728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 18 Agustus 2017

    #Warta : The Maverick Jokowi, Simalakama SBY, Jadi Tumbal Politik atau Singkirkan Prabowo

    Presiden Jokowi, the Maverick dan the Unpredictable, kembali bertindak simbolis. Bukan hanya soal pakaian gemerlap adat Nusantara yang elok, namun juga tentu menghadirkan mantan-mantan wapres dan presiden. Ini bagaikan perwujudan the Club of Presidents of the Republic of Indonesia, yang digagas oleh SBY. Namun, di balik itu, SBY jangan senang dan bahagia dahulu. Baik dari sisi SBY maupun Presiden Jokowi berlangsung pertarungan politik 2019.

    Arah Politik SBY Gampang Ditebak

    Sejak awal SBY selalu peragu dan bernafsu menjadi president maker. Dia mengalami kebesaran mimpi yang tak terbatas, bahkan lucu dan menggelikan bagi pengamat politik yang cerdas. Gampang menebak arah politik SBY itu.

    Contohnya, Pilpres 2014, dia membayangkan Prahara menang, maka dia mendukungnya satu kaki. Satu kaki lagi dipijakkan di kubu Jokowi. Alasan mendukung Prabowo adalah besaran partai pendukung yang 64%. Acuan survei juga menjadi pertimbangan SBY.

    Untuk mendukungnya, dia juga berpatokan pada sesembahan politikus yakni survei. Trend survei yang menunjukkan grafik naik Prahara justru membingungkannya. Karena survei bisa menjadi anomaly. Benar adanya. Prahara kalah. Besannya kalah pula yang nyapres.

    UU MD 3

    Namun bukan SBY kalau bukan manusia penuh intrik politik. UU MD 3 akan dijadikan alat penyeimbang bagi partainya, antara KMP dan KIH. Ingin berpengaruh dan menentukan. Semua upaya dilakukan untuk menyingkirkan PDIP sebagai pemenang pemilu. Ini penggerogotan praktek kejahatan politik yang tak kenal belas kasih dan sayang. Kepentingan sebagai panglima.

    SBY pun termakan gerakan pemakzulan dan bayangan Presiden Jokowi akan jatuh dalam setahun seperti yang dirancang para partai. Jangankan SBY, kalangan partai seperti Effendi Simbolon dan Rieke Dyah Pitaloka – yang dibungkam sekarang oleh internal PDIP – pun kemakan fantasi pemakzulan alias impeachment oleh kelompok KMP.

    Namun, berkat kesigapan zig-zag politik Presiden Jokowi, dua partai Golkar dan PPP membelot dan bubarlah KMP dan KIH. Belakangan PAN main di dua kaki. SBY pun gagal berperan. Tidak berguna dan bahkan UU MD3 menjadi monumen abuse of power-nya.

    Karakter seperti itu terbaca dengan jelas oleh Presiden Jokowi. Maka saat ini, sebenarnya SBY tengah digiring untuk memilih dua pilihan. Keduanya merugikan baginya. Namun, dia harus memilih. Tidak memilih akan menimbulkan konsekuensi politik-hukum dan hukum-politik yang akan menghempaskannya ke jurang nestapa politik. Habis.

    Simalakama SBY Karena Siasat Jokowi

    SBY kini harus memilih untuk menyingkirkan Prabowo atau mendukung Prabowo. Pilihan ini sungguh sulit baginya. Ingatan digebukin Prabowo di sekolah militer – seperti yang dituturkan Hermawan Sulistyo membekas di hatinya sampai kapan pun. Ini sulit secara pribadi. Pun SBY sangat tidak menghendaki kesejajaran dirinya dengan Prabowo secara batin dan rasa.

    Faktor kekuatan karakter Presiden Jokowi pun membuat dirinya bertekuk lutut. Permainan watak Presiden Jokowi selama hampir 3 tahun membuatnya kehilangan arah. Dia kehilangan kesempatan menjadi negarawan.

    Pun Presiden Jokowi menjadi antithesis SBY. Jokowi kerja, dia pencitraan. Jokowi membangun proyek, dia membuat proyek mangkrak. Jokowi memberdayakan rakyat, dia memberi ikan BLT. Jokowi menghapus subsidi menumpas mafia migas, SBY memelihara tak berani, kecut, takut, dengan mafia Petral, M. Riza Chalid.

    Bahkan antithesis paling spektakuler ditunjukkan kemarin, SBY yang selalu nyinyir kepada strategi dan permainan catur politik Jokowi – di mana SBY termehek-mehek mengikutinya – memaksanya bertemu dengan Ibu Megawati. Pertemuan pertama sejak 2004 secara resmi dalam forum silaturahmi kebangsaan dan acara kenegaraan.

    Perhitungan politik kekuatan Presiden Jokowi pun dipahami dengan jelas oleh SBY. Penanaman kekuatan hukum telah dibongkar di MK – dengan adanya penjaga gawang Saldi Isra. UU Pemilu dan Perppu Ormas yang digugat olehnya – karena nafsu hendak menaikkan Agus dan intrik politik seperti Pilkada DKI. MK dipastikan akan mengandaskan uji materi atas kedua produk DPR tersebut. (Pun jika tidak sesuai Plan B, justru akan lebih keras yakni menyingkirkan peran SBY sama sekali.)

    SBY berharap PT (presidential threshold) NOL berniat memecah suara, demi tujuan asal bukan Jokowi. Sama dengan di DKI Jakarta, asal bukan Ahok. Alasannya, sederhana. Jokowi dan Ahok perusak rancangan demokrasi ugal-ugalan dan anti korupsi. Namun, rancangan itu kandas karena UU Pilpres 2019 nanti yang menyaratkan 20-25% suara partai dan pemilih.

    Dalam kondisi politik yang tidak menguntungkan seperti itu, SBY tergantung dengan partai PPP, partai agama PKS, atau PAN untuk mengangkat Agus. Pilihan lainnya adalah menyambut Prabowo-Agus. Namun, ini tidak sesuai dengan nuraninya. Head to head Jokowi-Prabowo dalam pandangan SBY dipastikan akan menghempaskan Prabowo lagi.

    Untuk itu, SBY punya pilihan lain selain menghempaskan Prabowo, dengan bersekutu dengan PAN dan partai lain, sementara Prabowo hanya bergantung kepada partai agama PKS. Dengan, 3 calon presiden yang tipis kemungkinannya, maka SBY tidak berkutik. Singkirkan Prabowo yang rapuh itu – hanya dibesarkan pencitraan sebagai ksatria padahal hanya pecatan tentara – yang ujungnya tetap merugikannya: Jokowi tetap menang di 2019. Dan, tetap menjadi tumbal politik. Demikian Ki Sabdopanditoratu. Salam bahagia ala saya.






    Penulis :   Ninoy Karundeng   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : The Maverick Jokowi, Simalakama SBY, Jadi Tumbal Politik atau Singkirkan Prabowo Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top