728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 20 Juli 2017

    Revolusi Mental ‘Hebat’ Jokowi Untuk Indonesia

    Revolusi mental yang digagas oleh Jokowi, adalah revolusi mental jilid dua. Setelah penganut radikalisme dan intoleran, seperti DI-TII, Masyumi dan PKI, ‘gagal paham’ pada revolusi mental jilid pertama, yang digagas oleh almarhum presiden pertama Ir. Soekarno di tahun 1957.

    Revolusi jilid pertama menyentuh nilai-nilai fisik. Sedangkan jilid dua ala Jokowi, lebih fokus untuk pembangunan mental atau karakter bangsa Indonesia, yang sudah terdegradasi sangat parah, karena ketidakmampuan pemerintah sebelumnya.

    Saat ini, ide ‘hebat’ revolusi mental jilid dua sedang naik daun, sejak Jokowi menggulirkan program ini yang menjadi jargon dalam pemerintahannya. Akibat merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan yang terakhir, melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional, di mana Jokowi yang paling disalahkan, padahal merosotnya perekonomian ini, adalah ‘salah urus’ pemerintahan sebelumnya. Sedangkan secara global, ekonomi dunia memang mengalami resesi yang sangat hebat.

    Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, berkarakter, cerdas, tidak seharusnya mengalami dan terbawa arus resesi ekonomi, jika pemimpin sebelumnya tidak melakukan ‘pembiaran’.

    Maka Jokowi terpaksa memasukkan revolusi mental jilid dua ini, sejak Pilpres tahun 2014 sebagai program unggulannya sampai sekarang, dan berkomitmen melakukannya terus-menerus dengan pembenahan di pemerintahan untuk mewujudkan revolusi mental ini.

    Namun, bagi lawan politik Jokowi, pemerintah seolah-olah ingin membangkitkan kembali ideologi komunisme di Indonesia, bahkan tidak sedikit yang mencibirkan gagasan ini dan menentangnya. Padahal, revolusi mental ini amat dibutuhkan untuk membabat habis mentalitas, mindset dan segala bentuk praktek buruk yang sudah mendarah daging sejak masa Orde Baru sampai sekarang.

    Gagasan revolusi mental yang merupakan usaha untuk memperbaharui pola pikir  dan kelakuan manusia, bisa ditemukan di semua ideologi negara, serta agama manapun juga. Dalam agama Islam pun, ada gagasan revolusi mental, misalnya manusia harus kembali kepada ‘fitrah-Nya’, tidak melakukan perbuatan dosa, dan kembali suci (seperti bayi baru lahir), dengan tidak melakukan perbuatan ‘korupsi’.

    Gagasan revolusi mental bukanlah produk komunis atau ideologi yang berhubungan dengan marxisme. Silahkan pembaca memahaminya, sedangkan bagi kaum sumbu pendek, jangan selalu nyinyir, dan pergunakanlah akal sehat dan waras.

    Revolusi mental merupakan urutan kedelapan dari sembilan poin, yang digagas Jokowi dalam program prioritas Nawa Cita, yang ditulis sendiri oleh beliau. di sini

    Nawa Cita gagasan Jokowi mampu menciptakan Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berkepribadian dalam bidang budaya, dan mandiri dalam bidang ekonomi, serta memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika dengan mengamalkan Pancasila untuk memperkuat karakter bangsa.

    Jokowi, mantan Gubernur DKI Jakarta ini, sekarang memang sedang sibuk-sibuknya melaksanakan perubahan yang dahsyat bagi negara dan bangsa Indonesia, membentuk, sekali lagi, membentuk Negara Indonesia Hebat yang kita cintai.

    Ada dua hal yang digagas Jokowi dalam revolusi mental ini:

    Pertama, sejak reformasi di tahun 1998, kita telah gagal membawa Indonesia ke arah cita-cita bangsa yang telah  diproklamirkan oleh para pendiri bangsa. Kemudian, diteruskan bergantian oleh empat presiden sebelumnya. Mereka memang berhasil mengangkat taraf hidup masyarakat dalam bidang ekonomi dan politik dalam berdemokrasi, namun gagal melakukan perubahan untuk memberantas budaya korupsi, intoleranisme dan radikalisme dalam membangun mental rakyat Indonesia.

    Kedua, sekarang inilah saatnya untuk mengkaji (mendaur) ulang dan melakukan tindakan korektif,  bukan menghentikan proses reformasi yang sudah berjalan, tapi mengubah dan memperbaikinya ke arah yang lebih baik lagi.

    Jokowi: ‘Perubahan karakter bangsa tersebut diperlukan untuk mencegah dan menghindari munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja yang tidak baik, bobroknya birokrasi, hingga ketidaksiplinan’.

    Pertanyaannya adalah, kenapa kondisi itu dibiarkan selama bertahun-tahun dan pada akhirnya hadir di setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara?

    Dengan mencanangkan revolusi mental dan menciptakan paradigma yang baru sesuai dengan  budaya Indonesia yang beradab, bersahaja dan berkesinambungan, maka diharapkan kata-kata seperti ‘bunuh, bunuh si-Ahok’ atau ‘bakar, bakar’ tidak akan terdengar lagi dalam budaya Indonesia.

    Keberhasilan Presiden Jokowi dalam meredam gejolak di Pilkada DKI, juga perlu diapresiasi. Hal ini menunjukkan keberhasilan sebagian besar masyarakat dan umat Islam yang cerdas dan waras untuk tidak terbawa arus, serta tidak termakan isu agama oleh kaum sumbu pendek, dengan alasan membela ulama dengan ‘aksi damai’ yang berjilid-jilid, dengan nomor togel yang tidak jelas, untuk melakukan makar, kerusuhan, atau hal-hal yang bisa merusak tatanan bangsa dan negara. Bahkan Presiden Jokowi sendiri, terjun langsung menemui mereka, berbaur dengan mereka, dalam ‘aksi damai’ ini.

    Dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Pengganti Undang-undang  (Perppu) no 2 tahun 2017, maka Presiden Jokowi lebih ‘gila’ lagi menghajar kaum radikalisme, intoleranisme yang menentang Pancasila, termasuk Partai terlarang, yaitu PKI (Partai Komunis Indonesia).


    esia).

    Presiden Republik Indonesia


    Dengan adanya Perppu no 2 tahun 2017, akan memotong kompas, dan jalan pintas terhadap Undang-Undang (UU) no 17 tahun 2013, karena jalur ini terlalu panjang dan berliku-liku. Di sinilah ketegasan Jokowi untuk menerapkan dan melakukan revolusi mental jilid dua, pada kaum radikal dan intoleran di Indonesia, di sini.

    Inilah yang perlu dan menjadi dasar untuk memiliki karakter bagi setiap warga negara Indonesia dengan menerapkan revolusi mental yang melekat dari Jokowi yang ditularkan kepada kita sebagai bangsa yang beradab.

    Jokowi tampil apa adanya

    Jokowi sering memakai baju putih,  yang melambangkan ketulusan hatinya, kejujuran dan tidak neko-neko, dengan lengan baju yang di gulung .

    Jokowi menyatakan bahwa kemeja putih polos itu murah meriah, nggak sumuk, ngirit dan dipakainya pas’. Dengan lengan baju yang digulung, Jokowi siap kerja di mana saja dan kapan saja untuk turun dan blusukan ke kampung-kampung.

    Tapi Jokowi tetap memasang lencana kepresidenan dan lambang negara di baju bagian dada kirinya, untuk membedakan Jokowi dengan kwalitas 2 (kw2) atau kw3, karena yang mirip dengan Jokowi masih ada, ‘nanti repot  mengaku-ngaku Presiden RI’ katanya.

    Dengan diterapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 6 tahun 2016, terhitung mulai Senin (8/2/2016), maka setiap hari Rabu di Departemen Dalam Negeri sudah wajib memakai kemeja putih. Kepala Biro Hukum Kemendagri Widodo Sigit Pudjianto mengatakan bahwa instansinya hanya menerjemahkan apa yang menjadi kehendak Presiden Joko Widodo soal revolusi mental, di sini.

    Gara-gara Jokowi  sang Presiden, maka . . . . . . menjadi trending topic

    Apapun yang dilakukan Jokowi, baik yang tersirat maupun tersurat dalam masyarakat, selalu menjadi buah bibir, sehingga menjadi viral di kalangan netizen. Mulai memakai payung biru ketika Jokowi kehujanan untuk bergabung dengan aksi yang dilakukan kaum bumi datar di togel 212, memakai jacket bomber Zara pada saat aksi 411, memelihara kecebong, yang setelah menjadi kodok, dielus kemudian direbus, sampai mati pelan-pelan, kata bung Denny Siregar, dan masih banyak lagi, yang menjadi bacaan segar setiap hari.



    Simbol payung melambangkan kerendahan hati dan warna biru menyatakan kecintaan kepada rakyatnya sebagai seorang pemimpin dengan menyetarakan dirinya dengan rakyat, dan sekaligus juga simbol seorang pemimpin yang selalu melindungi rakyatnya dengan payung kasih dan perhatian, untuk mengembalikan revolusi mental yang ingin dibentuk Jokowi untuk rakyat Indonesia.

    Jokowi Presiden rakyat, suara rakyat suara kejujuran.

    Blusukan,  inilah dia kata kunci Jokowi yang dimulai saat menjabat sebagai Walikota Solo sampai sekarang sebagai Presiden Republik Indonesia, entah siapa yang mengubah kata blusukan menjadi kunjungan kerja (kunker), Jokowi banyak melakukan bagi-bagi sepeda sambil kunker dengan santai mendatangi rakyatnya.

    Di kalangan pemerintah sebelumnya juga dikenal dengan nama kunker, yang akan menghabiskan anggaran pemerintah yang luar biasa. Memang banyak yang tidak jujur di negeri ini ya!

    Tapi blusukan atau kunker ala Jokowi, tidak banyak menghabiskan anggaran pemerintah, karena kesederhanaan Jokowi dalam melakukan apa adanya.

    Presiden Jokowi sudah kembali kepada rakyat.

    Etos kerja adalah pola pikir atau motivasi, yang dalam bahasa planetnya adalah mindset kita untuk bekerja. Etika kerja adalah tata-cara (disiplin) kerja yang berlaku di perusahaan pemberi kerja. Etos kerja Jokowi adalah kerja, kerja, kerja. Sedangkan etika kerja di pemerintahan adalah seturut atau disesuaikan dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku.

    Seandainya etos kerja kita adalah kerja, kerja, kerja dengan tidak ada keinginan untuk melakukan korupsi, seperti yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi, sedangkan peraturan dan undang-undang melarang untuk melakukan tindakan korupsi, maka etos kerja kita itu sama dan sejajar (istilah matematika), dengan etika kerja itu sendiri.

    Inilah salah satu revolusi mental yang akan dicapai oleh Jokowi. Yang menarik adalah, Jokowi mencontohkan etos kerja rakyat dan masyarakat Republik Rakyat Tiongkok (RRT), di sini, tapi penulis ingin mencontohkannya dari sisi yang lain tentang etos kerja (rakyat)  RRT.

    Karyawan/i RRT adalah pekerja keras, terutama di perusahaan industri, pertambangan, pabrik dan kerajinan tangan. Mereka tidak terlalu ngotot untuk upah uang lembur dalam bekerja, tapi cukup diberikan nasi bungkus untuk makan malam selama kerja lembur, bukan nasi bungkus untuk demo-demo yang tidak produktif, seperti kejadian demo yang berjilid-jilid di Indonesia.

    Karena etos kerja dan pola pikir (mindset) mereka adalah kerja keras untuk membangun bangsa, rakyat dan negara RRT bersama-sama, lihatlah hasilnya sekarang! Dengan krisis ekonomi dunia yang dahsyat, pertumbuhan ekonominya masih tetap survive dengan angka 6% – 7%.

    Namun, sebaik apapun Jokowi, tidak ada jaminan dirinya didukung oleh rakyat dan masyarakat Indonesia, yang telah dipengaruhi oleh kaum bumi datar, dan kaum …….

    Jika Jokowi mampu menjadikan Indonesia kembali menjadi macan Asia sekalipun, saya kira tetap ada pihak yang tidak suka kepada Jokowi. Mereka akan terus mencari cara agar bisa menggulingkan Jokowi dengan cara apapun.

    Kecuali kita sebagai rakyat Indonesia yang masih ingin bangsa kita maju menjadi bangsa yang besar, mau mendukung  penuh (full support)  kepada kepemimpinan Presiden Jokowi, sebagai pemimpin masa depan.

    Begitulah kura-kura.


    Penulis : Patrick Christ   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Revolusi Mental ‘Hebat’ Jokowi Untuk Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top