728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 11 Juli 2017

    Setelah Isu Cina dan PKI Gagal, Kini Isu Utang Didaur Ulang

    Bagi saya, Indonesia adalah negeri yang akan sulit berkembang jika Presidennya tidak nekat dan sedikit tutup telinga dengan isu-isu oposisi. Tapi itu dulu. Sekarang, di era media sosial dan serba terbuka, isu-isu lebih mudah berkembang biak menjadi sebuah kebenaran yang dapat diyakini secara paripurna. Sehingga saya berpikir, untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju, tidak cukup Presiden yang nekat dan tutup telinga dengan isu-isu oposisi, tetapi juga perlu kepedulian masyarakatnya dalam berpikir kritis serta melawan isu yang berkembang. Saya pikir tugas inilah yang diambil oleh saya dan 800-an penulis Seword saat ini.

    Sejak awal mengenal sosok Jokowi, saya sudah yakin dia adalah pribadi yang teguh dalam pendirian dan nekat. Kesimpulan itu saya dapat dari sepak terjangnya di bidang bisnis dan karir politik sejak di Solo. Bisnisnya berjalan mulus tanpa isu apapun, karir politiknya mengungguli semua politisi senior, bahkan mampu mengalahkan orang yang sudah beberapa kali ikut meramaikan kontestasi pemilihan Presiden di Indonesia: Prabowo.

    Bagi warga Solo, catatan prestasi Jokowi atau warisan berupa bangunan serta sistem birokrasi pemerintahan sudah pasti dapat dirasakan oleh mayoritas orang. Terbukti Jokowi mampu menang 90% suara di pemilihan Walikota Solo.

    Bagi warga Jakarta, Jokowi adalah sosok Gubernur yang tenang, santun dan mengedepankan musyawarah. Bahkan lawan-lawan politiknya mengakui hal ini. sehingga pembangunan dan penerapan sistem birokrasi yang manusiawi berjalan dengan baik, nyaris tanpa perdebatan ataupun kontroversi.

    Bagi warga di luar pulau Jawa, Jokowi adalah sosok Presiden yang mau datang ke daerah mereka berkali-kali. Membangun mega infrastruktur dan pelayanan publik yang lebih baik. Jokowi adalah Presiden yang sangat memperhatikan wilayah perbatasan. Pos Lintas Batas Negara di wilayah terluar Indonesia semuanya sudah dibangun dengan megahnya.

    Inovasi seperti tol laut, kapal listrik, pembangkit listrik hingga jalan tol yang membelah bukit dan gunung, dibangun dengan serius. Membangun jalan tol menyambungkan Papua seperti mimpi yang kini jadi kenyataan. Penerapan BBM satu harga, sampai mengaliri listrik di daerah-daerah terpencil untuk pertama kalinya sepanjang sejarah adalah sebuah kenyataan yang harus diakui oleh semua orang, termasuk lawan-lawan politiknya.

    Akan tetapi, sebaik-baiknya kinerja Jokowi, dia tetaplah seorang Presiden Indonesia yang posisinya sangat diminati dan diincar oleh banyak orang. Sehingga bagi lawan-lawan politiknya, hasil kerja dan kinerja positif pemerintah adalah nomer sekian, yang terpenting adalah bagaimana meruntuhkan citra Presiden agar di 2019 nanti kans kemenangan pihak opisisi bisa terbuka lebar. Mereka lebih perduli kepada nasib dan jabatan yang akan diraih, dibanding memikirkan kemajuan dan perkembangan bangsa ini. Omong kosong soal mantra “demi rakyat.”

    Demi kekuasaan, sekelompok orang rela menghalalkan segala cara, termasuk meski harus berbohong atau memfitnah seorang Jokowi. Anak cucu kita nanti mungkin akan tertawa terbahak-bahak jika tau bahwa seorang Jokowi yang hitam manis mirip kulit sawo dan logatnya medok tingkat kelurahan itu pernah disebut sebagai keturunan Cina. Tapi bagi kita yang menjadi saksi hidup saat fitnah-fitnah itu dihembuskan, itu bukan sesuatu yang layak untuk ditertawakan.

    Meski sekarang sebagian orang sudah tersadar bahwa selama ini mereka dibodohi dan dibohongi, namun tetap saja ada sebagian orang yang beranggapan bahwa Jokowi memang keturunan Cina. Atau minimal ada yang berpikir bahwa Ibu Sujiatmi bukanlah ibu kandung Jokowi. Setidaknya Jonru pernah membahas soal ini, dan pengikutnya percaya bahwa Ibu Sujiatmi bukan ibu kandung Presiden Indonesia saat ini.

    Sebagai pegiat sosial media dan pemilik Seword, saya sadar betul bahwa gelombang isu yang coba dimainkan oleh lawan-lawan politik Jokowi sebenarnya sudah sangat menjemukan. Nyaris tak ada varian atau terobosan baru. Cina, PKI, utang. Cina lagi, PKI lagi dan utang lagi. Begitu terus.

    Cina, PKI dan utang adalah 3 materi yang sulit untuk dibahas dan menjamin orang yang membaca atau mendengarnya akan meyakini dan menerimanya. Sesabar-sabarnya Ibu Sujiatmi menjelaskan sisilah keluarganya, sebagian orang korban propaganda politik akan tetap berpikir bahwa itu hanyalah kebohongan belaka. Setidak masuk akal apapun isu logo PKI (yang sebenarnya logo BI dan sudah bertahun-tahun digunakan) di uang kertas baru kita, tetap saja ada yang percaya itu logo PKI.

    Membahas dan menjelaskan 3 materi isu tersebut tidak seperti menjelaskan rumus matematika yang pada akhirnya pasti menghasilkan kesimpulan yang sama. materi tentang Jokowi adalah keturunan Cina, terlalu rumit untuk kemudian diyakini oleh para pendukung Prabowo, bahkan meskipun Jokowi mau untuk tes DNA seperti propaganda mereka. Menjelaskan bahwa Jokowi bukan keturunan PKI pun sangat rumit, sebab harus kembali pada kenyataan berpuluh tahun yang silam. Pun ketika menjelaskan soal utang luar negeri yang sekarang sudah mencapai ribuan triliun, sebijak apapun kita menjelaskan bahwa Jokowi hanya menerima warisan dan utang kita memang sudah lebih dari tiga ribu triliun, itu tak akan membuat puas orang-orang yang terlanjur kecewa dan masih berhalusinasi saat ini Presidennya adalah Prabowo.

    Tetapi jika diperhatikan, isu soal keturunan Cina perlahan sudah hilang tak berbekas. Ini karena beberapa waktu lalu mereka sedang menyerang Ahok. Setiap hari bicara Ahok. Sehingga secara tidak sadar, sepertinya mereka mulai menyadari betapa berbedanya Jokowi dengan Ahok secara fisik dan penampilan. Mana ada Cina item dan ndeso?

    Sementara isu soal PKI yang sempat menjadi pembicaraan hangat di media sosial dan event-event offline, dimanfaatkan oleh politisi-politisi yang berniat maju di Pilpres 2019, pun nyaris tak terdengar lagi. Saya merasa ini karena Presiden dengan tegas mengatakan:

    “Saya mau bicara mengenai masalah yang berkaitan dengan PKI. Karena sekarang ini banyak isu bahwa PKI bangkit, komunis bangkit. Pertanyaannya, di mana? Di mana? Karena jelas, susah jelas, di konstitusi kita jelas, ada TAP MPR bahwa komunisme dilarang di negara kita Indonesia. Jadi, kalau bisa tunjukkan pada kita, tunjukkan pada saya, saya akan gebuk detik itu juga!”

    Seingat saya ini disampaikan di Universitas Muhammadiyah Malang dan di hadapan TNI. Gongnya semakin sempurna karena Facebook Presiden yang merupakan sosial media paling aktif dibanding yang lain juga menayangkan kalimat serupa. Sehingga isu soal PKI kemudian meredup. Kalaupun sekarang masih ada yang membahas PKI, coba perhatikan, pasti sangat kecil sekali lingkup pembicaraannya.

    Setelah isu jutaan pekerja Cina datang ke Indonesia meredup, isu Jokowi keturunan Cina tidak mempan, isu PKI dijawab dengan lantang oleh Presiden, beberapa hari ini isu yang muncul adalah soal utang Indonesia.

    Soal utang luar negeri ini sebenarnya sudah lama saya bahas dan sudah pernah saya tulis di Seword. Isu-isu utang Jokowi dua kali lipat utang Soeharto dan sebagainya itu sebenarnya materi lama yang sekarang diulang-ulang lagi. Jika tidak percaya silahkan klik link ini https://seword.com/ekonomi/penipuan-publik-rimanews-soal-utang/ saya tulis Desember 2015.

    Saya tidak tahu pasti kenapa ada sekelompok orang yang rajin sekali membuat isu. tapi kalau dalam penilaian pribadi saya, sepertinya mereka sedang berusaha mengganggu, mencitrakan buruk pemerintahan Jokowi, agar di 2019 nanti mereka bisa menang, atau minimal tidak kalah telak. Begitulah kura-kura.


    Penulis : Alifurrahman   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Setelah Isu Cina dan PKI Gagal, Kini Isu Utang Didaur Ulang Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top