728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 17 Juli 2017

    Tanoe, Sang Tangan Tuhan

    Saya pernah beranggapan Tanoe itu manusia yang kebal hukum. Di masa lalu, jangankan orang biasa, anak Soeharto saja kalah saat terlibat sengketa kepemilikan TPI (sekarang MNC TV) dengannya. Dia ini manusia yang ulet, penuh perhitungan dan yang paling mencolok darinya, ambisius. Perusahaan Bakrie pernah kesulitan keuangan, Tanoe ini pula yang memborong sahamnya. Ucapannya yang saya ingat saat itu, “Sesama pengusaha harus saling membantu”. Betapa budiman orang ini, kata saya dalam hati.

    Tanoe dikenal dekat pula dengan presiden negara adikuasa, Trump. Kita ingat, mereka berdua membuat kerja sama baru saja sebelum Trump terpilih jadi presiden. Ini tentunya angin segar bagi Tanoe. Rekan bisnisnya adalah salah satu manusia yang diperhitungkan di dunia. Dengan hasrat yang serupa, saya melihat Tanoe terobsesi mimpi yang sama: menjadi kuda hitam dalam pencapresan mendatang. Dan ia benar-benar habis-habisan kali ini. Tidak seperti ketika masih nemplok di Nasdem atau Hanura. Tanoe mengerahkan seluruh kedigdayaannya.

    Dikabarkan oleh Alan Nairn, melalui pemberitaan Tirto, Tanoe ini ikut memperkeruh upaya pendongkelan Jokowi. Dengan kata lain, ia memainkan peran kunci untuk secepatnya merobohkan tampuk pimpinan tertinggi Negara ini. Atau setidaknya ikut memulai berdirinya rezim baru secepatnya tanpa menunggu pemilu berikutnya. Bersama gerombolan Cendana dan Cikeas, kabar anyir itu sempat begitu santer. Lalu hilang tanpa bekas.

    Kekuatan Tanoe adalah media. Mars Perindo sudah mencuci otak segenap lapisan masyarakat. Sebagian orang bahkan menganggap itu sebagai lagu nasional. Kita tahu, saluran yang digunakannya itu milik publik. Namun tidak ada teguran pencemaran ruang publik itu dari Pemerintah. Dengan begitu banyak media yang dimilikinya, Tanoe berkesempatan membuat framing besar-besaran. Kebisingan mars Perindo itu saja jelas sudah tak bisa dibenarkan, setidaknya dari sisi etika penyiaran. Namun Pemerintah bungkam.

    Ketika Tanoe terindikasi terjerat beberapa kasus hukum, saya sudah pesimistis jauh-jauh hari. Orang ini terlalu kuat. Hukum jelas akan tumpul berhadapan dengannya. Namun ketika gugatan praperadilannya ditolak pengadilan, saya terkejut. Hakim tunggal itu bernama Cepi, saya jadi ingat teman saya yang arsitek itu. Penolakan ini menurut saya cukup berani. Hal itu jika dilihat dari lembaga peradilan kita yang tak begitu bersih-suci. Apalagi kasus ini sebenarnya bukan persoalan besar. Padahal dengan sedikit pat-gulipat seperti biasanya, ini bisa jadi lahan yang empuk untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

    Tapi hakim bernama Cepi itu mementahkannya. Nasib Tanoe kini ditentukan oleh proses hukum selanjutnya.

    Tanoe memang pribadi yang serba mengejutkan. Orang-orang yang dulu memusuhinya, mengatakannya babi, najis, layak digorok lehernya, hari ini berbalik arah membelanya. Ia dengan penuh wibawa juga pernah masuk Gereja memberikan khutbah, dan masuk masjid memberikan ceramah. Dengan peci hitam, senyum menawan, orang-orang tampak berebut mencium tangannya. Mirip orang suci yang diicintai semua pemeluk agama. Nyaris mengingatkan kita pada sosok Gusdur.


    Drama indah yang melelahkan itu nyaris berakhir sempurna. 2019 setidaknya ia layak masuk radar penjaringan Capres-Cawapres. Apalagi partai yang dirintisnya telah mengindonesia raya. Di segenap pelosok kampung, gerobak dan bendera Perindo tersebar. Orang-orang sudah tak perduli luka-Cina-Ahok. Tanoe adalah sosok yang dianggap berkebalikan. Santun, dermawan, tegas, ramah, merakyat. Citra itu telah dimodali habis-habisan. Setidaknya melalui media-media yang dimilikinya.

    Namun sebuah SMS agaknya mengganjal dan membelokkan alur drama itu. Bukan ancamannya yang menarik bagi saya, tapi kalimat penutup di akhir pesannya. Di sana Tanoe menulis, “Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan.” Betapa ia penuh percaya diri mengatakan itu. Seolah-olah cita-citanya sudah ada di depan mata. Jika Ahok bisa menuai simpati dan dukungan yang begitu besar, kenapa dia tidak? Bukankah ia punya segalanya? Mungkin begitu bahasa gamblangnya.

    Kasus ini memang masih bergerak bebas. Bisa jadi, dengan kuasa yang dimilikinya, Tanoe mampu membelokkan laju kasusnya dengan elegan. Dan itu adalah bonus pencitraan yang brilian. Jika Tanoe menang, ia akan dianggap sebagai orang bersih yang dizalimi. Sebuah batu loncatan yang sangat tepat. Tanoe benar-benar akan jadi kuda hitam pada bursa Pilpres 2019. Dengan playing victim yang halus itu, ia akan meniru sejarah SBY. Dan ini saya kira yang tidak disadari oleh orang banyak.

    Pertandingan ini masih berlanjut Sodara-sodara. Biarpun seorang Cepi telah berlagak piawai menepis serangan Tanoe dengan satu tangannya. Namun bola rebound itu akan bergulir liar. Dengan kejelian dan koordinasi tim Tanoe yang mumpuni, boleh jadi akan terjadi keajaiban. Dengan sedikit trik dan manipulasi lapangan, peristiwa “tangan tuhan” sang mantan akan kembali kita saksikan. Dan jebreeeet…!

    Saat itulah berkumandang lagu wajib kita yang baru, “Marilah seluruh rakyat Indonesia arahkan pandanganmu ke depan…”



    Penulis   :  Kajitow Elkayeni   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Tanoe, Sang Tangan Tuhan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top