728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 31 Agustus 2017

    #Warta : Fahri Hamzah Makin Absah Tidak Memperhitungkan Prabowo Sebagai Penantang Kuat Jokowi

    Mari simak sejenak kata-kata Fahri Hamzah di atas. Simak sewajarnya saja, tidak perlu membayangkan gerak bibir dan dimensi ruangnya. Dicatat saja kata-kata ini: ‘kalau tidak ada yang kuat dari Jokowi’. Makin absah bahwa dia secara implisit mulai tidak memperhitungkan keberadaan Prabowo sebagai penantang serius Jokowi untuk Pilpres 2019.

    Tentu saja, gelagat Fahri makin hari makin aneh ketika secara sistematis mengeluarkan nama Prabowo Subianto dari kedua bibirnya. Mestinya hanya nama Prabowo yang pantas keluar secara masif dari mulut Fahri. Sayang sekali, hal ini makin jarang terjadi. Secara terstruktur Prabowo pun mulai dihina secara halus kalau sebenarnya tidak kuat untuk menantang Jokowi.

    Penghinaan terstruktur dari Fahri yang terkesan halus ini sebenarnya cukup menohok. Prabowo sebagai laki-laki oleh Fahri diragukan kekuatannya. Kelancangan Fahri ini sebenarnya sudah lama. Kepada Kompas.com pada (6/8/2017) pernah berujar demikian:

    “Tantanganya untuk parpol lain, relevan enggak jadi pesaing Pak Jokowi? Bawa ide baru apa? Pak Jokowi sudah kelihatan bangun sana, bangun sini. Sekarang mau datang, apa idenya?” kata Fahri. Dan, lebih sadis lagi terlontarlah kata-kata ini dari bibir Fahri: “Kalau tidak kuat, ya mendingan Pak Jokowi.”

    Soal isu kekuatan Prabowo benar-benar digoreng oleh Fahri Hamzah. Siapapun tahu, bahwa ambisi Prabowo untuk menjadi Presiden belum padam. Kemenangan Anies-Sandi jelas memberi harapan baru bagi Ketua Umum Partai Gerindra ini. Oleh karena itu, dapat dibayangkan alangkah sakit hati Prabowo ketika oleh Fahri dinilai tidak kuat. Lontaran kata-kata Fahri patut disayangkan karena tanpa ada konfirmasi dari Titiek Soeharto, mantan istri Prabowo.

    Semestinya, sebagai karip Fadli Zon, Fahri Hamzah harus konsisten menjunjung Prabowo. Citra Prabowo sebagai laki-laki kuat harus dibangun. Kalau perlu kuda-kuda di Hambalang dilibatkan bagi pencitraan kekuatan Prabowo sebagai laki-laki. Apalagi para penunggang kuda dalam berbagai kisah identik dengan laki-laki perkasa. Kalau dirasa kuda Hambalang masih kurang menandakan keperkasaan, Fahri Hamzah tidak perlu khawatir karena masih ada kuda liar dari Sumbawa.

    Atas dasar ini, sekedar saran untuk Fahri, jangan lagi ada kata-kata begini: “Kalau tidak kuat, ya mendingan Pak Jokowi.” Termasuk kata-kata yang ini: “… kalau tidak ada yang kuat dari Jokowi, ya Jokowi lagi yang menang.” Dan yang ini: “Bisa jadi Jokowi menang jika tak ada penantang yang mumpuni.”

    Tolong, kata-kata itu diharamkan keluar dari bibir bergravitasi. Kalau perlu segera mintakan stempel haram dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

    Selain itu, rasanya tidak perlu juga mengkhawatirkan Presiden Joko Widodo berpindah haluan dari PDIP (partai asal Jokowi) ke Golkar. Sekalipun, kekhawatiran Fahri masuk akal juga. Seperti diketahui bahwa saat ini Golkar merupakan partai yang terus-menerus memberikan dukungan kepada Jokowi untuk maju kembali ke Pilpres 2019.

    Namun demikian, demi Prabowo sebaiknya Fahri fokus saja pada pencitraan junjungannya. Biarkan Golkar dukung Jokowi tidak perlu khawatir dengan PDIP. Toh PDIP juga bukan partai gurem dan kemarin sore. Soal berjuang menegakkan demokrasi yang sehat, PDIP jelas sudah berpengalaman. Kekhawatiran Fahri ini disampaikan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (30/8/2017), seperti diberitakan detik.com.

    Si Fahri, menurut saya juga tidak perlu melempar opini bahwa slogan ‘kerja, kerja, kerja’ yang dipakai Presiden Jokowi sebagai ideologi Golkar. Bagi Jokowi, kerja adalah ibadah. Jokowi jelas ingin mengkritik keras orang-orang sok gamis yang menganggap korupsi adalah ibadah. Ambil contoh saja korupsi dana pengadaan Alquran, korupsi dana ibadah umrah. Para koruptornya kelihatan gamis penuh ungkapan syar’i tetapi ibadahnya adalah korupsi. Semprul, kan?

    Kembali pada soal kekhawatiran Fahri, hingga sok jadi penasihat PDIP sepertinya tidak lebih dari akal-akalan tidak berkelas. Mencoba mengadu PDIP dengan Golkar, supaya terkesan Golkar merebut kader terbaik PDIP. Ah, itu mah urusan sepele dan tidak bertele-tele. Tidak seribet mengurusi tipuan syar’i ala First Travel.

    Akhirnya, tetap diharapkan kejeniusan bibir Fahri untuk terus memoles Prabowo Subianto menjadi penantang kuat Jokowi pada 2019.



    Penulis :    Setiyadi RXZ     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Fahri Hamzah Makin Absah Tidak Memperhitungkan Prabowo Sebagai Penantang Kuat Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top