728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 14 Juli 2017

    WNI Yang Bergabung Dengan ISIS Sebagian Besar Dari Jawa Barat, Ada Apa Dengan Provinsi Ini, Kang Aher?

    Jawa Barat yang saya cintai telah berubah. Setidaknya satu dasawarsa ke belakang, makin banyak predikat yang disandang provinsi ini. Sayangnya tak semua baik, bahkan terbilang buruk. Rekornya dipegang sampai sekarang, yakni sebagai provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi di tanah air.

    Miris bukan ? Dan predikat ini belum lengkap kiranya apabila kita belum menyimak berita yang dilansir dari metrotvnews.com baru-baru ini. Dikatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) masih mewaspadai kepulangan warga negara Indonesia (WNI) dari Suriah. Diduga, 1.000 WNI itu pernah bergabung dengan kelompok radikal ISIS. Juru Bicara BNPT Irfan Idris mengatakan kebanyakan dari mereka adalah warga Jawa Barat (Jabar). Sedangkan, sisanya tersebar ke beberapa daerah lain. “Kebanyakan dari Jabar,” kata Irfan kepada Metrotvnews.com, Jakarta, Selasa 11 Juli 2017.


    Selain pengawasan intensif kepada WNI yang baru pulang dari Suriah, BNPT juga menggalakkan program deradikalisasi pada masyarakat. Tujuannya, memberi pembinaan kepada mereka yang sudah terindikasi paham radikal. “Program deradikalisasi dalam masyarakat menyertakan mereka dalam berbagai macam pembinaan,” tuntas Irfan. BNPT menemukan informasi banyak WNI di Suriah bergabung dengan ISIS. Setibanya di Suriah, mereka merasa tertipu dan menyesali perbuatannya.

    Pertanyaannya, mengapa sebagian besar WNI yang diduga bergabung dengan ISIS berasal dari Jawa Barat ? Tentu ini tidak bisa dilepaskan dengan predikat yang saya bahas di awal paragraf. Sepertinya ada korelasi antara tingginya tingkat intoleransi warga Jabar dengan keikutsertaan sebagian dari mereka bergabung dengan ISIS atau sekadar menjadi supporternya.

    Datanya bukan mengada-ada. Setidaknya, banyak lembaga survey yang kualitasnya jempolan justru menempatkan provinsi yang dipimpin Kang Aher hampir satu dasawarsa ini sebagai provinsi paling tidak toleran. Atau dengan kata lain, provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi mengalahkan provinsi-provinsi lainnya di tanah air. Laporan Setara Institute 2015 menyebutkan provinsi ini meraih rekor tertinggi dalam ketidakramahan terhadap orang dengan latar belakang agama berbeda. Dalam sepuluh  kota dengan nilai toleransi terendah yang disusun Setara Institute, enam diantaranya berada di wilayah Jawa Barat.

    Berdasarkan catatan dari lembaga Setara Institute, Provinsi Jawa Barat terus menjadi ‘juara’ daerah intoleransi sejak 2004. Penilaian serupa juga dikeluarkan lembaga The Wahid Institute atau kini bernama Wahid Foundation sejak beberapa tahun lalu. Dalam survei tahun 2016, Wahid Foundation menyebutkan Jawa Barat merupakan provinsi dengan kasus radikalisme dan intoleransi tertinggi di Indonesia yang dibungkus agama.

    Mengapa bisa begini ? Kemudian saya melongok sejarah. Seperti tertulis dalam buku-buku sejarah di provinsi ini pun kita mengetahui ada pemberontakan yang cukup luas dan memiliki durasi yang cukup lama, yakni DI/TII. DI merupakan singkatan dari Darul Islam. TII adalah kependekan dari Tentara Islam Indonesia. Tercatat dalam sejarah, mereka melakukan pemberontakan mulai 1949 hingga 1962, ketika dedengkotnya, yakni Soekarmadji Maridjan Kartosuwirjo ditangkap dan dihukum mati. Kartosuwirjo muda adalah teman kost Bung Karno semasa di rumah H.O.S Tjokroaminoto.

    Pemberontakan DI/TII pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) resmi berdiri tanggal 7 Agustus 1949 yakni dengan diproklamasikannya Negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Namun, gerakan DI/TII sebenarnya sudah lama ada, yaitu sejak lahirnya Komite Pembela Kebenaran PSII sebagai akibat dari perpecahan yang terdapat dalam Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII). Perpecahan itu membuat Kartosuwirjo mendirikan perguruan Suffah yang ada pada masa pendudukan Jepang dikembangkan menjadi pusat latihan kemiliteran bagi pemuda-pemuda Islam, terutama Hizbullah dan Sabilillah. Dengan demikian, dari ulasan sejarah yang singkat ini, radikalisme agama memang menjadi catatan penting bagi Jawa Barat.

    Meski tidak lama lagi menjabat, namun masih ada kesempatan. Kang Aher tidak boleh menganggap remeh masalah intoleransi dan radikalisme di Jawa Barat. Negara kita adalah negara majemuk dan plural, bukan terdiri dari satu agama saja. Indonesia adalah negara kesepakatan. Dengan kata lain, dasar negara kita Pancasila adalah hasil kesepakatan dan permufakatan di antara “Founding Fathers” Bangsa ini. Dan agama yang dianut para “Founding Fathers” sangatlah beragam yang mencerminkan ke bhinekaan. Bung Karno pada suatu kali menyatakan dengan tegas :

    “Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat istiadat, tetapi milik kita bersama dari Sabang sampai Merauke.”




    Penulis :  Akhmad Reza    Sumber :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: WNI Yang Bergabung Dengan ISIS Sebagian Besar Dari Jawa Barat, Ada Apa Dengan Provinsi Ini, Kang Aher? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top