728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 24 Agustus 2017

    #Warta : Bukan Jama’ah, Istri Menag Tak Pernah Diajak Berhaji

    Menjadi istri atau pun keluarga pejabat sering diidentikan dengan kemudahan untuk mendapatkan berbagai fasilitas. Salah satunya bisa ikut suami kalau kunjungan ke luar negeri, walaupun terkadang pakai ongkos sendiri. Karena memang ada aturan seperti itu.

    Ketika musim haji tiba, maka orang akan berpikir akan mudah bagi istri Menteri Agama menunaikan ibadah haji. Tapi, percaya atau tidak, meski menjadi istri dari Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin, bagi Trisna Willy Lukman justru tidak bisa pergi haji setiap tahun seperti yang dibayangkan banyak orang.

    Mungkin banyak yang terkejut. Tapi buktinya memang demikian. Bukti itu pun kemudian dibeberkan Bu Willy dalam akun facebooknya. Tulisan ini dia publikasikan karena selalu mendapat pertanyaan yang sama dari teman-teman bahkan keluarganya setiap bulan haji tiba.

    Berikut tulisannya :

    Tahun ini gak ikut haji ya?

    Enak ya jadi istri Menag tiap tahun bisa berangkat haji..

    Sejak LHS jadi Menag udah berapa kali ikut haji?

    Anak-anak gak diajak haji sama ayahnya?

    Kenapa gak berangkat haji? Menag bertugas ke sana kan capek, istri harus dampingi dong, minimal pijetin suami kalo capek, halaaah…

    Itulah aneka pertanyaan dan pernyataan dari teman dan kenalan (bahkan keluarga) setiap tahun kalau musim haji tiba.. dan masih banyak pertanyaan lain lagi

    Pertanyaan yang sama setiap tahun hehehe

    Mungkin perlu saya klarifikasi disini ini bahwa saya memang #TidakPernahikut berangkat haji ke tanah suci.

    Sepele saja, karena saya gak bisa jawab pertanyaan dari Menag : Kalau kamu berangkat, berangkat sebagai apa?

    Yang berangkat ke tanah suci saat musim haji hanya #Jamaah dan #Petugas.

    Dan kamu gak masuk dua kriteria itu, katanya

    Sebagai Pendamping? Jawab saya sambil cari celah (namanya juga usaha ya hahaha).

    Jawabannya telak : Amirul hajj sudah didampingi sama Wakil2 Amirul hajj, mereka perwakilan dari Ormas2 Islam.

    Dan didalam aturan juga tidak tertulis ada istri sebagai pendamping.

    Saya tanya lagi, kalau tugas ke LN seandainya istri ikut (sesuai tupoksi) dan bayar tiket sendiri kenapa dibolehkan, sama saja kan?

    Oooh bedaaaa…

    Kalau ikut ke LN walau dengan biaya sendiri, tidak ada orang yang dirugikan..

    Kalau kamu ikut berangkat haji, ada orang yang dirugikan, karena kamu sudah memakai 1 nomor porsi (kuota) yang seharusnya milik orang lain, dzolim itu… Waduuuuuh

    Perlu diketahui jamaah haji yang mengantri itu banyak sekali, jutaan orang. Masa tunggupun cukup lama, mulai dari tahunan.. belasan tahun.. bahkan puluhan tahun..

    Ada salah satu daerah di Sulsel yang masa tunggu haji-nya 42 tahun…

    Amboiii lamanya, Semoga mereka yang antri berkesempatan untuk berangkat ke tanah suci.

    Jadi itulah kenyataannya..

    Kejadian yang sebenarnya..

    Saya tidak berhaji karena #bukanjamaah dan #bukanpetugas, seperti kata suami saya

    Gak punya nomor porsi dan gak boleh mengambil hak orang lain..

    Baiiiiiklaaah kalau begitu…

    NB :

    Amirul hajj, Wakil Amirul Hajj, Pejabat Kemenag yang bertugas, Anggota dewan bertugas memantau haji, (yang saya tahu) sejak tahun 2014 tak satupun yang membawa pendamping/istri. Kebayang kan berapa nomor porsi yang bisa diselamatkan buat jamaah?

    Membaca tulisan ini ada beberapa pelajaran yang bisa diambil. Menjadi istri atau pun keluarga pejabat negara itu tidak bisa seenaknya meminta fasilitas untuk kepentingan pribadi. Apalagi bila fasilitas yang diinginkan itu menyangkut hak rakyat kebanyakan.

    Ibadah haji dalam Islam merupakan ibadah wajib dijalaksanakan jika memang mampu. Karena ibadah ini merupakan salah satu dari rukun Islam, maka dengan segala upaya banyak umat yang ingin melaksanakan ibadah ini.

    Memang benar seperti yang dituliskan oleh Bu Willy, jutaan orang masuk dalam daftar waiting list untuk menunaikan rukun Islam ke-lima ini setiap tahunnya. Ibu saya kebetulan tahun ini berangkat haji. Dia menunggu setidaknya enam tahun lebih untuk bisa melaksanakan tawaf di Ka’bah ini. Sebuah penantian yang sangat panjang bagi saya. Enam tahun saja sudah lama, apalagi harus menunggu sampai 42 tahun seperti yang ditulis Bu Willy.

    Kedua, dalam tulisan ini tergambar bagaimana amanahnya Menag dalam menjalankan tugas. Rayuan sang istri pun tak bisa menggoyahkannya. Sebenarnya mudah saja baginya untuk mengajak sang istri beribadah haji. Tapi seperti yang ditulis Bu Willy, ibadah haji ada kuotanya. Jika istrinya diajak, maka akan ada satu orang yang tergeser yang mungkin semestinya berangkat haji tahu ini. Ada hak orang lain yang diambil. Dan itu memang zholim.

    Satu hal lagi yang patut dijadikan renungan, ibadah haji merupakan panggilan Allah. Meskipun kita sudah mempersiapkan segalanya dari mulai mendaftarkan diri, menunggu sampai tahun keberangkatan, kemudian melunasi seluruh biaya yang ada dan sampai waktunya kita masuk daftar jama’ah haji yang berangkat tahun ini, toh belum tentu kita benar-benar dipanggil oleh Allah ke Baitullah, bisa jadi kebarangkatan itu batal.
    Jadi, sabar ya Bu Willy, saatnya pasti akan tiba kok berangkat ibadah haji lagi.



    Penulis :  Adithia Renata Rakasiwi   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Bukan Jama’ah, Istri Menag Tak Pernah Diajak Berhaji Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top