728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 15 Juli 2017

    Presiden Jokowi Bilang Islam Radikal Bukan Islam Bangsa Indonesia, yang Radikal Mau Ngomong Apa?

    Indonesia adalah negara yang majemuk, beragam dalam arti yang sebenar-benarnya. Pesona kemajemukan atau keberagaman ini menjadi buah bibir di dunia internasional. Banyak turis, pun para peneliti berbondong-bondong datang ingin melihat lebih dekat apa arti hakiki kerukunan dalam sangkar kepelbagaian itu di Indonesia ini, yang dibingkai manis dalam genggaman cakar burung Garuda. Semangatnya adalah semangat “Bhinneka Tunggal Ika”

    Banyak pemimpin dan kepala negara dari berbagai belahan dunia yang mengagumi kemampuan Indonesia mengelola kerukunan dan keberagaman. Ini bukan cerita baru barang baru. Ini sudah turun temurun, maka jangan coba-coba kita rusak.

    Nah, Presiden Jokowi tercinta kembali bersuara. Suara yang gaungnya menggema sampai ke pelosok negeri, menghantam siapa saja yang tak pernah mau menerima perbedaan dalam keberagamaan, sesuatu yang sebetulnya adalah rahmat Tuhan yang tiada mungkin didustakan. Menolak perbedaan dan keragaman sama artinya menolak Tuhan sang Maha Pencipta yang telah menciptakan semuanya sempurna sesuai kehendak-Nya.

    “Indonesia bisa sebagai rujukan, menjadi contoh, menjadi role model bagi negara lain,” kata Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Pembukaan Halaqah Nasional Alim Ulama di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis 13 Juli 2017.

    Presiden meyakini bahwa kekaguman dunia pada kerukunan yang terjadi di Indonesia karena kemampuan umat Islam Indonesia dalam menerapkan Islam yang rahmatan lil alamin. Semuanya itu dapat dapat terwujud karena peran alim ulama yang terus menerus berperan aktif dalam memberikan tuntunan kepada seluruh ummat.

        “Tuntunan untuk mewujudkan Islam yang Wasathiyah, yang moderat, yang santun dan bukan Islam yang keras, bukan Islam yang radikal. Islam radikal bukan Islamnya Majelis Ulama Indonesia. Islam yang radikal bukan Islamnya bangsa Indonesia,” kata Presiden. Ini sudah amat Jelas dan crystal clear.

    Jadi tatkala ada yang mengajarkan umat kekerasan. Mengajarkan umat untuk “bunuh… bunuh… gantung…. gantung”, maka Anda dapat menilai sendiri jenis macam apa orang-orang yang bicara itu, siapapun dia.

    Beberapa bulan lalu hati saya begitu miris dan sedih menyaksikan ada sekelompok anak kecil yang teriak sambil nyanyi “bunuh…bunuh….Ahok” Entah setan siapa yang mengajarkan mereka seperti itu. Rasa-rasanya yang ngajar mereka pasti bukan manusia biasa, tetapi setan utusan iblis.

    Itulah sebabnya, pesan penting Presiden Jokowi menjadi begitu penting, harus disimak baik-baik, ditelaah, dan dilakukan. Jangan hanya melongo dan bengong kayak orang bego. Bahwa betapa pentingnya kita menjaga kerukunan sembari menghormati keberagaman.

    Presiden mengharapkan agar para alim ulama dapat berperan aktif menuntun ummat mempererat tali silaturahim, mempererat kerukunan dan bukan hanya kerukunan di antara umat Islam sendiri. “Tapi juga Ukhuwah Wathaniyah, antar anak-anak bangsa dalam semangat persatuan.” Sungguh luar biasa Presiden kita ini. Pandangannya jauh ke depan. Pernyataan-pernyataannya menyentuh nurani paling dalam di hati setiap insan manusia.

    Tak lupa Presiden Jokowi juga mengingatkan bahwa sudah menjadi kodrat bangsa Indonesia selalu ditantang dalam mengelola keberagaman, dalam mengelola kemajemukan dan dalam mengelola ke-Bhinneka-an.

    “Dan dalam kehidupan bernegara kita yang bhineka, kita beruntung memiliki Pancasila, ideologi negara dan pandangan hidup bangsa. Pancasila yang menjadi panduan kita bersama dalam menjalani langkah, dalam menempuh perjalanan sejarah sebagai sebuah bangsa yang majemuk, bangsa yang beragam,”  kata Presiden penuh semangat.

    Pancasila dengan Islam bukan untuk dipertentangkan, bukan pula untuk dipisahkan. Pancasila itu dasar negara. Islam itu akidah yang harus kita pedomani.
    “Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Pancasila mengakui dan menghormati nilai-nilai ketuhanan, sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Pancasila berdampingan dengan Islam dan berdampingan pula dengan agama-agama lain yang dianut oleh rakyat Indonesia.”

    “Kita harus pegang komitmen kebangsaan kita. Tidak boleh lagi di antara kita  ada yang mempunyai agenda lain, ada yang memiliki agenda politik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan untuk meruntuhkan NKRI yang berbhinneka tunggal ika. Tidak boleh lagi di antara kita, ada yang memiliki agenda mengganti Negara kita  dengan sistem pemerintahan dan kenegaraan  yang bertentangan dengan Pancasila” — Jokowi, 2017″

    Kata-kata Presiden ini amat sangat menohok, sampai ke ulu hati dan kena dikit di jantung, terutama jantungnya para radikalis. Untuk mengawal semangat ini, tentu tak berlebihan Presiden telah mengeluarkan PERPPU yang ‘mengatur’ serta ‘mengawasi’  ormas-ormas. Sudah sangat tepat.

    Pengalaman Saya di New York || Ada beberapa bagian di kota New York yang membuat tempat ini diistilahkan sebagai ‘Melting Pot’, merupakan bentuk penggambaran betapa padat dan beragamnya kota ini, saya melihatnya tak ubah Jakarta dalam hal keberagamaanya, hanya saja di sana pendatangnya dari berbagai negara di dunia.

    Bagaimana dengan bahasanya? Menakjubkan. Sekitar 800 bahasa dipakai dan dipergunakan di New York, menjadikannya sebagai kota yang memiliki bahasa paling beragam di dunia. Walaupun tentu saja bahasa Inggris tetaplah menjadi bahasa utama di sana, bahasa kedua terbanyak digunakan (bahasa resmi kedua) adalah Spanish. Namun bahasa Cina, Jepang, Italia, dan Perancis juga cukup banyak digunakan.

    Perkembangan penduduk di New York memang terlihat cukup cepat. Lihat saja data statistik mereka, populasi penduduk pada tahun 1990 adalah sekitar 7 juta orang, hanya berselang 10 tahun (2010) sudah bertambah sebanyak 1 juta orang menjadi lebih dari 8 juta orang. Penambahan penduduk secara eksponensial ini tentu meningkatkan densitas ‘kota termahal’ di dunia ini.

    New York sendiri adalah sebuah kota multiethnic dan multicultural. Hampir 40% penduduknya adalah kumpulan para pendatang. Menjadikan kota ini sebagai salah satu di antara beberapa kota di Amerika yang dihuni oleh bangsa pendatang terbanyak. Di banding kota-kota lain di Amerika, New York bertengger di nomor urut satu sebagai kota dengan terbanyak pendatangnya.

    Para pendatang yang mendominasi New York antara lain datang dari China, Jamaica, Mexico, Russia, Ecuador, Haiti, dan masih banyak lagi. Bagaimana dengan agamanya? Oh, sudah pasti sangat beragam. Menurut data statistik yang ada di departemen kependudukan New York , terlihat jelas bahwa jumlah penduduk Muslim di Amerika Serikat meningkat tajam dalam satu dekade terakhir.

    Jumlah umat Muslim di negeri Paman Sam itu bahkan mengalahkan jumlah pertambahan warga Yahudi untuk pertama kalinya, di sebagian besar daerah Midwest. Ada salah satu Mesjid di New York yang rupa-rupanya menjadi tempat favorit bagi para pendatang dari Indonesia, yaitu Mesjid Al-Hikmah.

    Banyak pemimpin mesjid di Amerika yang mengatakan bahwa mereka mengambil pendekatan yang fleksibel terhadap Al-Quran dan hadist Nabi Muhammad dengan tentu saja mempertimbangkan kehidupan modern Amerika masa kini.

    Setelah peristiwa September 11, ternyata mendorong Mesjid untuk lebih aktif lagi menunjukkan interaksi dengan agama lainnya di Amerika. Walapun ada pengketatan terhadap setiap pendatang baru dan terhadap orang-orang muslim yang mau masuk Amerika, tetapi untuk kalangan intern Amerika maka jelas terlihat bahwa keeratan Islam dan agama-agama lain justru makin meningkat.

    Saling menghargai itu ternyata bukan hanya mimpi dan fatamorgana belaka. Rupa-rupanya itu semua masih bisa kita lihat selagi kita masih hidup di dunia ini, asal kita semua mau dengan kerendahan dan ketulusan hati membuka diri dan membuka hati, membuka pikiran untuk hal itu.

    Mesjid yang terbesar di Amerika, kalau saya nggak salah, sampai saat ini rekornya masih dipegang oleh Islamic Center of America yang berlokasi di Dearborn, Michigan. Mesjid ini dapat menampung lebih dari 3.000 jamaah.

    Populasi penduduk yang beragama Kristen di New York sendiri mencapai 70% dengan jumlah gereja diperkirakan sebanyak 2000 bangunan gereja. Tapi ada juga gereja yang ‘hanya’ menggunakan community halls atau tempat-tempat pertemuan lainnya yang jumlahnya juga sudah mencapai ribuan banyaknya.

    Di kota ini juga berdiri megah gereja terbesar di New York State, dan bahkan mungkin yang terbesar di Amerika yaitu the Episcopal of St John the Divine. Di tempat yang sama ini hidup berdampingan mereka yang beragama lainnya, termasuk Budha, Hindu, dan Yahudi.

    Saya pernah melihat di depan sebuah mesjid yang sementara dibangun terpampang indah tulisan yang isinya begini, “Help us build the House of Allah and He will build one for you in Jannah.” Hanya beberapa lorong setelahnya ternyata ada gereja yang sementara membangun juga, dan ada spanduk bertuliskan, “Help us build this house of worship and He will repay you in Heaven.” Berdampingan secara rukun ternyata indah!

    Kura-kura saja bisa rukun dan damai, masak manusia nggak…? Think!

    (Sumber Data Pidato Presiden: Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden)


    Penulis :   Michael Sendow      Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Presiden Jokowi Bilang Islam Radikal Bukan Islam Bangsa Indonesia, yang Radikal Mau Ngomong Apa? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top