jauh hari ia sudah bergerilya membangung popularitas dirinya. Hasilnya, sejumlah lembaga survei menyatakan, ia berada di peringkat kedua calon presiden pilihan rakyat setelah Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta kala itu.

    Namun, tak sedikit yang resah dengan popularitasnya. Prabowo memiliki catatan buruk dalam kasus penculikan aktivis 1997 – 1998. Ia dipecat dengan tidak hormat  terkait kasus ini. Hilangnya tiga belas aktivis masih belum terungkap hingga kini.

    Perjalanan masih panjang. Pemilu belum digelar. Joko Widodo, mantan wali kota Solo yang diusungnya ke Jakarta, malah jadi rival terberatnya. Cerita Prabowo tentang perjuangannya nyapres belum selesai.

    Seiring berjalannya waktu, pemilu 2014 pun berlangsung dengan pertarungan dua kandidat yang sejak awal diprediksi akan bertarung. Prabowo-Hatta melawan Jokowi-JK. Hasil resmi dari KPU menyatakan pasangan nomor urut 2 Jokowi-JK keluar sebagai pemenangnya. Tercatat dari laporan KPU pasangan Jokowi-JK unggul 8,4 juta suara dari pasangan Prabowo-Hatta. Namun hal itu tidak ditanggapi secara legowo oleh kubu Prabowo.

    Merasa tak puas dengan keputusan tersebut, tim kuasa hukum kubu Prabowo mengajukan gugatan ke PTUN sebelum akhirnya ditolak. Lantas ia kembali mengajukan banding ke MK. Di MK pun nasibnya sama, gugatan yang ia ajukan tak memiliki bukti yang cukup kuat. Apalagi selisih beda suara yang cukup besar, tak mungkin bagi Prabowo untuk mengejar ketertinggalan. Prabowo pun harus menelan pil pahit bulat-bulat, harapannya yang sejak lama ingin menjadi presiden tak kunjung membuahkan hasil.

    Prabowo pun kembali mencoba peruntungan pada pemilu 2019. Akan tetapi hal itu harus dipikir matang-matang. Ia harus berhadapan dengan lawan terberatnya, Jokowi. Memang benar, dalam sejumlah lembaga survei menyatakan popularitas Prabowo masih berada diurutan kedua setelah Jokowi. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus diperhitungan Prabowo jika ingin maju kembali.

    Pertama, secara kinerja Jokowi sudah menunjukkan prestasinya yang menonjol dibidang infrastruktur. Jokowi sudah bangun sana, bangun sini. Dengan kinerja yang bagus, berarti tidak perlu susah payah bagi Jokowi untuk mengkampanyekan dirinya, rakyat sudah melihat hasilnya. Sedangkan Prabowo baru akan memulai, itu pun jika terpilih menjadi presiden.

    Kedua, dalam sejarah pemilu Indonesia akan susah melawan petahana, dan itu sudah dibuktikan oleh SBY. Kepercayaan publik yang meningkat tajam hingga 80an persen juga harus dipertimbangkan oleh Prabowo. 80 persen bukanlah angka yang kecil, itu artinya 80 persen rakyat masih menginginkan Jokowi untuk memimpin kembali.

    Ketiga, kekuatan politik yang dimiliki oleh Prabowo sudah tak lagi utuh. Koalisi besarnya yang sempat mengalahkan koalisi pemerintahan dalam pemilihan pimpinan parlemen pretel satu persatu. Golkar, PPP, PAN sudah menyatakan sikapnya untuk mendukung pemerintahan. Meski ditengah jalan PAN berbeda sikap dan memilih walk out saat merumuskan UU pemilu.

    Hasil sidang menyatakan UU pemilu yang disetujui adalah sistem presidential threshold 20-25 persen. Itu artinya Prabowo harus memenuhi ambang batas minimal 20 persen dari total jumlah kursi di DPR. Saat ini partai yang masih solid dan memungkinkan mendukung Prabowo hanya PKS. Jumlah kekuatan Gerindra-PKS pun belum memenuhi syarat tersebut.

    Berdasarkan hasil rekapitulasi suara oleh KPU, jumlah total kursi yang dimiliki Gerindra-PKS sekitar 18,6 persen. Prabowo harus bekerja keras untuk memenuhi kekurangan kursi tersebut.

    Lebih lanjut dipastika penjajakan koalisi bersama Demokrat tak membuahkan hasil. Antara SBY dan Prabowo, sama-sama tak menunjukkan pernyataan sikap untuk berkoalisi. Apalagi pasca pertemuannya di rumah Cikeas, tidak ada tindak lanjut pertemuan berikutnya.

    Isu gagalnya koalisi Demokrat-Gerindra semakin dikuatkan kembali dengan hadir SBY dalam acara peringatan HUT RI ke 72. SBY kembali akur dengan Megawati setelah hampir 14 tahun berseteru. Dalam politik simbol, pertemuan SBY-Megawati memberi indikasi dukungannya terhadap pemerintahan.

    SBY cukup pandai dalam melihat peta politik saat ini. SBY paham, melawan Jokowi adalah hal yang konyol, satu-satunya cara adalah bergabung dan merapatkan dukungannya pada koalisi pemerintahan. Langkah tersebut akan diikuti oleh PAN yang sejak awal sejalan dengan langkah politik Demokrat.

    Sehingga, bisa dipastikan nasib Prabowo akan sama dengan nasibnya di pemilu-pemilu sebelumnya. Untuk keempat kalinya Prabowo harus terjun kedalam jurang yang begitu dalam. Prabowo boleh berambisi, namun ia juga harus realistis. Daripada melawan Jokowi lebih baik menjadi negarawan sejati.

    Salam Seword,


    Penulis  :  Handoko Suhendra   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Mega-SBY Akur, Prabowo Goyah : Ambisi atau Reputasi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top