728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 20 Agustus 2017

    #Warta : Ketika Pesona Paskibraka Tenggelam Oleh Penampilan Jokowi

    Setiap perayaan hari kemerdekaan di Istana, kita selalu fokus pada paskibraka dan pembawa baki yang biasanya bening dan unyu-unyu. Kecantikan pembawa baki selalu menjadi pembicaraan hangat pasca upacara 17 Agustus, di manapun, termasuk tim paskibraka di Istana Merdeka.

    Dari media mainstream sampai sosial media, dari anak-anak SMA sampai yang sudah om-om, selalu terfokus pada perempuan pembawa baki yang datang mengambil bendera ke Presiden. Di era Presiden Jokowi, bahasan seputar kecantikan pembawa baki bendera ini masih ada. Meski perlahan ditutupi dengan pesona Presiden yang selalu datang menyalami masyarakat umum yang datang ke Istana.

    Tapi di tahun 2017 ini, bisa dibilang pesona pembawa baki bendera nyaris tak terdengar. Semua berita di media mainstream dan percakapan di sosial media terfokus pada begitu kompaknya kabinet kerja dan Presiden Jokowi bersama Wapres JK mengenakan pakaian adat daerah. Wajar jika banyak orang mengatakan bahwa Istana tak pernah seheboh tanggal 17 Agustus kemarin.

    Kita lebih membicarakan Presiden Jokowi dan Wapres JK yang bertukar pakaian adat dibanding kecantikan pembawa baki. Bahkan kehadiran SBY yang kemudian bertemu Megawati, yang seharusnya menjadi pembicaraan hangat pun kalah dengan cerita Presiden yang menilai pakaian-pakaian adat peserta upacara yang hadir.

    Menkumham Yasonna Laoly, Ketua DPD Oesman Sapta Odang, Asisten Ajudan Presiden Syarief Muhammad, Istri Kapolri Tito Karnavian dan istri Wakil ketua MPR terpilih sebagai pemenang kostum terbaik dan masing-masing berhak mendapatkan sepeda Jokowi.

    Bagi saya, ini sebuah kejutan yang luar biasa. Tema tujuh belasan dan menilai pakaian yang dikenakan para peserta upacara, adalah komunikasi politik yang mungkin tak terpikirkan oleh siapapun. Presiden Jokowi berhasil memberikan sesuatu yang baru, mengubah kebiasaan yang monoton.

    Tapi sepertinya Presiden sadar bahwa perayaan hari kemerdekaan tahun ini telah menenggelamkan pesona paskibraka dan pembawa baki. Bagaimanapun mereka adalah pemuda pemudi terpilih dari seluruh pelosok negeri. Menjadi pembawa baki bendera di Istana Merdeka mungkin adalah impian mayoritas siswi di seluruh Indonesia.

    Inilah kenapa dalam status facebooknya, Presiden menulis cerita tentang Ruth Cheline Eglesya Purba yang bertindak sebagai pembawa baki bendera saat upacara penurunan bendera. Presiden ceritakan bahwa sebenarnya beliau lupa satu hal dan harus bertanya. “Ruth, ini yang diambil bendera atau bakinya?”

    Untungnya Ruth langsung menjawab dengan berbisik “Bapak, hanya benderanya saja.”

    Lagi-lagi, ini juga kejutan. Tidak mudah bagi siapapun untuk menceritakan kelalaiannya di depan umum dengan tanpa mengurangi wibawanya. Sebuah komunikasi politik yang juga sangat elegan.

    Postingan tersebut kini menjadi viral dan diperbincangkan banyak orang. Saat artikel ini dibuat, postingan itu sudah mendapat 303 ribu likes, 48 ribu komentar dan 29 ribu dibagikan. Sejauh pemantauan saya, ini adalah postingan dengan respon paling tinggi dari facebook Presiden Jokowi.

    Namun di luar itu, saya melihat sepertinya ini bukan sekedar berbagi cerita. Ini tentang bagaimana seorang Presiden berusaha memberi panggung kepada pasukan paskibraka agar setelah ini mereka tetap dibicarakan, dielukan dan dibanggakan oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Presiden tak mau mengambil seluruh porsi pemberitaan dan cerita pasca hari kemerdekaan.

    Secara keseluruhan, perayaan hari kemerdekaan tahun ini berlangsung meriah, menarik dan penuh kejutan. Kita jadi bisa merasakan ada sesuatu yang baru. Dan mungkin sebagian kita sudah berpikir kejutan apa lagi di Agustusan tahun depan?

    Saya pikir tema segar and kejutan seperti ini layak untuk terus dilakukan di tahun-tahun yang akan datang. Agar dalam merayakan kemerdekaan, kita tidak lagi disibukkan mendengar berita tentang kelompok orang yang upacara presiden presidenan. Agar kita juga tidak lagi membicarakan doa orasi atau canda di gedung MPR yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

    Semoga dengan begitu, sang pembaca doa di MPR tahun depan bukan lagi politisi busuk yang menjual agama demi kepentingan politiknya.

    Terakhir, saya pribadi salut dengan tim komunikasi Presiden. Salut pada semua menteri dan pembantunya yang tampil begitu lepas dengan pakain-pakaian adatnya. Teruslah menjadi bagian dari revolusi mental, yang terus mengikis jarak antara masyarakat awam dan pejabat pusat. Begitulah kura-kura.



    Penulis  :  Alifurrahman    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ketika Pesona Paskibraka Tenggelam Oleh Penampilan Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top