728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 11 Juli 2017

    Seruan Revolusi “Lengserkan Jokowi” Mangkrak, Hati-hati dengan Isu-isu Selanjutnya

    Seruan-seruan revolusi, lengserkan Jokowi, duduki Istana dan sejenisnya, kini sudah nyaris tak terdengar lagi. Setelah Anies Sandi menang di Pilkada dan Ahok dipenjara, sang orator utama -yang kerap meneriakkan kalimat provokatif- sudah kabur ke Arab Saudi. Sempat balik ke Malaysia, balik lagi ke Arab, dan belakangan sedang berada di Yaman. Si kambing podium itu tak berani lagi balik ke Indonesia dengan segala kasus hukum yang menjeratnya.

    Seruan revolusi kemudian terdengar seperti mengemis. Si kambing podium itu memberi pilihan rekonsiliasi atau revolusi. Namun itupun hanya sekejap saja. Seruan-seruan revolusi yang hanya lewat rekaman di twitter itu tak mampu menggerakkan massa. Si kambing podium yang direncanakan akan kembali ke Indonesia dan akan disambut oleh jutaan orang pun batal. Tidak berani. Sebab seruan revolusinya sudah tak menarik lagi.

    Di saat-saat seperti ini, muncul makhluk lain yang selama 6 bulan sudah 60 kali melaporkan sesuatu ke polisi. Terakhir, melaporkan Kaesang dengan tuduhan penodaan agama dan ujaran kebencian, karena Kaesang mengatakan “ndeso” di dalam vlog-nya.

    Skenario penodaan agama terlihat seperti ingin diulang, seperti yang pernah dilakukan kepada Ahok. Namun sayangnya Kaesang bukan Ahok. Videonya yang mengatakan “ndeso” adalah kata yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Tukul Arwana misalnya, sudah ribuan episode kata “ndeso” menemaninya mengisi acara Empat Mata dan Bukan Empat Mata. Satu Indonesia tau kalau “ndeso” itu bukan sebuah bentuk penodaan agama ataupun ujaran kebencian. “ndeso” hanyalah kata biasa, yang bisa diucapkan untuk bercanda atau menyindir, bukan menoda agama atau ujaran kebencian.

    Kaesang juga tidak bisa dipersepsikan buruk seperti label Cina dan kafir. Sebab Kaesang adalah orang Jawa ndeso dan muslim, bagian dari mayoritas rakyat Indonesia. Anak Presiden Jokowi, Presiden yang terpilih oleh mayoritas rakyat Indonesia.

    Sehingga dengan begini, cerita penodaan agama yang ingin diulang dengan harapan bisa memunculkan aksi demo berjilid-jilid, tidak berhasil.

    Sebagian pembaca Seword mungkin berpikir bahwa ini kasus yang bodoh sekali. Tidak jelas, menuduh orang menistakan agama hanya karena mengatakan “ndeso” dan menyindir sekelompok orang yang telah mengajarkan anak-anak kecil bernyanyi “bunuh bunuh bunuh si Ahok.”

    Tapi bagi saya, kasus ini perlu kita pahami sebagai bagian dari upaya-upaya mereka mencari momentum keributan dengan membuat isu atau mengangkat perkataan orang-orang di sekeliling Jokowi, untuk dikasuskan. Mencari isu-isu ataupun kebijakan pemerintah, untuk dijadikan alasan melaporkannya ke Polisi. Pertanyaannya kemudian, ini ada apa?

    Jika melihat trend nya, kasus tidak masuk akal dan serampangan ini sama seperti kasus palu arit di cetakan uang baru. Si kambing podium sempat berkoar-koar di media, bahwa ini adalah kebangkitan PKI, dan akan melaporkan BI, Menkeu serta semua yang terkait dengan cetakan uang baru kepada polisi. Meskipun kita dengan sangat sadar menyimpulkan bahwa itu cara berpikir negatif permanen, namun kenyataannya, ada juga sekelompok orang yang meyakini bahwa pemerintah Indonesia saat ini memang antek PKI. Lihat saja teman-teman atau orang-orang di sekeliling kalian, perhatikan, saya sangat yakin salah satu di antara mereka ada yang berpikir seperti itu.

    Dengan kondisi masyarakat yang masih belum siap menerima kenyataan dari kekalahan Pilpres 2014, serta belum puas dengan kemenangan di Pilkada DKI 2017 –karena levelnya hanya daerah- patut disadari bahwa setiap pergerakan, isu atau opini publik yang dibentuk oleh mereka, harus kita lawan tanpa kenal lelah. Jika lengah, sedikit saja, mereka bisa kembali turun ke jalan meneriakkan revolusi sambil mencaci maki sesama kita.

    Meskipun pembentukan isu Kaesang menoda agama gagal, seperti isu PKI di logo uang baru, tapi ini adalah tanda bahwa ada sekelompok orang, yang tidak terindetifikasi dengan jelas, sedang berupaya membuat keributan di negara ini. Mereka adalah orang-orang yang kebelet dan sangat berambisi untuk berkuasa, sehingga akan selalu tega untuk menghalalkan segala cara, termasuk meski dengan cara-cara ribut atau revolusi.

    Dalam situasi seperti sekarang, saya harap tulisan ini dapat dibaca oleh kalangan ring satu dan orang-orang terdekat Presiden. Ketahui, sadari dan pekalah terhadap sekeliling kita sekarang ini. Sedikit saja celah ucapan ataupun tindakan yang dapat dimainkan lewat pintu suku, ras, agama dan golongan, besok atau lusa, demo berjilid dan istilah lebaran kuda kemungkinan besar akan terulang lagi.

    Setiap isu dan opini yang coba dibentuk, harus kita lawan dan matikan sesegera mungkin. Seperti kasus Kaesang contohnya. Awalnya hanya terdengar di blog-blog yang tidak jelas penulisnya. Kemudian berkembang ke sosial media dan diangkat di media mainstream. Untung saja Polisi langsung merespon dengan cepat bahwa si pelapor sering melapor demi tujuan uang, memeras. Untung Polisi segera menjelaskan status pelapor yang tersangka kasus ujaran kebencian. Jika tidak, isu tersebut bisa menjadi sangat liar, terlebih jika ada sikap keagamaan atau fatwa MUI.

    Ke depan, kita masih akan menghadapi isu-isu gila dan tidak waras yang berhubungan atau bersinggungan dengan agama, suku, dan ras. Tujuannya sama saja sejak kekalahan 2014 lalu, melengserkan Jokowi.

    Terakhir, ini tentang kekuasaan. Tentang menjadi penguasa di negara subur dan kaya akan sumber daya alamnya. Saat ini suara revolusi mungkin sudah nyaris tak terdengar lagi, namun isu, pergerakan dan opini publik yang dibangun oleh kelompok anti pemerintah sudah sedemikian terstruktur, sistematis dan massif. Dan ini berarti mereka belum menyerah dan masih sangat berambisi untuk berkuasa, meskipun hanya beberapa hari saja. Begitulah kura-kura.



    Penulis :  Alifurrahman   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Seruan Revolusi “Lengserkan Jokowi” Mangkrak, Hati-hati dengan Isu-isu Selanjutnya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top