728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 21 Agustus 2017

    #Warta : Bendera Dilecehkan, Lain Jokowi, SBY, Soekarno Saat Nasionalisme Indonesia Diinjak

    Presiden Jokowi berteriak lugas: menunggu permintaan maaf resmi Malaysia. Lain dengan SBY. Jokowi lebih seperti Bung Karno dalam mengawal bangsa. Tak heran Yasonna Laoly dikirim ke Malaysia, juga Puan Maharani, juga Menpora. Mereka menuntut kasus ini tuntas diselesaikan dalam tingkatan Negara, bukan level panitia Sea Games. Permohonan maaf itu pun harus dengan stempel resmi Malaysia.

    Oleh karena itu Presiden Jokowi bertindak tegas. Jokowi bukan seperti SBY yang lembek. Ketika tari Pendet, Reog Ponorogo, gamelan, batik diklaim milik Malaysia, maka SBY diam saja. Kini, Indonesia dengan Presiden Jokowi bertindak tegas.

    Jika ini dibiarkan, akan merembet melecehkan bangsa dan negara Indonesia. Ganyang Malaysia jilid II pun jika Bendera Indonesia dilecehkan Indonesia akan siap. Perjuangan Indonesia mendapatkan Merah Putih begitu sakral dan berat perjuangan hebat.

    Sesungguhnya, kasus bendera terbalik dan penghilangan prestasi Indonesia sebagai juara Sea Games, bukan hal yang terpisah dari sentiment anti Indonesia. Juga tentang krisis kepercayaan Malaysia melihat bangsa lain dan bangsanya sendiri.

    Tak hanya bendera terbalik, bendera Indonesia di susunan medal tally ditukar dengan Thailand. Di koran Malaysia juga demikian. Tidak sengaja? Tidak mungkin.  Semuanya adalah rangkaian melecehkan Indonesia, Itu terkait dengan sejarah mereka sendiri.

    Rasis dan Intoleran

    Sesungguhnya Malaysia adalah bangsa yang mirip sifat dan kelakuaannya dengan rakyat Indonesia kelompok bumi datar, daster Arabia, celana cingkrang, dan sumbu pendek. Kelas itu. Pun Malaysia sangat rasis, intoleran, tukang mencari kambing hitam (space goat) adalah tabiat asli asli puak Melayu.

    Malaysia saking rasis dan intolerannya melarang nama Allah dipakai di terbitan Al Kitab dalam bahasa Melayu. Malaysia menyebut kata Allah khusus bagi Muslim. Padahal Allah sudah ada sejak zaman sebelum Islam datang di Arab sana. Ini kebodohan tidak ketulungan Malaysia.

    Lalu film-film seperti yang di Indonesia dan dunia Arab sekali pun bebas tayang, di Malaysia dilarang. Penyebabnya pun lucu khas kaum bumi datar. Babe, Miriam Margolyes cerita tentang babi dilarang film universal studios, alasannya karena babi haram. Pulp fiction, karena dianggap porno, padahal tidak. Jaws kartun, karena sutradanya Steven Spielberg Yahudi.

    Berikutnya Noah, Darren Oronovsky dianggap syiar agama Yahudi. Paranormal Activity karena syirik dan musyrik. Prince of Egypt,animasi, karena tidak Islami. Austin Powers: The Spy Who Shagged Me dianggap porno. Juga Fifty Shades of Grey dianggap porno. Bruce Almighty mirip kekuasaan Tuhan, syirik. Schindler’s List karena propaganda Yahudi.

    Penyebab Malaysia Benci Indonesia

    Pertama, warga Malaysia sejatinya banyak yang berasal dari Nusantara. Yang pindah ke Malaysia sejak dulu adalah kalangan warga kelas dua atau tiga sejak zaman Sriwijaya sampai zaman Indonesia merdeka. Para warga kelas dua atau tiga yang terbuang itu beranak-cucu.

    Namun gen asli sebagai budak dan paria tetap mengalir. Malaysia bahkan mengimpor raja-raja dari Indonesia atau Nusantara karena saking tidak memilikinya stock manusia yang pantas menjadi raja di Malaysia zaman dulu. Pun yang dikirimkan sebagai raja di sana juga raja buangan yang tidak mendapat tempat di Nusantara.

    Sampai setelah Perang Dunia I dan PD II, tetap mengalir banyak imigran, termasuk gelombang dari India dan China. Mulanya di tahun 1950-an sampai 60-an, imigrasi ke Malaysia adalah hal lumrah. Sampai setelah Konfrontasi Ganyang Malaysia 1963 pun masih banyak kaum paria kelas dua atau tiga berimigrasi ke Malaysia. Pondok pesantren, sekolah, madrasah, mirip dengan di Indonesia.

    Kedua, Malaysia secara sengaja merusak Indonesia. Sentimen anti Indonesia memang merebak di Malaysia. Indonesia adalah space goat bagi Malaysia. Semenjak pada dekade 80-an Indonesia mengirimkan pekerja domestik, sejak saat itu puncak penghinaan mulai muncul. Indonesia disebut Indon di Malaysia.

    Sikap ini dibentuk karena keaslian mereka sebagai bagian keturunan ketiga atau keempat gelombang imigran kelas paria dan kelas tiga yang ingin terlepas dari stigma para anak keturunan warga kelas bawah yang terbuang. Mereka ingin tampil melebihi tuannya, melebihi para yang terhormat di negeri asal: Indonesia. Caranya? Melecehkan.

    Kebencian ini semakin berkembang. Lihat saja status banyak orang yang membenci Indonesia. Salah satunya yang lucu adalah tulisan Ten Things That I Hate Indonesia. Googling saja, lucu isinya dari mulai penyakit, korupsi, pernikahan, bencana, penyakit, sekolah, Tamara Bleszynski, kemiskinan, yang bukan urusan orang Malaysia.

    Ketiga, ingatan sejarah tidak adanya orang besar asal Malaysia yang diakui dunia. Malaysia tidak memiliki pahlawan karena tidak memiliki pejuang. Bangsa Malaysia adalah bangsa yang selalu di bawah ketiak bangsa lain.

    Malaysia negeri lemah tidak pernah berperang. Pun kemerdekaan juga hadiah Inggris. Perang Konfrontasi dengan Indonesia pun yang maju SAS dan tentara Inggris dan Australia. Tidak ada satu pun tentara Malaysia ikut perang di garis depan. Ngumpet takut. Bangsa pengecut.

    Keempat, ingatan ketakutan dengan Bung Karno. Bung Karno yang gemilang, dengan nama besarnya menggetarkan Malaysia. Hanya manusia seperti Bung Karno ini yang sangat diingat sebagai orang besar yang sangat disegani oleh Malaysia.

    Ganyang Malaysia II

    Malaysia pun tidak bisa seenaknya karena titisan ketegasan Bung Karno mengalir dalam darah bangsa Indonesia, terlebih dalam diri Presiden Jokowi. Kalau perlu, di kemudian hari, Malaysia akan mendapatkan kembali pidato Bung Karno yang akan dibacakan oleh Jokowi.

    Kenapa Ganyang Malaysia muncul? Karena Pancasila dan Garuda diinjak-injak di Malaysia. Kini, ketika Merah Putih dilecehkan, maka Ganyang Malaysia II pun menjadi opsi di kemudian hari jika kelakuan Malaysia mencederai nasionalisme Indonesia. Inilah pidato Bung Karno yang terkenal dan menggetarkan Malaysia sampai sekarang.

        Kalau kita lapar itu biasa
        Kalau kita malu itu djuga biasa
        Namun kalau kita lapar atau malu itu karena, Malaysia kurang adjar!

        Kerahkan pasukan ke Kalimantan, kita hadjar tjetjunguk Malayan itu!
        Pukul dan sikat djangan sampai tanah dan udara kita diindjak-indjak oleh Malaysian keparat itu

        Doakan aku, aku bakal berangkat ke medan djuang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang enggan diindjak-indjak harga dirinja

        Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tundjukkan bahwa kita masih memiliki gigi dan tulang jang kuat dan kita djuga masih memiliki martabat

        Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
        Ganjang… Malaysia
        Ganjang… Malaysia
        Bulatkan tekad
        Semangat kita badja
        Peluru kita banjak
        Njawa kita banjak
        Bila perlu satu-satu!

        Soekarno

    Jadi, Jokowi akan tetap tegas terkait nasionalisme ini. Tidak seperti SBY yang lemah. Jokowi mewarisi ketegasan Bung Karno dan eyang saya Presiden Soeharto. Malaysia harus meminta maaf secara resmi kepada bangsa Indonesia terkait Merah Putih. Salam bahagia ala saya.


    Penulis  :  Ninoy Karundeng  Sumber :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Bendera Dilecehkan, Lain Jokowi, SBY, Soekarno Saat Nasionalisme Indonesia Diinjak Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top