728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 18 Agustus 2017

    #Warta : Mbah Amien Nyinyir Lagi, Tapi Hampa!

    Di tengah gegap gempita, sukacita, dan kemeriahan menyambut HUT ke-72 Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bapak yang Sampun Sepuh Amien Rais yang belum move on dari sikap hati negatifnya terhadap bangsa dan negara ini kembali memantik kontroversi dengan mengatakan:

    “Pancasila sebagai ideologi makin lama makin hampa.”

    Mungkin beliau agak senewen karena nggak diundang sebagai tamu undangan pada Upacara Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Akibatnya, di sela-sela “upacara sendiri” di Universitas Bung Karno, Bapak yang Sampun Sepuh itu mulai mengucapkan kalimat yang ngaco tadi. Entah habis mendapat bisikan apa dari kawan-kawan yang secingkrangan dengan dirinya.

    Menurut saya, Bapak yang Sampun Sepuh itu harus memberi klarifikasi untuk seluruh masyarakat Indonesia, karena berani-beraninya menilai Pancasila semakin hampa, dengan penjabaran sebagai berikut: (pendapat dari saya sengaja saya apit tanda kurung)

    Sila Pertama dianggap bergeser menjadi keuangan yang sangat digdaya. Semua masalah bisa diselesaikan dengan uang, termasuk urusan Pilkada.

    (Sila pertama bagi saya sama sekali belum hampa, Mbah! Orang yang bisa mengamalkan sila pertama dengan sungguh-sungguh, niscaya kekuatan uang pun tidak akan mampu menggoyahkannya. Saya meyakini bahwa ketika seseorang beribadah HANYA kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan sungguh-sungguh hidup sesuai ajaran-Nya, maka kibasan uang dalam bentuk berbagai proyek siluman pun (mau proyek berkaitan dengan sapi, beras, apalagi kitab suci), tak akan mempan membuatnya berkhianat kepada negara ini.)

    Sila Kedua dianggap tak berlaku karena tak begitu adil dan sedikit biadab, dengan fakta bergeser menjadi keuangan yang sangat digdaya. Hal ini didukung “fakta” terjadinya bentrok antarsuku, antarbangsa, dan rakyat miskin digusur.

    (Mungkin Simbah sudah pikun atau tak paham berita, bahwa Presiden Republik Indonesia baru saja mengangkat ajudan dari tanah Papua. Kita juga sudah mendengar bagaimana perlakuan manusiawi dari seorang Jokowi kepada daerah paling timur yang selama puluhan tahun diperlakukan sebagai “anak tiri”, bahkan tak dianggap seperti “anak” di republik ini. Kurang adil apa, jika infrastruktur di daerah digenjot begitu rupa? Kurang beradab apa, biadab yang bagaimana maksud Simbah jika daerah yang selama ini gelap gulita, kini dialiri listrik sehingga membuat masyarakat bersukacita?

    Bentrok antarsuku dan antarbangsa, lha itu bukankah karena ada oknum yang memantik pertikaian sekaligus menyiramkan bensin? Dan ketika pemerintah mau menggebuk dengan hukuman yang berlaku sesuai undang-undang, lha siapa yang malah menghalangi dan berlagak pahlawan kesiangan?

    Rakyat digusur? Bukan! Mereka sedang dimanusiawikan!)

    Sila Ketiga dianggap gagal menjadi landasan untuk saling tenggang rasa dan memahami perbedaan. Tandanya, ada perpecahan di masyarakat, partai, dan umat beragama saling diadu domba. Menariknya, Simbah Amien Rais meminta agar dalang dari semuanya dicari dan bikin perhitungan sama-sama.

    (Bukankah terkoyaknya persatuan dan kesatuan bangsa ini, salah satunya karena koar-koar yang Anda ucapkan tanpa memikirkan dampaknya? Perhitungan sama-sama? Mencari dalangnya? Yakin, Mbah? Sana minta maaf dulu kepada Pak Ahok di Mako Brimob! Itu kalau beliau bersedia menemui Anda. Hahaha…

    Selain itu, monggo bikin konferensi pers dulu untuk mengklarifikasi semua perkataan yang pernah Anda ucapkan. Tentunya setelah merenungkan apakah semua perkataan yang akhir-akhir ini Anda ucapkan, apakah sungguh-sungguh tidak membawa dampak terjadinya perpecahan di bangsa ini?

    Oya, jangan lupa penuhi juga janji Simbah untuk berjalan kaki dari Yogyakarta ke Jakarta. Saya temani nanti dari jauh—maksudnya, tak temani sambil WhatsApp-an dari dalam gerbong kereta api. Mungkin setelah Anda melakukan, bangsa ini bisa lebih bersatu. Mungkin lho, ya!)

    Sila Keempat juga dianggap sudah bergeser karena musyawarah semakin ditinggal, digantikan adu kuat dan adu otot untuk menyelesaikan masalah.

    (Apakah Anda berani ngomong begini di depan Pak Wowo dan duo nyinyir itu? Apakah panjengengan berani menantang setiap proses rapat di DPR akan mengedepankan musyawarah yang benar-benar waras, bukan adu otot dan adu kuat karena menjadi mayoritas di parlemen? Beranikah Anda naik ke atas kap mobil, lalu menyuruh bubar ketika nanti ada Demo Tiga Angka lagi untuk mempertegas bahwa musyawarah lebih baik dari demonstrasi?)

    Sila Kelima pun dianggap “bernasib” sama, karena kezaliman sosial bagi kebanyakan rakyat yang memang sudah lama menderita.

    (Apa jawaban Anda jika ada seorang pemimpin yang bertekad mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warganya, tetapi dikriminalisasi layaknya penjahat kelas kakap? Zalim yang bagaimana maksudnya? Justru sekarang pemerintah sedang berupaya menegakkan ideologi Pancasila, dengan prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat, bukan keadilan bagi yang berduit atau yang punya kekuasaan, tetapi ketidakadilan bagi wong cilik!

    Lagipula, adil bukan berarti izin untuk berbuat semaunya atas nama rakyat atau wong cilik yang dianggap selalu menderita! Siapkah bapak menerima keadilan dan berlaku kesatria ketika pedang keadilan menghampiri bapak berupa surat panggilan kepolisian? Apakah bapak akan berani menghadapi atau menyarankan agar tidak usah diperlakukan begitu karena sampun sepuh (sudah tua)?)

    ****

    Kesimpulan saya, cukup ngawur jika menganggap Pancasila semakin hampa. Justru di bawah komando Presiden Jokowi dan seluruh jajarannya, ideologi bangsa Indonesia ini sedang diupayakan untuk kembali “berisi” dan ditegakkan bagi kebaikan seluruh bangsa.

    Justru menurut saya lagi, perkataan Simbah Amien yang semakin lama, semakin hampa. Menuanya usia seharusnya diikuti dengan semakin bijak dalam berkata-kata, bukan semakin hampa, seperti tong kosong yang berbunyi nyaring—maaf jika saya harus menuliskan seperti ini karena sudah gemes sama Anda!

    Terakhir, seperti usulan Anda untuk mencari pelaku dan membuat perhitungan sama-sama untuk orang-orang yang menjadi dalang “melemahnya” Pancasila di negeri kita, silakan Simbah baca saja artikel-artikel di Seword dengan hati terbuka, niscaya para pelakunya akan dapat diketahui dengan mudah.

    Jangan lupa benar-benar dibaca ya, Mbah! Kalau nggak, nanti tambah hampa lho perkataan Simbah!


    Penulis :   Widodo SP    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Mbah Amien Nyinyir Lagi, Tapi Hampa! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top