728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 14 Juli 2017

    Telegram, Panci, Fadli Zon dan Kebodohan Struktural!

    Untuk pertama kalinya sepanjang hidup, saya merasa benar-benar malu sekali sebagai rakyat Indonesia. Maluuuu… ini akibat tweet pimpinan DPR kita, Fadli Zon. Berikut tulisannya.

    “Telegram dilarang krn dipakai teroris, harusnya penjualan panci juga dilarang dong? #rezimparanoid”

    Tulisan ini menunjukkan betapa wajah Indonesia sudah berada di titik terburuknya akibat ulah dan sikap pimpinan DPR nya. Sebelumnya Fahri Hamzah, kader PKS, dikeluarkan dari PKS, tapi sampai sekarang tetap jadi pimpinan DPR. Ini kalau orang luar negeri tahu, dijamin tertawa ngakak. Bukan karena sistem dan aturan kita yang tidak dihormati, tapi lebih kepada betapa tidak tau malunya orang-orang di DPR.

    Tapi soal Fahri itu mungkin urusan politik. Terlalu rumit untuk dijelaskan, sebab Fahri adalah bagian dari koalisi permanen dengan Fadli Zon. Jadi kita tidak malu-malu amet lah.

    Namun malam ini membaca tweet yang menyarankan panci juga dilarang, ini benar-benar kebodohan yang paripurna. Andai ini diucapkan oleh anak SMP, atau maksimal mahasiswa semester satu, saya bisa pura-pura tutup mata. Ini yang nulis begini pimpinan DPR yang terhormat, memiliki gelar akademik doktor.

    Fadli Zon yang sebelumnya menyebut pemerintah mengarah pada diktator gaya baru karena menerbitkan Perppu Ormas Anti Pancasila, sekarang melabeli pemerintah sebagai rezim paranoid karena memblokir telegram. Entah kebetulan atau tidak, ini jadi mirip dengan kelompok dan teman-teman Fadli Zon di panggung 411 yang sempat berorasi bersama dengan Fahri Hamzah. Suka melabeli orang. Dikit-dikit kafir, dikit-dikit china. Kreatif. Sebagai rakyat jelata, kita bisa tiru cara-cara mereka melabeli orang lain.

    Bagi saya pribadi, pemblokiran telegram bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Karena memang ada banyak group group yang dimanfaatkan teroris untuk koordinasi. Kelebihan telegram adalah karena bisa menampung lebih banyak member dibanding Whatsapp yang hanya 250 akun. Jadi koordinasi jauh lebih mudah.

    Sejak 2015, pendiri telegram Pavel Durov sudah menyatakan kebanggannya karena telegram dipakai oleh ISIS. Mereka kelompok teroris ini sadar betul bahwa telegram aman untuk digunakan dan tidak mudah terdeteksi.

    Tapi sebenarnya semua itu bukan alasan utama, bukan karena dipakai teroris. Pemerintah berencana memblokir telegram karena pihak telegram tidak mau bekerjasama dan menyediakan SOP yang baik untuk penanganan terorisme. China, Iran dan Arab Saudi sudah lebih dulu memblokir telegram. Seingat saya ada satu lagi negara yang memblokir telegram, tapi lupa. Intinya sudah ada 4 negara, dan Indonesia akan jadi negara ke 5 yang memblokir telegram andai pihak telegram tidak merespon sikap pemerintah kita.

    Soal ancaman pemblokiran sepertinya hampir semua perusahaan digital pernah mendapatkannya. Google pernah diancam akan diblokir jika tidak membayar pajak pada Indonesia. Dalam hal penanganan terorisme, Google dan Facebook pasti juga pernah berkomunikasi dengan pemerintah kita. Bedanya kenapa mereka belum diblokir, karena keduanya taat pada pemerintah dan mau bekerjasama memberantas terorisme.

    Hal-hal seperti ini kayaknya sama sekali tidak dipahami oleh pejabat pimpinan dewan terhormat kita. Sehingga dia mensejajarkan panci dengan telegram, hanya karena panci juga dipakai oleh teroris untuk membuat bom.

    Fadli Zon seharusnya sadar bahwa teroris menggunakan banyak platform, tidak hanya telegram. Mereka punya website, facebook, line, whatsapp dan sebagainya. Tapi apakah semuanya harus diblokir? Tidak. Asalkan mereka mau bekerjasama dengan pemerintah, menjaga ketahanan nasional, dan bersama memerangi terorisme. Kalau tidak, ya harus diblokir.

    Sementara panci adalah alat memasak yang lumrah digunakan oleh mayoritas manusia, mungkin juga termasuk Fadli Zon dan Fahri Hamzah, sebab saya tidak yakin mereka memasak dengan gelas atau cangkir.

    Bahwa kemudian panci digunakan untuk salah satu alat membuat bom, yang perlu dipahami adalah bukan pancinya yang meledak. Tetapi bahan kimianya. Panci hanya berfungsi sebagai tempat atau penutup.

    Telegram dan panci adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Telegram adalah tempat koordinasi, menyerukan aksi sampai menyediakan tutorial online pembuatan bom. Tanya jawab live dengan instruktur terorisnya. Sehingga tanpa telegram, maka mereka tidak bisa menggelar semua aktifitas tersebut.

    Berbeda dengan panci, panci itu tidak bisa meledakkan dirinya sendiri. Harus ada bahan kimia campuran untuk bahan peledak. Sehingga dengan atau tanpa panci, sebuah bom tetap bisa meledak dengan benda yang lain. Maka yang dibatasi atau diblokir bukan pancinya, melainkan bahan peledaknya. Dan itu saya rasa sudah diatur dan bahan-bahan tersebut tidak dijual bebas.

    Jadi kalau Fadli Zon menyarankan panci juga dilarang, sepertinya dia berpikir bahwa panci itu bisa meledak tanpa bahan kimia.

    Saya pikir hal-hal sederhana ini perlu diketahui oleh seorang doktor dan pimpinan DPR yang terhormat. Agar ke depan negara ini tidak dibuat malu oleh komentar bodoh struktural oleh satu dua orang pejabat penting. Begitulah kura-kura.


    Penulis :  Alifurrahman    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Telegram, Panci, Fadli Zon dan Kebodohan Struktural! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top