728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 16 Agustus 2017

    #Warta : Fahri Prihatin Budaya Baca Menurun, Namun Dia Tidak Prihatin Dengan Menjamurnya Budaya Nyinyir

    Orang terkadang terlalu mudah melihat kesalahan orang lain, merasa prihatin dengan kondisi yang sedang terjadi, namun anehnya dia tidak prihatin dengan kondisi buruk yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Bagus kalau dia ikut prihatin dengan kondisi buruk yang sedang terjadi, namun alangkah indahnya jika dia prihatin dulu terhadap kondisi buruk yang diakibatkan oleh dirinya.

    Fahri Hamzah mengaku prihatin dengan melunturnya Budaya Baca. Dia juga menyoroti perkembangan perbukuan di Indonesia. Dia menyebut saat ini semakin sulit mendapatkan buku-buku bagus di toko buku.

    Untuk meningkatkan budaya literasi, lanjutnya, harus dimulai sejak dini. Anak-anak mesti diberikan buku menarik berkualitas. Jangan malah diberikan gadget atau alat elektronik yang membuat anak malas membaca.

    “Budaya membaca harus digalakkan karena saat ini sudah tergerus tradisi chatting dan menonton. Saya prihatin melihat kondisi bangsa ini yang tradisi curhat dan menghayalnya lebih kuat. Nah, budaya negatif ini harus diperangi,” tegasnya.

    Fahri terlihat sangat bijak sekali mengomentari menurunnya budaya baca. Memang tidak bisa dipungkiri, sejak era gadget meroket tajam, orang-orang memang lebih senang bercengkerama dengan gadget dibanding dengan buku. Mereka lebih senang berselancar dalam media sosial dibanding mengarungi lautan ilmu dalam sebuah buku. Kali ini saya seperti halnya Fahri yang iku prihatin dengan menurunnua budaya baca.

    Namun sebetulnya ada satu budaya yang sangat mengkhawatirkan namun tidak direspon oleh Fahri, yaitu budaya nyinyir. Budaya nyinyir semakin menjamur dan menkhawatirkan apalagi nyinyir kepada pemerintah. Betapa sering orang nomor satu di Indonesia diinjak-injak harga dirinya oleh masyarakat yang belum punya kontribusi apapun untuk Indonesia.

    Tidak segan-segan presiden Jokowi dihina-hina melalui sebuah meme dan status. Mereka tidak sedikit pun punya rasa hormat terhadap presiden yang telah memperbaiki kondisi Indonesia. apa budaya seperti ini harus dibiarkan begitu saja?

    Budaya nyinyir ini tidak mungkin tiba-tiba ada dan pasti ada yang menyebabkan. Budaya nyinyir ini belakangan semakin santer karena faktanya banyak pejabat-pejabat yang sering nyinyir terhadap presiden. Sepertinya hanya di era Jokowi, anggota DPR berani kurang ajar terhadap presiden.

    Kebetulan Jokowi hanya membiarkan setiap nyinyiran dan buliyan yang dialamatnya sendiri sehingga membuat anggota DPR yang hobi nyinyir kepada Jokowi tidak pernah merasa jera. Andai Jokowi seperti Suharto, maka hampir pasti tidak akan ada anggota DPR yang berani nyinyir.

    Keberanian anggota DPR nyinyir kepada Jokowi nampaknya menular ke masyarakat. Masyarakat yang kebetulan tidak suka dengan Jokowi menjadi ikutan-ikutan nyinyir kepada Jokowi. Mereka tak merasa takut sedikit pun karena anggota DPR yang suka nyinyir kepada Jokowi juga tidak terkena dampak apapun. Mereka terus-menerus nyinyir kepada Jokowi.

    Siapa saja anggota DPR yang hobi nyinyir dan menjadi pencetus budaya nyinyir di Indonesia?

    Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya pantas mendapat gelar pencetus budaya nyinyir di Indonesia. Keduanya sangat hobi nyinyir kepada Jokowi baik di dunia nyata maupun di media sosial. Karena mereka lah, masyarakat ikut-ikutan untuk nyinyir kepada Jokowi. Karena merekalah, masyarakat tidak memiliki rasa hormat kepada Jokowi.

    Keduanya memang beruntung menjadi anggota DPR di saat preidennya Jokowi. Mereka bisa melampiaskan nafsu nyinyirnya dengan puas. Jokowi tak pernah sekalipun mempermasalahkan nyinyiran mereka karena memang tidak level. Waktu Jokowi lebih berharga dari pada sekedar mengomentari nyinyiran keduanya. Namun tidak bisa dipungkiri, hobi nyinyir mereka telah menyebar bagai virus ke tengah-tengah masyarakat.

    Tak sekalipun Fahri atau Fadli merasa prihatin dengan menjamurnya budaya nyinyir kepada presiden. Bahkan bisa jadi mereka bangga karena telah menjadi pencetus dan pelopor budaya nyinyir.

    Padahal jika dibiarkan, budaya nyinyir akan sangat berbahaya. Indonesia terkenal dengan negara yang penduduknya punya sopan santun yang tinggi. Jika sekarang banyak masyarakat yang nyinyir kepada Jokowi, maka sebutan negara dengan penduduk yang memiliki sopan santun yang tinggi bisa hilang. Nyinyir bukanlah budaya masyarakat Indonesia.

    Selain itu, nyinyiran masyarakat juga bisa menggangu fokus kerja Jokowi. Jokowi yang harus fokus bekerja justru harus diganggu dengan nyinyiran yang tidak penting. Hobi nyinyir juga bisa memicu permusuhan dan perseteruan antar masyarakat. Sangat ironis karena tak sekalipun Fahri prihatin dengan kondisi ini.



    Penulis :   Saefudin Achmad   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Fahri Prihatin Budaya Baca Menurun, Namun Dia Tidak Prihatin Dengan Menjamurnya Budaya Nyinyir Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top