728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 19 Agustus 2017

    #Warta : Ibaratkan Perindo, Demokrat Menjadi Lawan atau Kawan Tak Mempengaruhi Power Jokowi

    Kemeriahan  HUT RI yang ke-72  baru saja terlewati, tetapi banyak cerita menarik dibalik perayaan tersebut, dimana ada momen yang berbeda di Istana Negara yaitu konsep perayaan yang kental dengan budaya nusantara.

    Dibalik itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri bertemu. Respons positif  tentunya datang dari berbagai pihak terhadap situasi yang langkah ini, hal ini tenntunya membuat kita mulai menganalisa kemungkinan-kemungkinan yang terbuka lebar sebelum Pemilu dan Pilpres 2019 mendatang.

    Bukan saja kita rakyat jelata yang mulai meraba dan menerawang kemungkinan tersebut, tetapi hal yang sama jug dilihat oleh  elite PDIP atas pertemuan kedua tokoh tersebut.  Saya menyimak pernyataan Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan, Ahmad Basarah, yang menilai pertemuan SBY dengan Megawati  sebagi sebuah awal yang baik.

    Walaupun ia tak mau berspekulasi untuk peluang Demokrat merapat sebagai parpol pendukung pemerintah. Namun Basarah memberikan respon positif dimana PDIP terbuka bila Partai yang dipimpin SBY itu merapat ke barisan pemerintah.

    Tentunya kita harus menengok sejenak ke belakang, melihat secara detail apa penyebab Demokrat tak ikut mendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pilpres kemarin. Dalam hemat saya hal tersebut karena karena Jokowi berada di bawah kontrol PDI Perjuangan, partai yang selama ini selalu berbeda pandangan dengan Demokrat.

    Di era SBY, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati kerap mengkritik Presiden ke-6 SBY saat penerusnya itu memerintah. SBY yang berkuasa selama 10 tahun, selama itu pula Megawati melancarkan kritik-kritik pedas. Bahkan saking banyaknya, kritik Megawati ke SBY seakan tidak bisa lagi dihitung dengan jari.

    Namun, uniknya nama SBY selalau tak disebutkan secara langsung oleh Megawati, terkadang ia hanya menggunakan kata ‘pemerintah’ atau ‘pemerintahan sekarang’ untuk menggambarkan sosok  SBY  dalam setiap kritikanya.

    Bahkan yang paling saya ingat adalah  saat Megawati mengkritik pemerintahan SBY menjadikan rakyat seperti yoyo, permainan anak-anak dilempar sana-sini, terlihat indah tetapi hidup rakyat tak tentu arahnya, kira-kira begitu tajam kritik  Megawati ke SBY.

    Begitupun sebaliknya, selama ini yang sering menganggu pemerintah adalah Partai Demokrat dan Partai Gerindara. Jika di Gerindra ada Fadli Zon yang terkadang gagal dalam menggunakan logika disetiap kritikannya, di Demokrat justru sang mantan yang langsung mengambil posisi sebagai pengkritik tajam.

    SBY mengkritik keras pemerintahan Jokowi yang ketika itu  genap berusia dua tahun. Kritik SBY mulai dari janji Jokowi menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang dinilai SBY sekadar retorika, hingga perihal dominasi Tiongkok di Asia Tenggara termasuk di Indonesia.

    Saat itu SBY mendapat panggung kehormatan menyampaikan orasi ilmiah bertema ‘Membangun Ekonomi Indonesia Berbasis Benua Maritim serta Nilai-nilai Agama dan Budaya’ di forum itulah SBY sangat terlihat sangat keras dalam menyoroti pemerintahan Jokowi.

    Hubungan PDIP dan Demokrat  memang memanas pada kondisi-kondisi tertentu, kedua pimpinan partai tersebut saling serang, dalam posisi oposisi atau pemerintaham. Nah, jika Megawati sewaktu beroposisi tak pernah menyebutkan nama SBY secara langsung dalam kritikannya. Berbeda ketika tidak lagi beroposisi, Megawati langsung menyebut nama ‘SBY’ untuk menyampaikan kritiknya.

    Sama seperti SBY, Megawati  juga melancarkan kritik saat Megawati menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam acara bedah buku Revolusi Pancasila karya Yudi Latif.

    Saat itu, Megawati menagih janji SBY soal Hari Pancasila 1 Juni menjadi hari libur nasional. Megawati menyebut langsung menyebutkan nama SBY dengan sebutan  ‘Pak Presiden SBY’, karena janji itu terucap saat SBY menjabat sebagai presiden.

    Nah, letak perbedaan kedua partai ini adalah PDIP cenderung konsisten dalam melancarkan kritikan ketika kepada SBY, berbeda dengan Demokrat yang cenderung mencari aman.

    Begitulah irama Demokrat akan beda setelah bertemu Jokowi, berbeda pula ketika Demokrat bertemu Gerindra atau. Kendati demikian, kunci dari persaingan kedua partai ini sudah mencair saat peryaan hari kemerdekaan kemarin.

    Pertemuan SBY dan Megawati membuat banyak kalangan melihat bahwa PDIP dan Demokrat akan  mesra dalam Pilpres 2019 nanti. Tetapi perlu kita ingat bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa dari pertemuan ini, Partai Demokrat akan merapat ke Istana.

    Namun saya hanya ingin menganilisa bahwa SBY tentunya akan mencari aman ke  Jokowi, sebab “Jokowi efek” penting juga sebagai modal dalam mengahadapi Pemilu nanti. Sebagaimana irama yang selalu dimainkan oleh Demokrat selama ini selalu cari aman.

    IbaratkanPartai Perindo, bergabung atau tidak bergabungnya Demokrat dalam Pilpres 2019 nanti, tidak akan merubah sama sekali power Joko Widodo yang tak mampu dibendung oleh lawan-lawan yang selama ini hanya mengandalkan pemain-pemain lama.




    Penulis   :  Elsa Andriani   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Ibaratkan Perindo, Demokrat Menjadi Lawan atau Kawan Tak Mempengaruhi Power Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top