728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 27 Agustus 2017

    #Warta : Jalan Panjang Orkestra Politik: 212, Rizieq, Saracen Hingga First Travel

    Jelang demonstrasi 212 beberapa waktu lalu, saya diundang bertemu dengan para pengusaha besar dan milyader di Jakarta. Pada intinya, salah satu dari mereka mengatakan “mohon maaf, jika ada kerusuhan di negeri ini, yang dirugikan adalah kamu, dan rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa tentang politik. Kalau kami, semua orang yang ada di meja ini punya apartemen di luar seperti Australia, Singapura dan lain-lain. Andai hari ini rusuh, hari ini juga kami bisa angkat koper.”

    Dalam undangan makan siang yang cukup hangat tersebut, mereka menanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang bisa mereka lakukan untuk negeri ini? dan seterusnya.

    “Karena kami ingin tetap berada di negeri ini, bersama anak cucu,” lanjutnya.

    Aksi 411 berhasil membuat banyak orang ketakutan. Investor, pengusaha, sampai rakyat biasa ikut merasakan tentang tanda tanya besar atas nasib negeri ini. Aksi yang berujung ricuh hingga malam hari itu nyaris saja melengserkan pemerintah yang sah dan terpilih dari proses demokrasi. Presiden Jokowi yang tidak bisa kembali ke Istana untuk menemui perwakilan peserta aksi 411 sebenarnya menjadi pukulan telak. Itu semacam simbol, bahwa seorang Presiden Jokowi tak lagi mampu memasuki Istananya sendiri.

    Meski begitu, saya pribadi beranggapan bahwa pemerintah pasti mampu mengatasinya. Jika tidak, ya peranglah kita dengan para begundal kaum khilafah tersebut.

    Waktu berlalu, akhirnya aksi 212 berhasil dimanfaatkan oleh Presiden Jokowi. Beliau mendapat panggung yang luar biasa karena mampu berdiri di tengah-tengah massa, dengan pengawalan yang tak pernah disimulasikan sebelumnya. Keberaniannya membuat Jokowi disanjung oleh banyak media luar. Dan aksi 212 pun berakhir pada siang hari dan dapat dikondisikan.

    Belakangan saya baru tahu bahwa ada momen yang sangat krusial terjadi. Jelang aksi 212, Presiden Jokowi sudah meminta kepada tim pengamanan dan sejumlah menteri terkait agar dirinya bisa menemui demonstran. Namun permintaan tersebut ditolak sebab di luar protokoler yang ada selama ini, dan tim Paspampres tidak bisa menjamin keamanan Presiden.

    Namun siang itu, jelang shalat jumat, Presiden menelpon ibunya di Solo, meminta saran, ijin, sekaligus doa agar dirinya bisa menemui massa. Menurut informan Seword, ibunya menjawab “bismillah.” Inilah yang membuat Presiden sangat yakin untuk menemui massa 212 di Monas, di luar dugaan banyak orang.

    Pada suatu kesempatan, kepada informan Seword saya bertanya sekaligus memberi masukan. Apakah sebaiknya Presiden tidak terlalu keras kepada ormas-ormas preman radikal tersebut? karena sejatinya kita dibolehkan untuk melakukan suatu kesalahan kecil, negosiasi, untuk kepentingan yang lebih besar. Daripada kita keluar anggaran besar untuk pengamanan demonstran berjilid-jilid, mengapa uangnya tidak kita berikan saja pada mereka supaya tenang? Jadi tidak perlu buang tenaga dan waktu.

    Menurut keterangan Kapolri Tito Karnavian, anggaran pengamanan demo 411 dan 212 sudah menghabiskan sebesar 76 miliar rupiah. Dalam pandangan sederhana saya, kalau 76 miliar rupiah itu kita gunakan untuk mendanai ormas-ormas radikal yang menjadi motor penggerak demonstran, pasti tak akan pernah terjadi demo sebesar itu. Tak perlu ada polisi yang terluka dan menjadi korban amuk massa. Tak perlu ada ketakutan investor sampai rakyat biasa.

    “Seingat saya sudah banyak yang menyarankan seperti itu. Dan Presiden pernah mendengar langsung,” jawab informan Seword.

    “lalu?”

    “Jawaban beliau, kalau sama-sama keluar uang, kenapa nggak kita keluarkan dengan cara yang benar? silahkan saja demo, kita masih mampu amankan.”

    Nasib operator demo dan Rizieq

    Setidaknya pemerintah sudah rugi 76 miliar rupiah dari aksi-aksi demo tersebut. Anggaran besar itu habis begitu saja untuk dana pengamanan. Saya tau bahwa “sang operator” juga sudah habis ratusan miliar untuk menggerakkan massa 411 dan 212. Mulai dari memberi fasilitas bus gratis, beli konsumsi gratis Sari Roti, sampai biaya orator dan penggerak di lapangan.

    Waktu berlalu begitu cepat, dan hari saya mulai paham tentang sikap keras Presiden.

    Rizieq sekeluarga berada di Arab Saudi sejak 25 April 2017. Hari ini sudah tanggal 27 Agustus 2017. Artinya, sudah lebih dari 4 bulan Rizieq tidak bekerja, ongkang-ongkang kaki tanpa aktifitas yang jelas, namun semua kebutuhan hidupnya terpenuhi. Makan enak, tidur nyenyak di hotel, dan masih bisa jalan ke Yaman dan Malaysia.

    Kini rakyat Indonesia benar-benar dibuat berpikir. Kalau Rizieq tidak bekerja, dari mana dia dapat uang untuk membiayai seluruh keluarganya yang dia bawa ke Arab Saudi?

    Omong kosong Arab Saudi menyediakan fasilitas hotel dan makanan selama 4 bulan ini. Seomong kosong ada Sari Roti gratis di Monas pada 212 lalu. bullshit!

    Demo sudah berakhir, pemerintah gagal digulingkan, namun “sang operator” itu tetap harus berdarah-darah dengan terus membiayai kebutuhan sang orator. Sambil terus menunggu momentum untuk berdemo lagi dan berusaha melengserkan pemerintah yang sah di Indonesia.

    Sejumlah tokoh temui Rizieq di Arab

    Bagaimanapun kita tidak bisa menyebut secara jelas nama “sang operator.” Namun jika melihat sejumlah tokoh politik yang harus jauh-jauh sowan ke Rizieq, sepertinya “sang orator” masih bagian dari mereka.

    Fadli Zon (Gerindra), Sali Segaf (PKS), Jazuli Juwaini (PKS) dan Amien Rais secara terang-terangan menemui Rizieq. Berfoto ria bersama.

    Sementara Anies Baswedan -gubernur DKI terpilih yang mendapat dukungan penuh dari Rizieq serta FPI- dan Prabowo Subianto dikabarkan ‘mendadak’ umroh.

    Perjalanan Jakarta ke Arab Saudi bukan perjalanan mudah. Selain jauh, perlu biaya besar, juga harus mengurus visa perjalanan. Menemui Rizieq tidak semudah menemuinya ke Petamburan. Pertanyaannya kemudian, jika tidak untuk urusan yang sangat penting, untuk apa mereka jauh-jauh datang ke Arab Saudi? Kalaupun untuk tanya kabar, bukankah bisa via telpon?

    Tentang apa yang mereka bicarakan, saya belum mendapat info. Tapi dari komentar dan pernyataan-pernyataan yang terkumpul sejauh ini, pada intinya jika ada peluang untuk demo lagi, berupaya melengserkan pemerintah lagi, sepertinya Rizieq akan pulang memimpin aksi.

    Saracen dan First Travel

    Saat Rizieq masih kabur dan bersembunyi di Arab Saudi dan harus dicukupi kehidupannya selama 4 bulan lebih (sampai hari ini), kelompok pembuat isu SARA dan hoax Saracen ditangkap polisi.

    Tak tanggung-tanggung, salah satu pengurus yang ada di web Saracen menyebutkan Eggi Sudjana adalah salah dewan penasehatnya. Eggi sendiri merupakan pengacara Rizieq.

    Salah seorang tim Saracen yang ditangkap adalah SRN, kelompok Tim Setia Prabowo 08 serta bagian dari MCA (Muslim Cyber Army). Dari aktifitas SRN, kita bisa melihat dia dan timnya berfoto di DPC Gerindra Cianjur. Hadir di posko pemenangan Kang Tatang, bakal calon Gubernur dari Gerindra, dan juga hadir di pemenangan Anies Sandi.

    Dengan cerita ini, tidak mungkin kita hanya menganggap Saracen adalah kelompok masyarakat yang bekerja membuat propaganda demi uang. Tapi kalau mau menyebut mereka adalah bagian dari Gerindra, kita masih perlu butuh waktu yang lebih banyak dan valid.

    Sebelum Saracen ditangkap, sebelum nama Eggi Sudjana muncul sebagai pengurus Saracen, Eggi sempat menjadi pengacara First Travel. Dalam kasus travel umroh yang gagal memberangkatkan 58.682 orang jemaah, Eggit sempat menyatakan bahwa pemerintah harus bertanggung jawab untuk refund dana korban First Travel.

    “kami (First Travel) tidak akan bertanggung jawab untuk memenuhi kerugian. Bagaimana mau bertanggung jawab, izinnya sudah dicabut, dia (pemilik First Travel) ditahan. Karena yang menutup itu pemerintah, maka yang bertanggung jawab adalah pemerintah,” kata Eggi.

    Di sisi lain, FPI yang berposisi ikut mendampingi korban First Travel mengatakan hal serupa, pemerintah harus bertanggung jawab. “yang terpenting pemerintah, yang berwenang, ikut turun menyelesaikan kasus ini, supaya kalaupun tidak bisa diberangkatkan, setidaknya refund 100 persen,” kata Ali Alatas yang mengklaim mewakili 1,300 jemaah.

    Unik, dari kubu pengacara First Travel dan kubu pengacara korban memiliki pandangan yang sama, pemerintah yang harus tanggung jawab. Haha

    Dan goal dari kasus penipuan First Travel adalah demo. Mereka mengancam akan mengerahkan 10 ribu orang untuk berdemo menuntut pemerintah melakukan refund, sebab ini sudah darurat nasional.

    Padahal kalau mau berpikir rasional, umroh bukanlah kebutuhan primer. Hanya dianjurkan bagi yang mampu melaksanakannya. Sehingga istilah darurat nasional itu pun omong kosong belaka.

    Namun belum sukses melangsungkan demonstrasi besar-besaran sesuai yang dijanjikan, Eggi Sudjana sudah mengundurkan diri sebagai pengacara First Travel. Dan beberapa hari setelahnya, nama Eggi Sudjana kembali mengudara, tapi bukan sebagai pengacara, melainkan sebagai pengurus tim Saracen, tim penebar hoax serta isu SARA.

    Cara yang benar

    Sampai di sini saya jadi teringat cerita informan Seword yang mengutip jawaban Presiden ketika diminta ‘damai’ dengan kelompok begundal ormas radikal. “Jawaban beliau, kalau sama-sama keluar uang, kenapa nggak kita keluarkan dengan cara yang benar?” Presiden memilih habiskan 76 miliar rupiah untuk biaya mengamankan demo, dibanding menyerahkannya kepada ormas begundal radikal. Dan itu sudah selesai.

    Sementara “sang operator” yang gagal melengserkan pemerintah, dan masih harus membiayai biaya operasional Rizieq selama di Arab, kini juga dibuat tersudut karena dirinya bisa saja diungkap tentang keterlibatannya dengan Saracen. Sebab untuk pagelaran 411 dan 212, selain dibutuhkan operasional, juga perlu propaganda yang terstruktur, sistematis dan massif. Sehingga dengan begitu “sang operator” juga harus menyumbat semua pintu informasi tersebut dengan biaya kompensasi.

    Sementara untuk melakukan demo besar-besaran lagi, mereka terus mencari momentum. First Travel coba dimanfaatkan untuk menggelar aksi demo, namun sepertinya para korban enggan turun ke jalan. Lagi pula itu tim propaganda medianya sudah ditangkap, dan orator utamanya sedang bersembunyi di Arab. Sehingga aksi demo besar-besaran pada pemerintah dan membuat kerusuhan seperti 98 sampai saat ini masih sulit terlaksana.… begitulah kura-kura.


    Penulis :    Alifurrahman     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Jalan Panjang Orkestra Politik: 212, Rizieq, Saracen Hingga First Travel Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top