728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 23 Agustus 2017

    #Warta : Mencoba Menjawab Polemik Rencana Seminar “Benarkah Bibel Dipalsukan?”

    Rencana seminar dengan tema “Benarkah Bibel Dipalsukan?”, dengan narasumber seorang mualaf, bernama H. Yudi Muljana, S.Th, M.Pdi, menjadi sebuah hal yang menarik untuk diikuti. Sesuatu yang nampak sederhana namun ketika itu dirasa menyentil sentimen dua kubu agama tertentu, kemudian menjadi bola panas yang bergulir liar. Banyak opini yang mencoba meberikan pencerahan terkait persoalan tersebut.

    Penulispun ingin mencoba memberikan tanggapan terkait persoalan tersebut dari sudut pandang tertentu, yaitu sudut pandang Kristen. Untuk memberi fondasi pemahaman tentang munculnya polemik tersebut, penulis perlu memberikan informasi bahwa penulis berangkat dari tradisi agama tertentu (Kristen), dengan demikian jika nantinya ada pembaca yang menanggapi, sudah jelas latar belakang dan latar depan penulis.

    Penulis memulai dengan , apa itu Kitab Suci, tentang si narasumber, setelah itu fakta sejarah konflik agama impor dari Timur Tengah, fakta keberagamaan di Indonesia dan akhirnya tentang akibat rencana seminar serta mencoba mencoba menduga tujuan diadakannya seminar tesebut.

    Kalau bicara tentang agama maka di sana pasti akan selalu ada yang namanya Kitab Suci. Karena Kitab Suci adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari fenomena sosial yang bernama agama. Ketika mendengar kata “KITAB SUCI” maka yang terlintas dalam pikiran banyak orang (mungkin termasuk pembaca seword juga) adalah kumpulan Sabda Tuhan.

    Saat mendengar istilah Sabda Tuhan maka yang muncul dalam imajinasi banyak orang adalah Tuhan berkata-kata dan kemudian ada yang mencatat. Hal ini nampak jelas dari narasi Alkitab Kristen, terutama di kitab Perjajian Lama (beberapa teolog mencoba menggunakan istilah Perjanjian Pertama) ketika dalam narasi ada dialog dan di sana ada kalimat langsung, sehingga seolah-olah Tuhan sedang berbicara.

    Persoalannya adalah, agama-agama dari Timur Tengah banyak yang meyakini bahwa manusia bukan diciptakan pada hari pertama,namun di hari ke enam (Yahudi dan Kristen, kalau islam penulis kurang paham), lalu pertanyaannya , bagaimana manusia bisa mencatat peristiwa yang tidak dilihatnya? Ini banyak yang menjawab secara serampangan, bahwa untuk Tuhan tidak ada yang mustahil.

    Persoalan kedua di sekitar penulisan Kitab Suci adalah bahwa itu kata-kata dari Tuhan langsung,lalu pertanyaannya adalah, bagamana Tuhan bisa langsung menjumpai manusia dan seperti apa wujudnya? Bukankah agama-agama Timur Tengah meyakini bahwa Tuhan itu tidak terbatas?Lalu ketika berbicara, bukankah itu berarti membatasi ketidakterbatasan Tuhan?

    Dari beberapa narasi di sekitar Kitab Suci di atas, penulis memberanikan diri memberikan gambaran tentang Kitab Suci (Kristen) yang sering latah dinamakan bible (bible). Mengapa penulis mengatakan latah?Karena sejatinya yang namanya bible (euangelion=yunani yang berarti Kabar Baik) itu hanya 4 kitab dalam perjanjian baru (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), namun semua kemudian menamakan Alkitab Kristen itu Injil, tapi ya tidak mengapa, kan itu adalah hak setiap orang untuk menamai sesuatu.

    Menurut penulis Kitab suci (Bible bukan bible) adalah kumpulan pengalaman orang di masa tertentu dalam budaya tertentu, dalam situasi tertentu,dengan bahasa tertentu, untuk tujuan tertentu,yang dipelihara dan kemudian didokumentasikan dan itu dihayati serta diyakini sebagai sebuah pengalaman perjumpaannya dengan Sang Illahi (Tuhan).

    Dari konsep ini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Tuhan atau apapun yang tertulis dalam Kitab Suci adalah pruduk dari sebuah budaya dan karenanya penuh dengan keterbatasan meskipun juga harus disadari dan diakui ada aspek originalitas terkait “pengalaman dengan Sang Illahi itu”.

    Karena pengalaman dengan Sang Illahi itu awalnya dipelihara dalam tradisi-tradisi lisan dan baru beberapa waktu kemudian didokumentasikan dalam budaya tulis, maka kemungkinan terjadi kesalahan pastilah ada. kesalahan itu bisa jadi terkait cerita yang menjadi berbeda karena budaya tutur memungkinan pengingkaran di sana-sini. Kemungkinan kesalahan juga bisa terjadi di proses penyalinan, perlu di sadari bahwa jaman penulisan Kitab Suci belum ada computer atau laptop  core I 5, yang adalah adalah computer Adam (tangan dan tinta), sehingga saat menyalin kemungkinan terjadi kesalahan sangatlah besar. Persoalan waktu yang lama serta banyaknya proses penyuntingan bisa menjadikan kesalahan di sana sini, namun dalam pemahaman (beberapa) gereja, itu semua adalah hal yang wajar.

    Dalam perkembangannya (beberapa) gereja menempatkan Kitab Suci sebagai kumpulan kisah tentang perjumpaan dan penghayatan manusia terkait relasinya dengan Tuhan. Tentang salah dan kurang sesuai dengan kisah yang asli, (beberapa) gereja memilih menghayati bahwa yang paling utama adalah menemukan pesan-pesan positif dari semua narasi Kitab Suci, toh tidak mungkin mendapatkan sesuatu yang asli dari kisah yang sudah ribuan tahun berlalu.

    Itulah pandangan penulis tentang Kitab Suci, jadi kalau ada yang ingin mengadakan seminar (istilah jawanya menyeminarkan) tentang keaslian atau kepalsuan bible, temasuk saudara H. Yudi Muljana, S.Th, M.Pdi, ya silakan saja, itu hak asasi saudara Yudi Muljana, S.Th, M.Pdi dan bagi kami (utamanya saya) kagak ada epeknya…

    Hal berikut yang ingin penulis uraikan adalah saudara H. Yudi Muljana, S.Th,M.Pdi. jujur penulis tidak kenal saudara tersebut dan karenanya hanya akan menganalisa secara terbatas, yaitu gelar Sarjana Telogi (S.Th)nya. Dalam beberapa keterangan beliau dari STT Teranus Bandung, dan yang perlu pembaca ketahui bahwa tidak semua STT (Sekolah Tinggi Teologi) memiliki kurikulum yang sama dan juga banyak yang memilih mencari ijin dari departemen Agama yang lebih longgar, sehingga aspek “ilmiah” soal keilmuan teologinya juga perlu menjadi pertimbangan. Jadi meskipun bergelar S.Th maka belum tentu konsep teologianya bisa dipertanggungjawabkan.

    Jadi, penulisan gelar S.Th dalam banner promosi seminarnya itu, menurut penulis memiliki motif-motif tertentu, namun karena terbatasnya ruang untuk tulisan ini, maka tidak mungkin penulis menuagkannya di artikel ini. Mungkin ada penulis lain yang akan menganalisa motif dari penulisan gelar S.Th untuk mualaf yang akan menguliti bible, silakan saja.


    Baliho seminar dengan tema “Benarkah Bible dipalsukan?” menjadi polemik karena menyinggung agama-agama dari Timur Tengah. Sudah menjadi kesadaran umum bahwa agama yang terlahir di Timur Tengah adalah agama ekspansif, yang selalu bergerak mencari anggota baru dan karena hal yang demikian maka kemungkinan benturan sangat besar. Demikian pula islam dan kristen yang sama-sama ekspansif dan lebih parahnya juga sering ditunggangi motif politik dan ekonomi, maka benturan kian terasa kuat sekali.

    Hal itu jelas sekali terasa ketika ada baliho iklan seminar dengan tema Benarkah Bibel Dipalsukan, karena banyak yang menanggapi. Yang menanggapi juga beragam, ada tersinggung, ada yang bersorak gembira seperti mendapat durian runtuh kena ndase, ada yang biasa-biasa saja dan juga ada yang mencoba mencari untung dari situasi tersebut. Itu semua karena di Indonesia agama bukan dipahami sebagai jalan hidup namun banyak dipahami sebagai status sosial, karena hal demikian maka istilah murtad, mualaf, bertobat, kafir dan saudara-saudaranya banyak berseliwean di sekitar kita. Jika agama dipahami sebagai jalan dan pilihan hidup, maka orang tidak akan berisik dengan pilihan serta agama orang lain.

    Di akhir  artikel ini penulis akan kembali menekankan pentingnya memahami Kitab Suci, terkhusus dari sudut pandang (beberapa) gereja, bahwa di dalam proses penulisan serta penyuntingan juga editorialnya kemungkinan salam atau terjadi kesalahan ada. Belum lagi proses penterjemahan yang sangat sulit karena budaya yang berbeda. Penulis sering mengajak beberapa teman penulis untuk menerjemahkan kalimat dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa dan sangat sulit menerjemahkannya (Jika pemmbaca mau tahu yang penulis sering ungkapkan dan mencoba menerjemahkan, silakan coba di kolom komentar, ini “Bapak Membeli Seekor Kambing, silakan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa). Oleh karena itu, jika kemudian ada yang berteriak-teriak bahkan dengan seminar segala, ya biarkan saja. Wong nyatanya juga kesalahan juga ada, mungkin saja si narasumber ingin mendapatkan uang dari seminarnya atau mendapatkatkan popularitas serta pahala yang lain, ya silakan saja.

    Akhirnya, marilah kita semua dewasa dalam menjalani kehidupan ini, juga untuk urusan agama atau keimanan, biarlah itu menjadi “Jalan Kebersamaannya” dengan Sang Illahi yang memang menyapa setiap manusia dengan keunikannya yang luar biasa. Tidak usahlah saling menjelekkan satu dengan yang lain malah kalau bisa, salinglah berbagi cerita pengalaman hal keimanan itu, karena dengan demikian akan saling memperkaya, namun kalau memang menjelek-jelekan itu sudah menjadi Jalan Hidup, ya silakan saja..itupun hakasasi kok..

    Salam Damai



    Penulis :  Dony Setyawan     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: #Warta : Mencoba Menjawab Polemik Rencana Seminar “Benarkah Bibel Dipalsukan?” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top