728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 30 Agustus 2017

    #Warta : Apa Yang Salah Hingga Susah Mendirikan Gereja Sebagai Rumah Ibadah?

    “Dari kasus 2012 sampai 2017 rata-rata penolakan gereja.”
    _Kombes Pol Merdisyam_

    Itulah sepenggal kalimat dari Direktur Intelijen dan Keamanan Polda Metro Jaya Kombes Pol Merdisyam dalam diskusi bertajuk Peran Polri dalam Melindungi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Wilayah Hukum Polda Metro Jaya dan Polda Banten di Jakarta, Selasa (29/8/2017). Menyimak kata-kata tersebut, sebuah tanya layak mengemuka. Apa coba yang salah dengan gereja sebagai rumah ibadah sehingga pendiriannya kerap ditolak mentah-mentah?

    Kombes Pol Merdisyam memberi contoh, konflik yang baru saja terjadi. Pembangunan gereja Santa Clara di Bekasi. Pendirian gereja tersebut menghadapi berbagai perlawanan dari masyarakat setempat selama bertahun-tahun. Puncaknya, sekelompok masyarakat melakukan perlawanan ke polisi yang berjaga di sekitar gereja. Karena perlawanan itu, polisi melakukan tindakan tegas.

    Pertanyaan tetap sama. Mengapa mendirikan rumah ibadah hingga memicu konflik berkepanjangan? Bukankah tujuan orang beragama mendirikan rumah ibadah untuk menyembah Allah? Mengapa untuk menyembah Allah dipersulit? Apa yang salah ketika orang menyembah Allah? Lah, mengapa harus ada orang-orang beragama yang usil seperti kancil menelan kerikil?

    Tentu ada yang salah dalam mengajarkan dan mengamalkan suatu agama hingga menjadi pembenci agama lainnya. Kemungkinan kesalahan agama yang demikian hanya satu. Agama melacurkan diri pada kepentingan politik dan atau ekonomi. Sejarah peradaban membuktikan, betapa parah dan bobroknya agama ketika melacurkan diri dan atau berselingkuh dengan kepentingan politik dan atau ekonomi.

    Korban pun berjatuhan, ketika perang yang sejatinya bermotif ekonomi dan politik berhasil merayu agama masuk ke dalam pusaran. Praktis, keseksian agama telah dimanfaatkan para politisi busuk untuk mengeruk ceruk kekuasaan dengan cara mabuk seperti gaya orang kebanyakan makan kerupuk.

    Agama yang takdirnya menjadi pembawa rahmat bagi semesta, penebar ajaran welas asih, bisa berubah menjadi penuh amarah dan berlumuran darah. Jauh dari watak sebagai para pencari dan penyembah Allah. Itulah tanda agama yang sudah kehilangan cinta. Hanya cinta yang mampu melahirkan sebuah kebaktian pada Allah. Hendaknya kaum agamawan paham dengan dimensi ini.

    Dan, yang tidak kalah penting adalah bagaimana cinta yang tumbuh dalam setiap agama wajib nampak dalam bhakti untuk Ibu Pertiwi. Tidak ada tanah yang lebih suci daripada tanah tumpah darah. Di sinilah peran cinta dalam agama terbukti untuk menjaga kesatuan bangsa.

    Akan semakin bodoh bila agama-agama yang hadir di bumi Nusantara malah menjadi ancaman kesatuan bangsa. Adalah kedunguan tidak terkira-kira bila suatu agama justru mendorong tumbuh dan suburnya intoleransi. Ini terlihat dari adanya organisasi kelompok intoleran yang suka melakukan penolakan kelompok agama tertentu atas pendirian dan atau penempatan rumah ibadah suatu agama. Inilah yang disebut Polri sebagai tantangan atau ancaman NKRI.

    Sikap intoleransi bisa timbul karena keberadaan organisasi masyarakat keagamaan yang aktif mendukung dan memfasilitasi masyarakat menyikapi berbagai masalah keagamaan. Merdisyam mengakui bahwa pada setiap isu keagamaan sejatinya ada tersembunyi rapi kepentingan ekonomi dan politik.

    Segelintir masyarakat, kata Merdisyam, masih saja mudah dipengaruhi oleh kelompok yang mengatasnamakan agama. Tanda bahwa ketika orang beragama tidak sungguh-sungguh mewujudkan rahmatin lil ‘alamin.

    Masalahnya, kata Merdisyam, ketika polisi menindak kelompok tindakan intoleransi, justru diputarbalikkan. Polisi dianggap bertindak represif dengan menyerang masyarakat. Padahal tujuan polisi dalam konteks ini adalah melindungi kebebasan beragama sebagai tugas negara.
    Merdisyam berharap,”Setelah tindakan hukum secara tegas, kita bisa timbulkan kesadaran ke masyarakat. Sekarang tidak ada masalah, bisa berjalan baik dan dapat apresiasi internasional.”

    Harus diakui, kata Merdisyam, media sosial punya andil besar dalam ancaman kebebasan keberagaman dan berkeyakinan. Informasi hoaks di media sosial sulit dibendung. Apalagi masih banyak masyarakat yang mudah dipicu dengan informasi simpang siur.

    “Medsos sangat besar sekali yang dapat begitu mrmancing dan memicu reaksi masyarakat,” kata Merdisyam.

    Paparan Merdisyam cukup memberi gambaran bahwa keberadaan kelompok-kelompok ormas intoleran sepertinya disengaja dipelihara oknum cecunguk busuk. Tujuannya jelas, untuk mengendalikan kepentingan bisnis dan politik. Cecunguk demikian biasanya sangat licin seperti belut berlumuran olie samping. Untuk membatasi gerak-gerik dan sepak terjangnya diperlukan pengasapan yang rutin dari aparat negara.

    Itulah, kesusahan dan kesulitan mendirikan rumah ibadah di beberapa tempat, rupanya memang sengaja dipelihara untuk memperlihatkan kekuatan ekonomi dan atau politik. Ini tentu tantangan tersendiri bagi tegaknya kebebasan beragama di negara ini. Agama yang paling tergila-gila dengan politik dan nafsu berkuasa hanya layak didoakan saja, supaya tidak kehilangan cinta-kasih.



    Penulis :    Setiyadi RXZ    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Apa Yang Salah Hingga Susah Mendirikan Gereja Sebagai Rumah Ibadah? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top