728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 21 Agustus 2017

    #Warta : Kapolri Tito dan Gebrakan Besar Emansipasi Polwan

    Pada dasarnya saya selalu tertarik dengan tokoh-tokoh di negeri ini yang memerhatikan kesetaraan gender. Karena menurut saya, masih banyak hal dimana kesetaraan gender belum tercapai. Perempuan masih dianggap tertinggal dari laki-laki. Saya amat tertarik dengan pernyataan Pak Tito Karnavian spesial di HUT Polwan kemarin.

    Berikut pernyataan pertama Pak Tito,

        “Padahal sekarang eranya kesamaan gender, emansispasi. Kami inginnya polwan ini gak jadi second class citizens,” kata Tito saat menghadiri acara jalan sehat menyambut Hari Ulang Tahun Polwan ke 69 dan Bhayangkari ke 65, di Lapangan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ahad, 20 Agustus 2017.

    Saya sangat salut dengan Pak Tito. Beliau peka dengan apa yang menjadi permasalahan pada badan yang ia pimpin. Saya sangat salut dengan tokoh yang menganggap bahwa ketidaksetaraan gender adalah masalah yang serius dan menghambat pergerakan, entah apapun bentuknya selama itu melibatkan dua gender didalamnya. Jarang ada tokoh di negara ini, apalagi laki-laki, yang menaruh perhatian besar terhadap perempuan didalam kesatuannya.

    Dengan beliau menyebut second class citizens bagi saya sudah merupakan kepekaan Pak Tito yang besar terhadap pola pikir patriarki kepolisian terhadap Polwan. Saya sangat bersyukur karena berangkat dari kepekaan beliau, terdapat intensif untuk menyelesaikan masalah kesetaraan gender.

        Dari penilaian Tito, kualitas polwan saat ini tidak kalah dengan polki. Sayangnya, Tito mengatakan masih banyak menyaksikan polwan justru hanya bertugas mengantar makanan. “Padahal mereka dididik untuk tadi, nangkap maling. Di jabatan-jabatan operasional, dilatih, didik apalagi di Akpol. Sayang sekali mereka hanya untuk mengantar minum dan makanan,” kata Tito.

    Hal yang semakin membuat saya bangga dengan Pak Tito, beliau tidak hanya mengetahui dan peka terhadap masalah kesetaraan gender, namun beliau benar-benar turun ke lapangan dan menyelidiki akar dari permasalahan yang terjadi.  Hal ini penting, jadinya nyambung masalahnya seperti apa dan jalan keluarnya yang tepat bagaimana.

    Beliau berkata bahwa polwan tidak kalah dengan polki. Tepat sekali. Inti dari permasalahan kesetaraan gender, hampir disetiap institusi dan bahkan disetiap negara adalah pola pikir patriarki. Kemampuan ada, namun sikap merendahkan perempuan karena pola pikir kolot dan patriarki yang selalu menganggap perempuan kalah dari laki-laki, seakan-akan menjadi kabut dipikiran masyarakat yang menutup kemampuan perempuan yang sebenarnya.

        “Bukan hanya Kapolda Tipe B. Jadikan Kapolda (dari polwan) bintang dua. Tipe B sudah pernah. Di Banten pernah. Yang ditempatkan di daerah agak keras dikit gitu,” kata Tito.

        Apalagi saat ini ada empat 4 orang polwan yang sudah berpangkat Brigadir Jenderal. Nanti kinerja kepemimpinan Polwan itu akan dievaluasi. Jika dinilai berhasil, Tito tak menutup kemungkinan ada polwan lain yang akan diangkat menjadi Kapolda.

    Nah ini yang menjadi klimaks dari pernyataan Pak Tito. Langkah konkret yang akan ia ambil setelah permasalahannya ditemukan. Srikandi-srikandi Polri akan diangkat, dijadikan pemimpin yang nantinya akan menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya. Jikalau lolos, polwan akan dianggap sebagai panutan kepolisian, bukan lagi tukang antar makanan.  Polwan akan dianggap kredibel dalam melaksanakan tugas, tidak lagi diremehkan.

    Saya sungguh mengapresiasi kinerja Pak Tito dalam emansipasi polwan ini. Karena dalam sebuah institusi, semuanya harus dimulai dari atas. Dukungan penuh terhadap emansipasi polwan sudah dimulai dari atas, maka sangat besar kemungkinan bawahan-bawahan Pak Tito untuk turut mendukung emansipasi polwan. Sehingga satu institusi kepolisian dengan penuh memberikan dukungan.

    Sebenarnya pada masa kepemimpinan kapolri yang terdahulu, kesetaraan gender seperti ini sudah ada. Dengan diizinkannya polwan menggunakan jilbab dalam bertugas sebagai bentuk dari kebebasan berekspresi polwan. Namun selama masa jabatannya, dalam hal kesetaraan gender, kapolri sebelum Pak Tito hanya stuck disitu. Itupun progres yang terjadi setelah era pemerintahan Jokowi. Padahal beliau yang dulu memimpin sudah menjabat sejak era SBY.

    Kalau hanya terhenti pada tahap itu, tentu saja tidak menghilangkan akar permasalahan pola pikir patriarki yang masih ada di institusi polisi. Polwan mendapatkan hak mereka. Namun patriarki masih hidup. Apa sih bahayanya? Seperti yang dikatakan Pak Tito. Polwan-polwan itu juga berbakat. Mereka tertahan karena banyak orang-orang dalam institusi mereka yang belum mempercayai mereka untuk memegang jabatan tinggi. Tidak menutup kemungkinan kalau performa polwan bahkan lebih baik dari polki dalam memegang jabatan.

    Hal yang paling dibutuhkan saat ini adalah kesempatan. Kesempatan bagi polwan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Rasa terimakasih yang begitu besar untuk Kapolri Tito Karnavian untuk kesempatan yang diberikan kepada polwan menjadi pimpinan. Rasa terimakasih kepada Kapolri RI akan kesempatan yang diberikan kepada polwan untuk mewujudkan mimpi mereka. Jaya terus Kepolisian Republik Indonesia!


    Penulis  :  Soraya   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Kapolri Tito dan Gebrakan Besar Emansipasi Polwan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top