728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 25 Agustus 2017

    #Warta : First Travel Sudah Berangkatkan 73 Ribu Jemaah, Kenapa Jadi Gagal?

    Belakangan ini kita dihebohkan dengan kasus penipuan travel umroh, first travel. Sampai saat ini, sebanyak 58.682 orang terdaftar sebagai korban first travel. Mereka adalah calon jemaah yang sudah membayar paket promo sebesar 14.3 juta per orang dalam periode Desember 2016 hingga Mei 2017.

    Fantastis! Selain gagal memberangkatkan 58.682 orang calon jemaah umroh, First Travel diketahui masih berhutang kepada provider tiket penerbangan sebesar Rp 85 miliar. Mereka juga belum membayar tiga hotel di Mekkah dan Madinah dengan total Rp 24 miliar. Setidaknya, First Travel telah mencatatkan kerugian sebesar 848 miliar rupiah.

    Meskipun saya juga ikut menyayangkan atas terjadinya kasus gagal umroh, tapi di satu sisi jujur harus saya katakan First Travel ini luar biasa. Mereka berhasil mencatatkan angka-angka yang luar biasa. Tidak mudah untuk menggaet 58.682 orang calon jemaah hanya dalam waktu 6 bulan.

    Menurut pengalaman saya, untuk membangun sebuah perusahaan travel umroh, ada satu faktor kunci yang tidak banyak orang bisa membentuknya, sementara yang lain mewarisinya. Faktor tersebut adalah: kepercayaan.

    Di banyak tempat, silahkan diperhatikan, pengusaha atau pelaku bisnis travel umroh pada umumnya adalah kyai, anak kyai, atau minimal ustad. Sebab meskipun travel umroh sebenarnya adalah murni bisnis, tetapi sebagian besar masyarakat menganggap umroh akan lebih sempurna jika dilaksanakan bersama para kyai, ustad dan seterusnya. Untuk itu, jangan heran jika dengan fasilitas sama, orang akan lebih memilih travel umroh milik seorang kyai dibandingkan milik pengusaha atau orang-orang biasa yang bukan keturunan kyai atau ustad.

    Selain karena alasan merasa lebih afdol umroh dengan ustad –karena ada yang membimbing- juga karena alasan kepercayaan. Masyarakat kita jauh lebih percaya dengan ustad atau kyai. Minimal anak kyai lah. Sehingga jika suatu saat bermasalah atau tidak berangkat, mereka bisa datang mengadu.

    Sang kyai akan sangat berhati-hati, karena jika ada masalah di kemudian hari, dia tidak hanya akan dimintai ganti rugi, tetapi juga kehilangan wibawa serta kepercayaan masyarakat.

    Dengan iklim bisnis travel umroh yang seperti ini, muncul First Travel, orang biasa –karena setau saya bukan keturunan kyai atau memiliki pesantren- tetapi mendapat kepercayaan yang luar biasa.

    Pesona First Travel yang memberikan paket murah sebesar 14.3 juta rupiah per orang berhasil menyilaukan banyak nama besar di Indonesia. Mahfud MD setidaknya pernah mengajak 1,250 orang untuk umroh bersama First Travel. Selain itu, Syahrini bersama 18 orang keluarganya, Ria Irawan sampai almarhumah Julia Perez pernah umroh bersama First Travel kelas VVIP.

    Setelah saya cari tahu tentang sejarah First Travel, rupanya ada satu momentum yang membuat First Travel berjalan dan kemudian menjadi sangat besar. Suatu kesempatan Andika dan istrinya Anisa sempat membuka kios pulsa, jualan burger hingga sprei dengan modal 2 juta rupiah pada tahun 2008. Namun usaha itu gagal sehingga membuat Andika menggadaikan rumah peninggalan ayah mertuanya, dan mendapatkan 50 juta rupiah. uang ini digunakan untuk berbisnis lagi, namun ujungnya gagal juga. Sehingga akhirnya bank menyita rumah tersebut dan Andika mendapat uang kelebihan sebesar 10 juta rupiah.

    Dari uang 10 juta rupiah inilah kemudian Andika memutuskan untuk membuka CV First Karya Utama (First Travel) yang bergerak di bidang biro perjalanan. Andika dan Anisa memulai usahanya dengan menelpon nomor kontak yang ada di Yellow Pages untuk menawarkan jasa biro perjalanan.

    Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil ketika 100 orang karyawan Bank Indonesia tertarik untuk umroh bersama First Travel. Setelah itu mereka kembali mendapatkan rombongan umroh dari karyawan Pertamina.

    Pada 2012, First Travel berhasil memberangkatkan 900 orang jemaah. Setahun setelahnya 3.600 orang. Dan di tahun 2014, setidaknya 15.700 jemaah berangkat umroh. Di tahun 2015 angkanya semakin naik, 38.000 jemaah berhasil diberangkatkan.

    Di tahun 2014, menurut pengakuan mereka, omset First Travel dikabarkan mencapai 30 juta dollar, naik menjadi 50 juta dollar di tahun berikutnya dan kemudian cerita mereka membuat banyak orang terinspirasi, termotivasi untuk menjadi pengusaha dengan modal pas-pasan dan nekat.

    Namun kini di tahun 2017, Andika dan Anisa harus ditangkap polisi karena dugaan penipuan lewat jasa travel umrohnya. Miris sekali.

    Seharusnya First Travel bukan penipuan

    Bagi saya, apa yang dilakukan First Travel sebenarnya adalah hal biasa dan banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia, terutama start up. Selalu ada harga miring yang ditawarkan. Selalu ada subsidi untuk menaikkan brand agar dikenal masyarakat.

    Coba kita lihat transportasi online pada tahun pertamanya, mereka menetapkan harga yang sangat tidak masuk akal, kemurahan. Memang hanya sepuluhan ribu pertransaksi, tapi jika dikalikan dengan total aktifitas selama sebulan, jumlah subsidi yang harus dibayarkan oleh perusahaan start up kepada para driver tentunya juga milyaran rupiah.

    Setelah produk atau jasa dikenal, barulah subsidi dicabut perlahan-lahan. Ketidak pahaman akan model bisnis ini membuat beberapa driver sempat beberapa kali berdemo menjerit karena mereka tidak bisa meraup untung sebanyak sebelumnya. Sampai akhirnya nanti perusahaan bisa menerapkan tarif yang dapat menguntungkan.

    Bedanya adalah, First Travel sepertinya menggunakan subsidi untuk konsumen pertamanya dari dana setoran jamaah setelahnya. Sehingga ketika jamaah yang harus diberangkatkan jauh lebih banyak dari yang baru mendaftar, jatuhlah sistem subsidi paksa tersebut, sehingga gagal berangkat seperti sekarang.

    Kesalahan selanjutnya adalah, First Travel sepertinya lupa kalau mereka harus segera menaikkan tarifnya ke harga ideal agar mendapat untung. Mungkin juga mereka terlalu nyaman dengan kemeriahan puluhan ribu jemaah, dan berpikir masih akan mendapat jemaah yang lebih banyak lagi setelah ini.

    Jika First Travel sudah menaikkan harga paket umrohnya di tahun ketiganya, 2015, mungkin keuangan perusahaan ini bisa perlahan-lahan normal dan plus di tahun 2018. Hanya saja mungkin jumlah jamaah yang mendaftar akan jauh berkurang, tidak akan tumbuh 100% setiap tahunnya.

    Gaya hidup mewah Andika dan Anisa

    Setelah Andika dan Anisa ditahan, muncul foto-foto dengan baju dan tas yang serba mahal, di luar negeri, di negara-negara yang mengharuskan setiap pengunjungnya mengeluarkan dana besar. Diungkap juga istana mewah milik Andika dan Anisa, mobil-mobil mewah, butik sampai restoran di Inggris.

    Saya pikir ini juga kesalahan fatal. Rasanya tak ada pimpinan start up yang hidup mewah bak raja dan ratu, keliling dunia dengan gaya VIP, sementara usahanya masih minus.

    Kehidupan hedonis, terlena dan lupa menaikkan tarif paket. Lalu ketika akhirnya jumlah calon jemaah mulai berkurang, maka tak ada lagi yang bisa diberangkatkan, sebab dana setoran jemaah baru sudah tidak mencukupi untuk memberangkatkan jemaah lama dengan subsidi.

    Sangat disayangkan. Sekitar 73.000 jemaah sudah pernah diberangkatkan oleh First Travel sejak awal berdiri. Brand nya sudah cukup bagus di pasaran. Jaringan mulai luas. Tapi karena kesalahan pengelolaan, First Travel akhirnya tumbang.

    Semoga cerita ini bisa jadi pelajaran penting bagi kita semua dalam mengelola keuangan dan bisnis yang sedang dijalankan…Begitulah kura-kura.



    Penulis :  Alifurrahman     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : First Travel Sudah Berangkatkan 73 Ribu Jemaah, Kenapa Jadi Gagal? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top