728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 19 Juli 2017

    Terungkapnya Rencana Pembunuhan Terhadap Ahok yang Dibahas Melalui Aplikasi Telegram

    Tidak aneh mengapa pemerintah Indonesia memblokir situs layanan chatting Telegram. Selain karena jejaring kelompok teroris memanfaatkannya untuk kepentingan propaganda radikalisme, terorisme dan jalur komunikasi. Ternyata di dalamnya juga tersimpan berbagai rancangan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh publik, secara khusus dalam hal ini terhadap Basuki Tjahaja Purnama (BTP). Rencana pembunuhan tersebut dibahas berbarengan dengan rencana pengeboman mobil dan tempat ibadah pada 23 Desember 2015.

    Informasi tersebut dinyatakan oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan kepada salah satu media nasional. Kemenkominfo yang bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperoleh informasi bahwa ternyata sejak 2015, para teroris telah memanfaatkan Telegram sebagai alat komunikasi. Dan dari semua aksi yang terungkap sejak tahun 2015, hanya dua aksi yang tidak menggunakan aplikasi Telegram[1].

    BNPT mencatat bahwa setidaknya ada 17 aksi dan rencana aksi terorisme yang kedapatan menggunakan aplikasi Telegram sebagai alat komunikasinya. Semua informasi tersebut baru terungkap ke khalayak publik setelah pihak pengembang aplikasi menyatakan siap bekerja sama dengan pemerintahan RI guna menghadapi ancaman terorisme yang ada di Indonesia.

    Pemblokiran Telegram Bukan Tanpa Alasan Keamanan

    Dengan menimbang resiko ancaman yang besar terhadap keamanan Negara dan nyawa masyarakat, bagi saya, tindakan pemerintah untuk mengambil inisiatif memblokir situs Telegram memang sudah tepat. Tentu hal ini dilakukan bukan tanpa usaha komunikasi sebelumnya dengan pihak penyedia layanan. CEO sekaligus pembuat Telegram, Pavel Durov dari Rusia, sudah menyatakan permohonan maaf karena tidak memahami situasi yang terjadi di Indonesia.

    Durov juga mengakui bahwa sempat terjadi miskomunikasi karena pihaknya merasa tidak pernah dihubungi terlebih dahulu oleh pemerintah Indonesia. Padahal pemerintah RI melalui Kemenkominfo sudah melayangkan surat pernyataan kepada mereka sejak tahun 2016 silam[2].

    Pihak Telegram telah meresponi permintaan pemerintah RI untuk menutup channel bermuatan radikal dan terorisme pada situs Telegram secara positif. Bahkan mereka berencana membentuk semacam tim moderator khusus yang memahami bahasa dan konteks budaya Indonesia agar dapat menangani penyebaran konten radikalisme dengan lebih cepat dan akurat[3].

    Sebagai respons atas itikad baik ini, Kemenkominfo berjanji untuk mencabut status pemblokiran terhadap situs Telegram bila sudah terjalin win-win solution dalam menghadapi penyebaran konten terorisme dalam situs Telegram. Bayangkan saja bila rencana pembunuhan, penyerangan, pemboman dan sebagainya bisa dengan bebas dibahas serta dikoordinasikan tanpa dapat dipantau oleh pihak keamanan, betapa terancamnya stabilitas Negara dan nyawa masyarakat kita.

    Rencana Pembunuhan Terhadap BTP: Apa yang Harus Kita Pelajari dari Hal Ini?

    Rencana pembunuhan kelompok radikal dan teror terhadap BTP seharusnya menjadi sebuah sinyalemen bagi kita bahwa kelompok politik jangan bermain api. Itu terlalu berbahaya. Isu politik identitas yang selama ini diangkat oleh sekelompok kubu politis bisa menjadi bola liar yang tidak terkendali. Kelompok radikal rentan untuk menyusup ke dalam gerakan politik semacam ini. Dan itu sudah terbukti terjadi di dalam runtutan aksi pra dan pada saat pilkada DKI Jakarta 2017.

    Para elit perancang dan pelaku politik identitas jangan kira dapat terus mengendalikan kelompok radikal ini. Jangan kira bahwa kalian bisa menunggangi mereka untuk selamanya. Karena bila kelompok radikal mendapat angin dan menjadi besar di Negara ini, kalianlah, yang pada faktanya, telah berhasil ditunggangi dan diperalat oleh mereka.

    Kelompok radikal bukanlah anak yang jinak. Karena bila mereka sudah merasa cukup kuat, kelompok politik yang memanfaatkan mereka pun akan mereka tikam pada akhirnya. Akan selalu ada rencana pembunuhan terhadap tokoh publik yang dirasa menghalangi jalan mereka, tidak peduli agamanya apa.

    Sayangnya, dengan melihat tingkat pemahaman masyarakat terhadap pengajaran agama, kelompok ini akan sangat mudah menyusup ke lapisan akar rumput. Mereka hanya butuh dukungan dana dan kekuasaan politik saja dari kelompok politis yang mengira bisa mendapatkan jasa mereka. Setelah mereka besar, habis semua ditelan oleh mereka, termasuk kelompok politik yang sebelumnya memakai jasa mereka.

    Perppu pembubaran ormas radikal memang perlu dikeluarkan pemerintah, dan didukung penuh oleh masyarakat. HTI memang harus dibubarkan. Sudah ada sekitar 20 Negara mayoritas Muslim yang telah terlebih dahulu mengusir organisasi ibu mereka di sana, Hizbut Tahrir. RUU Anti Terorisme yang dibahas DPR RI sudah terlalu lambat. Apa sih yang kita bisa harapkan dari DPR RI? Ketua pansus RUU-nya pun (yang orang Gerindra) malah mengatakan bahwa Polisi-lah yang teroris, sedangkan pelaku teror yang tewas malah disebut sebagai mujahidin. Kurang keblinger equil-sariroti apalagi ini?

    Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword). Belajar dari rencana pembunuhan terhadap BTP yang diprakarsai oleh kelompok radikal, sudah saatnya masyarakat Indonesia berhenti diam. Dukung secara serius setiap keputusan pemerintah di dalam menjaga keamanan Negara kita dari kelompok radikal.

    Dukung pula para aparat penjaga keamanan yang mempertaruhkan nyawa dan menjadi incaran. Tak lupa, dukung ormas-ormas keagamaan yang selama ini terbukti konsisten membela NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Hormat saya bagi NU, GP Ansor dan Banser. Hanya merekalah yang pantas menyandang frasa “Hidup Mulia atau Mati Syahid” karena membela Negara.

    “Lho, bukannya itu slogan FPI Bang?”, FPI mah ga pantes. Mereka lebih cocok “hidup jones atau mati dapat bidadari.”

        Pesan tambahan: Sekali lagi, para elit politik yang merancang dan melakoni politisasi SARA, jangan bermain api. Kalau apinya membesar, yang habis terbakar bukan hanya anda, melainkan Indonesia.


    Penulis : Nikki Tirta    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Terungkapnya Rencana Pembunuhan Terhadap Ahok yang Dibahas Melalui Aplikasi Telegram Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top