728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 30 Agustus 2017

    #Warta : Hallo Jendral, Freeport Tiarap Pada Presiden Ndeso

    Sebelum saya menuliska betapa membanggakannya Jokowi yang membuat Freeport bertekuk lutut, saya sugukan sedikit tulisan sebelumnya.

    Singkat saja, aku ingin menuliskannya…

    Semua mungkin sudah mengetahuinya bahwa PT. Freeport McMoran Indonesia (Freeport) merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi dari tahun 1967, dan tambang Grasberg, sejak tahun 1988, di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

    Dalam majalah perdagangan Mining In­terna­tio­nal, menyebut bahwa tambang emas Free­­port sebagai tambang yang ter­be­­sar di du­­­nia. Namun tambang yang begitu besar tersebut 90% saham dikuasai Amerika. Ironisnya justru kita rumahnya tapi kita banyak deritanya, khususnya saudara-saudara di Papua.

    PT Freeport McMoran Indonesia (Freeport) melakukan aktivitas penambangan di Papua yang dimulai sejak tahun 1967 atau selama 42 tahun. Adapun keuntungan dari kegiatan penambangan mineral freeport telah menghasilkan keuntungan luar biasa besar terhadap perusahaan milik bule tersebut. Akan tetapi lihatlah, apakah keuntungan itu juga dinikmati oleh bangsa Indonesia, terutama rakyat Papua?

    Menyedihkan bahwa selama ini justru keberadaan Freeport sangat didukung pemerintah. Dilihat dari Penandatanganan Kontrak Karya (KK) I pertambangan antara pemerintah Indonesia dengan Freeport pada 1967, yang kemudian menjadi landasan aktivitas pertambangan Freeport. 

    Bahkan kemudian UU Pertambangan Nomor 11/1967, yang disahkan pada Desember 1967 yang disahkan delapan bulan setelah penandatanganan KK, menjadikan KK tersebut menjadi dasar penyusunannya.

    Kontrak karya ini bertahun-tahun menjadikan Freeport semakin buas dalam melakukakan eksploitasi. Tentunya juga dalam hal ini barang mustahil jika tidak ada keuntungan dari yang berkuasa ataupun para elite.

    Disisi lain, masalah yang timbul dari aktivitas Freeport yang berlangsung dalam kurun waktu lama ini, diantaranya penerimaan negara yang tidak optimal dan peran negara/BUMN untuk ikut mengelola tambang yang sangat minim, serta dampak lingkungan yang luarbiasa. Kerusakan bentang alam seluas 166 km persegi di DAS sungai Ajkwa yang meliputi pengunungan Grasberg dan Ersberg. 

    Cadangan emas yang dikelola Freeport termasuk di dalam 50% cadangan emas di kepulauan Indonesia. Dari hasil luar biasa banyak tersebut, yang masuk APBN sangat sedikit, alias sepersekian dari hasil sesungguhnya, belum lagi korupsi yang dilakukan oleh para pejabat.

    Dan dari informasi yang di dapat, Freeport baru mengakui, bahwa mereka menambang emas pada tahun 2005, sebelumnya yang diakui hanya penambangan tembaga. Banyaknya emas yang ditambang selama 21 tahun, tidak pernah diketahui publik sebelumnya.

    Apakah kita pernah membayangkan. Bahwa hampir 700 ribu ton material dikeruk dan menghasilkan 225 ribu ton bijih emas setiap harinya. Jumlah ini setara dengan 70 ribu truk kapasitas angkut 10 ton berjejer sepanjang 700 km.

    Cukup, cukup sudah kita terus-terusan digerogoti seperti ini. Mari Bung rebut kembali.

    Di era Jokowi, kini Freeport ketar-ketir. Saya rasa dan pikir, bahwa yang mengatakan Jokowi tidak pro-rakyat justru orang-orang yang bermental budak, karena mau terus-terusan menjadi budak. Hanya di era Jokowi KK freeport akan diubah menjadi izin usaha. Ini bukan pro-rakyat lagi Bung, tapi lebih besar yaitu mengembalikan keberanian bangsa untuk mandiri untuk lebih bermartabat dan menjadi bangsa yang besar.

    Kurang lebih 6 bulan pihak Indonesia yang tentunya dipimpin oleh Jokowi menantikan jawaban titik temu mengenai divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia kepada Indonesia, pembangunan smelter dan perubahan kontrak karya menjadi izin usaha akhirnya disepakati oleh pihak Freeport.

    Bayangkan saja teman-teman betapa bahagianya Soekarno jika dia masih hidup. Karena salah satu cita-citanya terhadap papua dan Indonesia secaea luas, adalah SDA dikelolah oleh negeri sendiri, jika pun tidak maka Indonesia harus mendapat keutungan yang lebih besar. Cita-cita itu terpenuhi di era Presiden Ndeso.

    Kompas mengabarkan, bahwa perundingan antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia sudah menemui titik temu. Kedua pihak sudah menyepakati sejumlah poin dari perundingan tersebut.

    Chief Executive Officer (CEO) Freeport McMoRan Inc Richard Adkerson mengatakan, pihaknya sudah menyetujui pelepasan 51 persen saham PT Freeport Indonesia kepada Indonesia secara bertahap.

    “Kami telah sepakat untuk meningkatkan kepemilikan saham Indonesia dari 9,36 persen menjadi 51 persen,” ujar Adkerson dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (29/8/2017).

    Freeport, tutur Adkerson, sedang menyiapkan investasi 20 miliar dollar AS untuk menggenjot bisnisnya di Indonesia

    Ini bukan saja menjadi prestasi rezim saat ini, tetapi juga merupakan betapa cintanya Jokowi terhadap Indonesia yang kemudian mewujudkan apa yang sebenarnya menjadi cita-cita bersama para pejuang bangsa untuk seluruh rakyat Indonesia, yang adil merata dan BERDIKARI.

    Saya jadi ingat pidato kenegaraan Jokowi, kurang lebih Jokowi mengatakan “tak ada rakyat kelas 1, kelas 2, dan kelas 3, yang ada adalah rakyat indonesia dan semua setara. Coba kita lihat faktanya, dimana harga BBM mulai sama daru barat hingga timur Indonesia, perlakuan kota dan desa juga sama, pinggiran dibangun, dan kini Freeport direbut kembali.

    Dengan disepakatinya perundingan Freeport ini, kedaulatan Indonesia semakin gagah, rakyat papua setidaknya punya harapan dalam menuju perubahan, dan keuangan kita akan banyak pemasukan untuk pembangunan yang semua itu untuk kita nikmati bersama.

    Mungkin Alm. Soekarno sedang bertepuk tangan di atas sana, dan mengintruksikan melalui bunga mimpi di malam hari, supaya anak-anak bangsa bersiap memborong saham freeport di IHSG. Tentunya kabar tentang Freeport yang dulu ikut “menggulingkannya” namun sekarang bertekuk lutut, tiarap, nyungsep, dan ompong, gemetaran tak terkendali di bawah kaki Presiden Ndeso sudah sampai juga di atas sana. JAS MERAH, Indonesia!

    Ternyata untuk menaklukan Freefort tak perlu dengan jendral, apalah artinya jendral kalau hanya bisa mewek dan mangkrak serta obral retorika menyebut diri nasionalis. Cukup dengan presiden ndeso dan tukang kayu, Freeport tiarap.





    Penulis :  Losa Terjal      Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Hallo Jendral, Freeport Tiarap Pada Presiden Ndeso Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top