728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 16 Juli 2017

    Waspada! Sengkuni Belum Puas Lengserkan 2 Presiden Indonesia

    Kadang, saya sempat ditegur oleh teman, untuk apa memikirkan negara ini? buat apa ikut campur dalam arus politik yang begitu keji? Untuk apa menulis ribuan paragraf, Terlibat diskusi hingga dinihari. Untuk apa?

    Sebenarnya, tak ada jawaban yang pas untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena saya pun juga kadang bertanya hal yang sama. Kadang lelah juga mengawal opini-opini yang berkembang di negeri ini. Lelah sekali. Dari satu isu ke isu yang lain, bergulir begitu cepat. Negara kita tak pernah kekurangan isu politik.

    Tapi saat lelah berpikir dan melawan isu yang dibangun oleh para politisi busuk, saya selalu mengingat tentang sejarah negeri ini. Sebelum ada kita, sebelum ada sosial media, permainan isu masih dikuasai oleh segelintir orang saja. Sehingga pergerakan dan pembentukan opini publik terlalu mudah dibuat, nyaris tanpa penyeimbang atau perlawanan. Berbeda dengan sekarang, kekuatan media besar sudah bisa diimbangi dengan hadirnya media-media alternatif seperti Seword dan media sosial lainnya. Sehingga propaganda dan pembentukan opini publik tidak mudah disosialisasikan.

    Untuk itu, tulisan ini sengaja saya buat untuk menyadarkan teman-teman yang kadang muak dengan politik atau merasa lelah bersuara dan berpendapat. Ada alasan sejarah yang penting untuk diingat, agar saat kita merasa lelah dan tidak ada gunanya melawan, kita bisa segera menulis lagi, menanggapi komentar-komentar absurd dari pejabat-pejabat dewan yang terhormat.

    Dalam dunia pewayangan, Sengkuni adalah sosok penghasut, ahli pemecah belah. Apa yang dipikirkannya hanyalah kelicikan, menang dengan segala cara dan memecah belah keutuhan Pandawa. Sedangkan Durna, adalah guru dari Pandawan dan Kurawa, yang sering kali terseret dalam kasus kejahatan Kurawa, dibandingkan bertindak sebgai guru yang bijaksana.

    Di dunia nyata, dalam dunia perpolitikan Indonesia, tokoh Sengkuni ini ada dan masih hidup sebagai penghasut serta pemecah belah hingga saat ini. Lebih dari itu, dia juga memiliki sifat-sifat Durna, membangun citra sebagai guru besar, tapi sebenarnya hanya kedok untuk terlibat dan menutupi kejahatan-kejahatannya. Sehingga saat sebuah kasus terungkap, kasus korupsi misalnya, sebagian masyarakat kita kemudian bertanya, benarkah demikian? Sebab citra Sengkuni Durna ini begitu sempurna dan positif.

    Di mata masyarakat-masyarakat buta, dia adalah profesor yang memiliki pemahaman agama. Profesor adalah gelar tertinggi dalam dunia akademik. Sementara urusan agama, dia bagian penting dari salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Dua embel-embel ini menjadi perisai penting, agar ucapannya mudah diamini oleh banyak orang sebagai ucapan seorang tokoh, sebagai cendekiawan, padahal sebenarnya tak lebih dari seorang Sengkuni rasa Durna. Yang licik, picik, dan hanya berpikir bagaimana caranya menguasai negeri ini.

    Oh iya, sebelum saya melanjutkan, sebaiknya saya beri nama orang yang saya maksud Sengkuni rasa Durna ini dengan sebutan A.

    Dalam sejarahnya, A kerap mengklaim bahwa dirinya berhasil melengserkan Soeharto. Dia memang adalah bagian dari mahasiswa yang turun ke jalan, memaksa Soeharto mundur. Namun tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya dia juga menerima dana dari Soeharto. Tapi berkat kemampuannya berkamuflase, A berhasil disebut-sebut sebagai pahlawan reformasi.

    Sang pahlawan reformasi sempat mengajukan diri sebagai pemimpin negeri. Citranya positif, sebagai tokoh, sebagai cendekiawan, sebagai pahlawan reformasi. Kurang apa? Masyarakat seolah dibuat tak punya pilihan lain.

    Tetapi Tuhan sepertinya sangat sayang pada negeri ini. A gagal menjadi Presiden. Setelah itu gagal lagi. Bahkan sampai sekarang A belum pernah tercatat sebagai Presiden Indonesia. Dari rangkuman kegagalan inilah, A semakin menjadi-jadi, semakin picik seperti sosok Sengkuni dan Durna. Melakukan segala cara untuk menguasai negeri ini.

    Sejarah mencatat, Deklarasi Ciganjur adalah salah satu manuver politik paling munafik sepanjang sejarah Republik Indonesia. saat itu Gus Dur, Megawati, Sri Sultan dan A sepakat untuk berkoalisi, menandatangani kesepakatan yang salah satu poin pentingnya adalah tidak akan bekerjasama dengan kekuatan orde baru.

    Namun deklarasi itu akhirnya dikhianati, karena ambisi A untuk menjadi pimpinan MPR, membuatnya mau bekerja sama dengan Golk*r. Dan setelah itu, kita semua jadi sadar mengapa sang pahlawan revolusi itu tidak diijikan Tuhan untuk menjadi Presiden Indonesia hingga saat ini.

    Anda ingin tahu bagaimana jika Sengkuni campuran Durna mendapat kekuasaan? Lihatlah fakta sejarah saat A di MPR. UUD 1945 diamandemen sebanyak 4 kali. Gus Dur dijadikan alat untuk menggeser Megawati, dan akhirnya Gus Dur sendiri dia gusur.

    Sebagian orang mungkin akan berpikir, biarlah itu jadi sejarah. Ya sudahlah. Iya, saya dulu juga berpikir seperti itu. Tapi masalahnya sikap dan pemikiran licik ala Sengkuni itu masih berjalan hingga saat tahun ini. Saat Gus Dur sudah dikubur, A masih berjuang melengserkan Presiden Indonesia. Padahal dia sudah berhasil melengserkan beberapa Presiden sebelumnya.

    Sebagi pendukung Jokowi, kita tidak boleh lengah menghadapi Sengkuni dan Durna. Karena sekali kita lalai, berarti akan terjadi satu kekacauan di negeri ini, minimal ribut-ribut ala 411, dimana A juga turut hadir menyampaikan orasinya.

    A dengan otak licik seperti Sengkuni dan berkamuflase sebagai guru ala Durna, harus kita sadari bahwa A adalah orang yang sangat sirik dengan Jokowi. Orang baru dalam dunia politik, lulusan sarjana, dari daerah, tapi tiba-tiba bisa menjadi Presiden Indonesia. Sedangkan dirinya yang menjadi pahlawan revolusi, malang melintang di perpolitikan nasional, profesor, tokoh dan punya kekuatan ormas, tapi sampai sekarang masih gagal jadi Presiden. Gimana nggak sirik?

    A gagal membendung Jokowi sebagai Gubernur Jakarta, sampai dengan tanpa malu berjanji akan jalan kaki Jogja Jakarta jika Jokowi jadi Presiden. Dia lakukan segalanya hanya agar Jokowi gagal. Tapi nyatanya Tuhan lebih berpihak pada Jokowi, sehingga A kini hanya bisa menjilat air ludahnya sendiri.

    Tapi namanya juga Sengkuni, sampai sekarang dia masih terus memecah belah, memprovokasi dan menghasut. Meski telah mendapat gelar pahlawan reformasi, rupanya A berambisi merebut gelar Pahlawan Islam. Tujuannya masih sama seperti 20 tahun yang lalu, menarik simpati, mengumpulkan massa demi kuasa.

    Untungnya tahun ini kita sudah punya sosial media, kita sudah punya Seword. Informasi dan arus opini bisa kita lawan dan luruskan. Citra atau gelar Pahlawan Islam gagal menggema seperti pahlawan revolusi. Dan kelompok yang merasa ditunggangi itu pun bermanuver, memberi penghargaan kepada Buni Yani sebagai Pahlawan Islam Medsos. Terkutuklah Sengkuni!

    Meskipun sebagian rakyat Indonesia masih menganggap A sebagai tokoh cendekiawan, pahlawan reformasi dan seterusnya, namun sebagian sudah sadar. Mungkin salah satunya adalah anda yang sedang membaca tulisan ini.

    Kita sadar bahwa A adalah serigala berbulu domba. Uang tak berseri dari Soeharto diembatnya, tapi masih berlagak sebagai tokoh reformasi yang dengan sombongnya mengklaim berhasil melengserkan Soeharto.

    Masyarakat Jogja juga sudah muak ditipu. Di balik tampilannya sebagai dosen politik, A adalah pemborong tanah-tanah petani. Tandai tanah A di Jogja, anda akan tahu sudah berapa banyak yang dia perdagangkan demokrasi untuk harta. Selanjutnya adalah memeras dunia pendidikan, lihat saja sekolah milik A, paling mahal di Jogja. Kurang Sengkuni apa?

    Terakhir, sekali lagi saya ingin menghimbau kepada para penulis-penulis Seword. Saat kalian merasa lelah, ingatlah Sengkuni dan Durna. Jangan sampai kita lengah. Karena sedikit saja A memiliki kesempatan, besok atau lusa, kerusuhan bisa terjadi dengan cepat. Begitulah kura-kura.



    Penulis  :  Alifurrahman    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Waspada! Sengkuni Belum Puas Lengserkan 2 Presiden Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top