728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 16 Juli 2017

    Tikungan Maut Jokowi

    Berbicara Jokowi, tidak akan lekang dalam pikiran kita. Mulai gaya kepemimpinan yang ndeso, kepiwaiaannya dalam meningkat perekonomiaan rakyat, menjaga keberagaraman di Indonesia, menjadi pasar besar bagi Jokowi, sungguh ini mutiara yang diidam -idamkan publik selama ini.

    Pria yang kurus kerempeng dari Solo ini, memiliki aura yang luar biasa. Kecintaannya terhadap Indonesia terpampang jelas dari aura kepemimpinan yang memasyarakat. Inilah mutiara yang menjadi kebanggaan kita, betapa ia hadir di tengah kita, mutlak untuk kepentingan bangsa dan negara.

    Orang lurus, jujur dan bersih, tidak akan disenangi oleh orang-orang yang memiliki rasa dengki, iri hati, pendendam, singkatnya orang jujur akan difitnah dengan berbagai dalil dan berbagai bentuk serangan untuk menjatuhkan.

    Yah, aura Jokowi memang aura yang layaknya difitnah oleh pesaingnya. Saat Pemilihan Presiden tahun yang lalu pun, Jokowi difitnah, dengan isu SARA (Tabloid Obor rakyat) kampanye hitam mengiasi pertarungan Presiden dan Wakil Presiden pasca itu.

    Pasca terpilih jadi Presiden pun, Jokowi selalu ditekan dari berbagai lini. Fitnaan pun terus digaungkan dengan glorifikasi media sosial yang tidak bisa terbendung lagi. Mencap Jokowi adalah Kristen, Jokowi Komunis, Jokowi antek dari China dan berbagai bentuk fitnaan yang mereka sematkan.

    Tingkungan maut yang terus menghampiri Jokowi, tidak membuat mutiara ini kehilangan kilauan sinarnya. Bagi saya, mutiara ini, terus menampakan cahaya yang semakin indah nan menawan. Masyarakat Indonesia, memang masyarakat yang sentimentil. Mereka akan lebih menyukai dan jatuh hati dengan orang yang dizolimi secara berjemaah oleh oknum -oknum tertentu yang menaruh rasa benci, dengki dan terganggu.

    Harus diakui, dunia politik kita masih diwarnai berbagai bentuk kriminalitas dan kesesatan berpikir. Etika masih jauh dari budaya politik ketimuran kita. Menghalalkan segala cara masih menjadi jalan keluar mencari harta dan tahta untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok.

    Intrik-intrik jahat masih mewarnai perjalanan Kepemerintahan Jokowi. Mulai dari skenario mengkudetakan Jokowi pasca kasus penodaan agama oleh Ahok, yang akhirnya skenario itu gagal dilakukan.

    Skenario ini, terus berlanjut, HTI semakin menunjukan kegagahan yang menginginkan Indonesia dijadikan negara Khilafah yang mana, sejarah gerakan syariah Islam diberlakukan di Indonesia untuk memggantikan falsafah negara yang menjadi kesepakatn founding fathers kita sejak zaman kemerdekaan. Gelagat ini pun, berhasil dipatahkan oleh Pemerintah untuk membubarkan HTI yang merong-rong persatuaan dan ideologi bangsa kita.

    Tetapi, kita harus berbangga dan berterima kasih kedapan NU dan Muhammadyah dengan semangat Pancasila, UUD 1945 dan NKRI terus menggaungkan Kebhinekaan dan Persatuaan bangsa.

    Skenario ini pun terus berlanjut, mengganggu peradaban kebangsaan kita dan pemerintah Jokowi. Kita sebagai publik selalu dipertontontokan oleh elite kekuasaan untuk mengadu domba sesama anak bangsa dengan isu-isu yang penuh fitnaan dan tipu muslihat.

    Anggota dewan kita, mempertontonkan KPK harus diangketkan. Sampai dengan intrik-intrik mereka melemahkan KPK. Ada suara dari anggota dewan untuk membubarkan KPK, ada penafsiran UU KPK yang disampaikan Prof. Yusril, Pemerintah huruh P besar yang merujuk pada kekuasaan eksekutif. Dan dibantah oleh Prof. Mahfud MD yang mengatakan bahwa, ” Pemerintah (huruf P dalam tafsiran hukum konstitusi adalah Presiden. Kehati hatian ini pun, perlu dicermati secara seksama, baik pemaknaan huruf secara hukum maupun makna kalimat secara hukum pastinya.

    Bukan tidak mungkin, beban moral kebangsaan kita selalu diwarnai dengan tekanan dari berbagai pihak, intrik – intrik berbagai pihak segala segala bentuk amunisi yang mereka pakai.

    Apalagi ciutan dari Fadli Zon dan Fahri Hamzah di akun twitter yang tidak tidak merepresentasi dewan terhormat, apalagi lagi menyandang pimpinan dewan terhormat. Bicara dua politikus ini, menghabis habiskan energi saja. Alangkah lebih baik, saya yang masih muda nonton fiilm Upin Ipin atau Nyanyi Balonku Ada Lima saja lebih berborbot, ketimbang saya, membaca atau mendengar Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

    Bisa ditarik disologisme sajalah. Apa pernyataan Fadli Zon dan Fahri Hamzah dalam ciutan mereka dengan pengandaian film Upin Ipin dan nyanyian Balon Ku Ada Lima.

    Yuk, kita sama sama, Balon Ku Ada Lima (Balon Ku ada lima, rupa-rupa warnanya……X). Bagian dari merawat memori saat kecil dulu, mengingat saat merengek minta jajan di Orangtua, main lompat-lompat, main lumpur. Yah begitulah, statement Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang mungkin saja, saya merawat memori waktu kecil itu. Tetapi, yang menjadi pembedanya adalah anak kecil atau waktu saya kecil belum menyandang kata TERHORMAT lho?. Yah, sekitar umur 4 tahun, masih salah juga lho matematika. Dan membaca juga (contohnya Fadli Zon, saya membacanya Fadli Zonk. Atau Fahri Hamzah, menyebutnya Fahi Hamzah, saya ucapnya benar tetapi teman sebangku, karena malu Cadel, sukar melafalkan huruf R)

    Teman-teman sering mengejek dia . Dia pernah bercerita tentang MERECON yang dia nyalakan saat tahun baru kepada teman-teman. Dan kami pun tertawa sambil berkata, “kalo ga bisa bilang MERECON, bilang aja PETASAN!” Sungguh kejam. Dia paling benci jika disuruh menjadi pemimpin barisan. Dia pasti menolaknya. Karena dia malu, tidak bisa mengucapkan “SIAP GERAK!” “HORMAT GERAK!”  Yah begitulah anak-anak. Bukan sindiran yang di twitter itulah yang kadar intelektual rendah banget, apalagi yang menyadang Dewan Terhormat di Republik ini)

    Jokowi mengeluarkan Perpu, bukan tanpa sebab. Dentuman nurani publik yang mengatakan saya Indonesia, saya NKRI merupakan slogan luhur yang menjadi pegangan bersama. Betapa tidak mengingankan ada ormas radikal yang mengihiasi republik ini. Kita tidak mau, ada intimidasi atas dasar agama. Agama itu adalah luhur, dan suci. Kalau ada sekelompok orang yang mengkalim paling benar dan yang lain tidak benar, layak diuji kesehatannya. Siapa tau, ada gangguan kejiwaan dan mungkin ada saraf yang terputus.

    Perpu yang dibuat Presiden Jokowi, sudah tepat sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu, tidak usah kwatir dalam posisi ini, karena Indonesia butuh kedamaiaan, tenang dalam persaudaraan.

    Dan Jokowi, semakin diserang dan difitnah, semakin dia dicintai publik. Jokowi terlalu kuat untuk dijatuhkan, apalagi dengan intrik intrik yang penuh nuansa politis, sesat pikir dan penuh kedengkiaan. Sebesar apapun kegelapan dan kejahatan itu, tidak akan bisa mengalahkan cahaya dan kebenaran. Atau sebesar apapun dominasi gula dalam secangkir kopi, tetap orang menyebutnya secangkir kopi.

    Sampai saat ini, Jokowi menunjukan performa yang bagus, sebagai manager pengelola konflik. Dengan berbagai tikungan maut yang dihadapi, Jokowi masih mampu mengemudi negeri ini agar menjadi kendaraan yang nyaman, damai untuk semua suku-agama-ras- antargolongan


    Penulis :   Febrianto Edo    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Tikungan Maut Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top