728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 15 Juli 2017

    Transformasi 212, Dulu Bela Islam Kini Bela Para Tersangka

    Sebenarnya saya sudah malas membahas aksi bela Islam 212 itu. Bukan karena sudah banyak yang membahas, bukan pula karena aksinya belakangan ini membenarkan opini-opini kami di seword sebelumnya, bukan. Tapi lebih kepada merasa kasihan sekali kepada agama saya, Islam, yang dipermainkan diperolok oleh segelintir orang, entah untuk tujuan apa.

    Masalahnya kemudian, semakin saya diam, kelompok mereka ini semakin menjadi-jadi. Lihat saja aksi 212 yang terbaru, mereka tidak lagi membela Islam, tapi sudah beralih membela HT.

    “MNC media kan sering meliput aksi kami. Itu aja, enggak ada kaitannya dengan politik. Jadi wujud perhatian kita saja,” ujar Hasri, sekretaris Presidium alumni 212.

    “HT kita bantu, karena ada masukan terkait kenapa yang dibela hanya umat Islam. Maka itu kita buktikan bahwa kita membela semua orang yang satu pemikiran atau berpihak kepada kita,” ujar Ketua Presidium Alumni 212 Ansufri Idrus Sambo.

    Kalau membaca pernyataan Idrus Sambo, berarti sebenarnya 212 ini bukanlah kelompok pembela Islam, melainkan membela kelompoknya. Kalau berpihak pada mereka, maka sekalipun nonmuslim tetap dibela. Jadi sebenarnya tagline “aksi bela Islam” yang sudah dilakukan berjilid-jilid itu hanyalah kamuflase. Penipuan yang terstruktur, sistematis dan massif. Mengatasnamakan Islam demi meraih simpati publik dan mengumpulkan emosi masyarakat, padahal mereka hanya sedang membela yang berpihak.

    Jadi, kepada 7 juta orang yang sudah pernah ikut aksi demo berjilid, kalian itu sebenarnya tidak pernah membela Islam. Tapi membela kelompok yang berpihak pada 212. Sampai di sini saya jadi teringat kata populer dari seorang Gubernur Jakarta terpilih, “ini tentang keberpihakan.”

    Pernyataan Idrus Sambo di atas hanyalah konfirmasi dari opini-opini yang selama ini saya tulis bersama teman-teman seword yang lain. Tadi tidak ada yang baru atau mengejutkan. Biasa saja.

    Pernyataan Hasri juga sama dan senada, ini tentang keberpihakan. HT dibela karena medianya sering meliput aksi mereka. HT kemudian diposisikan sebagai orang yang dikriminalisasi. Sama seperti Rizieq, bedanya kalau Rizieq korban kriminalisasi ulama, kalau HT ya korban kriminalisasi saja. Soal alasan dan argumen, itu tidak penting untuk dijabarkan. Bukan tidak penting sebenarnya, tapi lebih kepada tidak ada yang perlu dijabarkan. Yang penting kriminalisasi. Titik. Yang berlawanan berarti liberal, kafir, antek aseng, anti Islam, komunis dan yang setitik-titik dengannya.

    Dulu Bela Islam, Kini Bela Para Tersangka

    Jika diperhatikan dengan seksama, jelas ada pendapat yang berbeda kutub saat mereka memperlakukan HT and Ahok. Jauh sekali perbedaannya.

    Teman-teman pasti masih ingat bahwa beberapa bulan yang lalu, dalam aksi-aksi 212 itu disebutkan, bahwa jangankan memilih pemimpin kafir, berteman atau bersekutu saja katanya dilarang Alquran. Jangan coba-coba berdebat dengan merkea kalau tidak siap disebut sebagai orang kafir, liberal dan komunis. Intinya orang kafir itu dilarang untuk dipilih, bahkan dilarang dijadikan teman.

    Lebih dari itu, kebetulan Ahok keturunan Cina. Sehingga spanduk-spanduk “ganyang Cina” bertebaran sepanjang aksi. Para peserta aksi 212 sama sekali tidak merasa bersalah ketika bernyanyi “bunuh-bunuh-bunuh si Ahok, bunuh si Ahok sekarang juga.” Nyanyian tersebut seolah sangat merdu dan syarie sekali. Tidak ada yang protes atau menghentikan nyanyian tersebut. Lagipula siapa yang berani menentang ulama bernama Rizieq? Tidak ada. Sehingga seruan-seruan ajakan pembunuhan terhadap Ahok menggema tak kalah nyaring dengan suara-suara takbir Allahuakbar.

    Namun kemarin, kelompok aksi 212 ini sudah berbalik arah. Mereka tidak hanya sekedar menjadikan kafir sebagai teman, mereka malah membela orang yang disebut kafir itu. Keyakinan mereka soal ayat suci, soal tafsir almaidah 51, entah sudah dilupakan atau pura-pura dilupakan.

    Tapi intinya begini teman-teman. Kalau saya pikir-pikir, kenapa HT dibela sementara Ahok diancam dibunuh? Jawabannya karena Ahok tidak berpihak pada mereka. Mungkin karena yang Ahok berangkatkan umroh itu bukan kelompok mereka. Mungkin yang dapat bantuan dan sebagainya juga bukan kelompok mereka. Ini mungkin lho ya, mengacu pada pernyataan pimpinan 212.

    Selain itu, beberapa bulan lalu memang Ahok menyinggung kelompok mereka, yang membohongi orang dengan ayat-ayat suci. Haram memilih pemimpin kafir, bahkan berteman saja haram.

    Sekarang pernyataan Ahok itu terbukti. Dalam kehidupan Islam yang sempurna, sebenarnya tidak ada larangan berteman dengan orang nonmuslim –atau katakanlah kafir kalau mengacu pada penilaian 212. Karena jangankan berteman, membela pun boleh.

    Jadi teman-teman pembaca Seword harap jangan menyalahkan 212 yang membela HT. Mereka ingin membela semua golongan, itu sudah benar dan sesuai ajaran Islam yang rahmatan lil alamien. Bahwa sebelum ini mereka berpikir sebaliknya, mungkin karena pelajaran agama mereka sebelum ini mereka belum sampai pada pelajaran memanusiakan manusia.

    Sehingga maklum kalau sebelumnya mereka kerap menyebut bahwa Ahok sebagai kutil babi, bukan manusia. Nah sekarang, mungkin karena mereka sudah masuk ke pelajaran yang lebih dalam tentang Islam, penilaiannya terhadap non muslim dan keturunan Cina sudah berbeda. Sehingga sekarang mereka bisa membela HT dan tidak menyebutnya kutil babi.

    Kita tidak boleh menyalahkan mereka hanya karena HT itu non muslim dan sama rasnya dengan Ahok. Jangan! Yang kita salahkan seharusnya adalah pokok permasalahan hukumnya. HT itu terjerat kasus pengancaman Jaksa, yang diduga terkait penyelewengan pajak. Tidak ada urusan dengan kriminalisasi penguasa. Kasus HT bahkan sudah ada sebelum 212 lahir.

    Saya kira itu. Saya senang akhirnya 212 berubah dari pemahaman jahiliyah kepada pemahaman yang lebih sempurna tentang ajaran Islam. tetapi di sisi lain saya tidak senang karena kini mereka membela para tersangka. Tersangka kasus pornografi, tersangka kasus SMS ancaman dan tersangka kasus penghasutan. Begitulah kura-kura.


    Penulis :   Alifurrahman   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Transformasi 212, Dulu Bela Islam Kini Bela Para Tersangka Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top