728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 15 Juli 2017

    Presidium 212 Bela Hary Tanoe, Kenapa Tidak Bela “Pahlawan Medsos” Buni Yani??

    Ironis memang melihat kelakuan mereka yang merasa diri paling benar dan paling memahami tentang agama, tetapi mereka juga yang paling getol melanggar dan menista nilai-nilai keagamaan tersebut. banyak bertebaran sekarang mereka yang mengaku pemuka dan pemimpin agama tetapi malah hidupnya tidak beres. Hal ini terjadi di setiap agama.

    Fenomena ini terjadi kemungkinan besar karena mulai bergesernya panggilan seorang pemuka dan pemimpin agama sebagai sebuah profesi. Kalau panggilan jelas tujuannya adalah memuliakan yang memanggil, kalau profesi adalah menyenangkan dan melakukan keinginan yang menggaji. Itulah tidak heran kita banyak menemukan para pemuka atau pemimpin agama selebritis dan sangat tajir.

    Tidak heran juga kalau kita menemukan yang namanya tarif yang dipasang kalau ingin mengundang seorang pemimpin atau pemuka agama. Bahkan ada yang meminta fasilitas tertentu. Semakin tinggi pamornya, maka akan disesuaikan tarif dan fasilitasnya.

    Itulahh mengapa tidak heran juga kita melihat saat ini agama dijadikan komoditas politik. Para pemuka dan pemimpin agama bahkan menjadikan agama untuk menjatuhkan lawan politiknya dan demi mendapatkan kekuasaan. Itulah mengapa, sangat mengerikan konstelasi dan kenstetasi politik di Pilkada Jakarta. Karena agama sudah jadi komoditas politik.

    Bukan sebuah fatamorgana, tetapi ini nyata dirasakan. Semua menjadi takut memilih Ahok karena ancamannya sudah sampai menyentuh penyolatan jenazah. Parahnya, sudah ada kejadiannya. Lalu setelah ada kejadian tersebut, barulah sibuk salah satu calon membuat seruan. Seruan yang hanya sekedar aksi cuci tangan.

    Sekarang agama sudah tidak lagi diperlakukan sebagaimana mestinya. Bukan hanya digadaikan tetapi dilacurkan atas nama kepentingan dan uang. Fakta ini dapat kita lihat dengan aksi pembelaan yang dilakukan oleh Presidium 212 kepada Ketua Umum Perindo, Hary Tanoesoedibjo (HT).

    Beginilah penjelasan mereka mengapa mereka membela HT..

        “Dari awal langkah Presidium Alumni 212 itu melawan ketidakadilan dan kezaliman yang dilakukan rezim penguasa terhadap rakyatnya, mulai dari ulama, aktivis, tokoh politik, ormas Islam dan lain sebagainya. Hary Tanoe adalah korban kriminalisasi juga, korban ketidakadilan dan kezaliman penguasa juga,” ujar Ketua Presidium Alumni 212 , Ansufri Idrus Sambo dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/7).

        “Kita tidak bela perorangannya HT, tapi kita bela adalah orang yang dizalimi, siapapun dia. Pembelaan Presidium Alumni 212 kepada HT bukanlah sebagai dukungan kepadanya sebagai tokoh politik, tapi hanya semata membela orang yang dizalimi siapapun dia, walaupun kita sangat berbeda dalam pandangan politik dengan HT, ini adalah urusan yang lain lagi,” jelas Sambo.

        “Kami yakin bahwa Insyaallah tindakan ini akan bermanfaat di kemudian hari untuk perjuangan umat. Semua ini kami lakukan mudah-mudahan untuk mencari ridhoNya dan untuk membela kepentingan kaum muslimin di negeri ini, Insyaallah,” tutupnya.

    Kalau dulu semangatnya membela Islam, maka kini perjuangan sudah melebar. Perjuangan yang tidak lagi persoalan membela Islam yang hanya jadi komoditas politik dan aksi demo, kini mereka akan melakukan perjuangan membela siapa saja yang mau dibela. Mau disini entah ada bayarannya atau tidak, kita lihat saja apa mobil dan harta baru yang dimiliki pimpinan aksi.

    Alasan demi keadilan dan lain sebagainya hanyalah alasan licik dan busuk. Padahal kalau memang benar-benar membela korban kriminalisasi, mengapa tidak membela Buni Yani?? Bukankah Buni Yani yang emmicu membesarnya pernyataan Ahok??

    Padahal, kalau mau jujur, sebenarnya yang lebih pantas dibela itu adalah Buni Yani yang menjadi pemicu munculnya sebuah gerakan bernama 212 tersebut. Bukan Hary Tanoe yang baru bergabung dengan kubu mereka saat semua sudah ramai. Lalu mengapa Hary Tanoe yang dibela, bukan Buni Yani??

    Semua memang kembali menjadi sebuah pembenaran atas kecurigaan dan keraguan pembelaan agama yang terus mereka gelorakan selama ini. Sangat menyedihkan kalau melihat fakta dimana mereka mau membela HT tetapi tidak mau membela Buni Yani. Semuuanya takluk atas nama kepentingan dan kepuasaan duniawi.

    Buni Yani kini harus meradang dan berjuang sendiri. Sedangkan mereka menikmati pengorbanan Buni Yani dengan membela orang tajir dan bohiir. Sebuah pelajaran bagi kita yang mau menjadi seperti Buni Yani. Sebentar lagi pelapor Kaesang pun, MHS, akan bernasib sama dengan Buni Yani. DILUPAKAN.

    Selamat menikmati hasil aksinya Presidium 212. Ingatlah satu hal. Gusti Ora Sare!!

    Salam Gusti Ora Sare!!


    Penulis :   Palti Hutabarat     Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Presidium 212 Bela Hary Tanoe, Kenapa Tidak Bela “Pahlawan Medsos” Buni Yani?? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top