728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 28 Agustus 2017

    #Warta : Apa Hubungan Antara Ahok, Jokowi, Tito, Prabowo, Anies, Rizieq, Eggi, dan Saracen?

    Perlahan namun pasti, Tuhan sedang turun tangan di dalam apa yang terjadi di Indonesia. Sebenarnya saya sangat percaya bagaimanapun, Indonesia masih ada di dalam lindungan Tuhan. Pembina rohani saya, seorang pendeta di sebuah gereja pernah mengatakan bahwa ‘kaki dian Tuhan sedang berada di Indonesia’.

    Indonesia dengan segala yang sudah terjadi dan sampai sekarang masih berdiri kokoh di atas dasar negara Pancasila dan NKRI-nya, merupakan sebuah mujizat. Mengapa bisa demikian? Dasar negara yang sudah berdiri sejak 72 tahun ini, ternyata tidak hanya sekali saja menerima gebrakan, goncangan, tinjuan, bahkan panahan dari orang-orang yang tidak suka dengan keberagaman.

    Kejadian-kejadian kerusuhan Kali Angke, pembantaian Tanjung Priok, Tragedi Mei 1998 yang sangat membekas, sampai kepada demo-demo bela (katanya) Tuhan, komplit dengan paket nomor togel, sudah menjadi beberapa momen krusial bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang-orang yang merasa ‘penting’, setidaknya dianggap penting oleh para pengikutnya (mungkin lebih tepatnya ekor), tidak ingin NKRI utuh.

    Mereka ingin mendirikan sebuah negara berbasis agama tertentu, yang ternyata merupakan sebuah aksi superfisial alias hanya permukaan. Agama dijadikan ujung tombak dari segala keinginan dan motivasi busuk mereka. Mereka ingin harta dunia, yang rasanya tidak mereka sadari bahwa sifatnya sementara.

    Dalih mereka sederhana, membawa-bawa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Isu SARA ini digencarkan secara masif, mulai dari kejadian Kali Angke (‘Ang’ yang berarti merah, pada masa kolonial pemerintahan Belanda.

    Ada dua kejadian besar yang terjadi di Indonesia, pada tahun 1984 di Tanjung Priok dan Kerusuhan Mei 1998, yang menghantam telak dan memakan tidak sedikit korban jiwa etnis tertentu. Kedua kejadian ini terjadi pada pemerintahan Soeharto. Entah apa yang menjadi dorongan untuk para pasukan-pasukan melakukan hal ini. Padahal kita tahu Indonesia didirikan di atas banyak suku, etnis, agama dan golongan.

    Pada akhirnya, Indonesia mulai tenang pasca kerusuhan 1998 ini. Pembiaran demi pembiaran terjadi pada era Soeharto, berhenti seiring pergantian Presiden yang sempat dijuluki ‘Bapak Pembangunan Nasional’. Nyaris 20 tahun panasnya situasi politik mereda, muncul lagi orang-orang dari masa lalu yang memulai aksi-aksi bela sosok (katanya) Tuhan.

    Setelah diselidiki, hal ini berkait erat dengan keinginan dan kontrol dari orang-orang lama yang sempat menikmati kehidupan di era ‘orde baru’. Mereka yang sejatinya tidak ingin melihat Indonesia semakin maju, karena dengan semakin majunya negara ini, uang-uang kotor sudah sulit masuk ke kantong mereka.

    Kemajuan teknologi, perekonomian, dan transparansi di indonesia, membuat mereka ketar ketir. Apalagi isu-isu percetakan uang baru yang membuat Rizieq kepanasan karena kasus dugaan simbol PKI yang ada di mata uang Republik Indonesia. Jangan-jangan ada orang-orang lama yang menyimpan uang kertas senilai 100 triliun untuk menghindari dari lacakan polisi? Silakan jawab sendiri, ini bukanlah sebuah rahasia lagi.

    Jelas ada orang-orang yang merasa tertekan, jika uang baru diedarkan, dan akhirnya beberapa tahun kemudian, uang haram tersebut sudah tidak berlaku. Ampun dijeeey!

    Maka isu-isu SARA dimunculkan lagi oleh orang-orang yang tetap ingin tertidur pulas dengan sekumpulan uang di ranjang kematian mereka. Mereka tetap ingin menjadi orang-orang yang berkuasa, dengan cara yang tidak seharusnya. Mereka sudah terlalu lama berpuasa dari tindakan laknat yang berbau neraka.

    Muncullah Saracen, yang rasanya menjadi sebuah sindikat pesanan kaum-kaum yang saya katakan di atas. Para elit politik, jenderal-jenderal gagal move on, sampai kepada pasukan berkuda pun memunculkan isu-isu SARA. Mereka cerdas, tidak bermain kasar, mereka sangat licin, halus sulit diprediksi, bahkan cenderung pendendam. Ahok pun harus jadi tumbal dan korban. Jokowi pun hampir dihantam secara keras oleh sindikat-sindikat yang masih gagal move on dari Orde Baru.

    Dengan terciduknya sindikat Saracen, membuat mereka semua bungkam, bahkan orang-orang yang ada di dalamnya, tiba-tiba mengelak untuk diperiksa. Sebutlah Eggi Sudjana, Mayjend (Pur) Ampu. Mereka mulai melakukan klarifikasi sana-sini untuk mengelak bahwa dirinya masuk ke dalam lingkaran setan kubangan.

    Ah sudah lah, semua sudah terbongkar dengan seorang tersangka Sri Rahayu Ningsih. Ia adalah seorang loyalis dari Anies dan Prabowo. Namun sampai sekarang kita masih sulit mengatakan bahwa orang-orang ini adalah pemesan konten sara dengan nilai puluhan juta rupiah. Mari kita dukung  Kapolri Tito untuk terus mengusut tuntas kasus ini dengan profesional, tanpa ragu, dan gagah berani! Demi Indonesia berjaya! Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka!

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis :  Hysebastian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Apa Hubungan Antara Ahok, Jokowi, Tito, Prabowo, Anies, Rizieq, Eggi, dan Saracen? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top