728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 22 Juli 2017

    Menganalisis Gaya Komunikasi Jokowi Dibanding 6 Presiden Sebelumnya

    Menarik mencermati Jokowi dalam memimpin sebuah nation sebesar Indonesia. Banyak pihak yang mencermati dan mengamati berbagai segi keunikan seorang Jokowi, mulai dari gaya kepemimpinannya, manajerialnya, namun saya lebih tertarik untuk mencermati Jokowi dari sisi komunikasinya. Terutama tentang gaya komunikasi yang dilakukan Presiden ke tujuh Indonesia ini.

    Tapi tentunya saya akan coba membandingkan gaya komunikasi Jokowi dengan Presiden Indonesia sebelumnya. Dari Mulai Bung Karno hingga Mantan Presiden SBY. Apa kesamaan mereka dan apa pula perbedaannya. Namun, sebelum terlalu jauh –meski terkesan klise- kita definisikan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan komunikasi dan apa pula yang dimaksud dengan gaya komunikasi.

    Sungguh banyak definisi dari komunikasi, saya coba ketengahkan satu saja. Komunikasi menurut salah seorang pakar ilmu komunikasi, yakni Harold Laswell pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In which channel? To whom? With what effect?). Sementara Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan sebagai seperangkat perilaku antarpribadi yang terspesialisasi digunakan dalam suatu situasi tertentu (a specialized set of intexpersonal behaviors that are used in a given situation).

    Gaya komunikasi merupakan cara  penyampaian dan gaya bahasa yang baik. Gaya yang dimaksud sendiri dapat bertipe verbal yang berupa kata-kata atau nonverbal berupa vokalik, bahasa badan, penggunaan waktu, dan  penggunaan ruang dan jarak. Pengalaman membuktikan bahwa gaya komunikasi sangat penting dan bermanfaat karena akan memperlancar proses komunikasi dan menciptakan hubungan yang harmonis. Nah, untuk melengkapi artikel ini, saya akan mengulas sekilas mengenai gaya-gaya komunikasi menurut teorinya ada enam gaya komunikasi dari Steward L.Tubb & Sylvia Moss, yaitu :

    1. The Controlling Style

    The Controlling Style Adalah gaya komunikasi mengendalikan. Ciri khas gaya ini adalah adanya kehendak untuk membatasi dan mengatur perilaku. Komunikasinya cenderung berjalan satu arah, dan cenderung memusatkan perhatian pada pengiriman pesan dibanding upaya memperoleh umpan balik.  Umumnya, pemakai komunikasi ini tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain. Mereka menggunakan kekuasaan untuk membatasi dan memaksa orang lain, mengendalikannya untuk mengikuti pandangan-pandangannya. Komunikasi semacam ini biasanya berbentuk kritik, atau persuasi kepada orang lain yang bersifat mengendalikan dan memberi contoh.

    2.The Equalitarian Style

    The equalitarian style adalah gaya komunikasi dua arah yang dilandasi aspek kesamaan. Ciri khas gaya komunikasi ini adalah adanya arus komunikasi timbal balik. Komunikasi cenderung dilakukan secara terbuka. Gaya komunikasi dua arah lebih efektif dalam membina empati dan kerja sama karena pengguna komunikasi semacam ini cenderung memiliki rasa kepedulian dan mampu membina hubungan baik dengan pihak mana pun.

    3.The Structuring style

    Gaya komunikasi ini adalah gaya komunikasi yang terstruktur, memanfaat pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tesebut.

    4. The Dynamic Style

    The Dynamic Style adalah gaya komunikasi yang dinamis dan agresif, biasanya digunakan oleh juru kampanye, marketing, dan sales. Komunikasi semacam ini bertujuan menstimulasi, merangsang, dan memengaruhi orang lain untuk melakukan suatu tindakan. Gaya komunikasi ini sangat berorientasi pada tindakan sehingga tepat digunakan dalam kondisi kritis.

    5. The Relinguishing Style

    Gaya komunikasi ini adalah gaya komunikasi yang lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengiriman pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain. Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengiriman pesan atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.

    6. The Withdrawal Style

    The Withdrawal Style adalah gaya komunikasi yang menghindari keterlibatan dalam persoalan. Penyebab seseorang menggunakan gaya komunikasi ini bisa jadi karena masalah pribadi, atau ketidaksiapan dalam komitmen maupun konsekuensi. Ciri khas gaya ini adalah menghindari masalah, bukan menyelesaikan masalah. Karena itu, gaya komunikasi semacam ini dinilai tidak layak diterapkan dalam sebuah organisasi, apalagi sebuah negara.

    Gambaran umum yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya komunikasi lainnya : structuring, dunamic dan relinguishing dapat digunakan secara strategis untuk menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi. Dan dua gaya komunikasi terakhir: controlling, dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat dan produktif.

    Selain teori di atas, ada juga yang membagi gaya komunikasi seseorang ke dalam dua bentuk yang lebih sederhana, yakni gaya komunikasi formal dan gaya komunikasi kasual. Gaya komunikasi formal menggunakan bahasa yang lebih terstruktur, kurang gaul, kepribadian menjadi lebih teratur, dan jarang menggunakan lelucon yang tidak pantas serta emosi lebih diatur. Sementara gaya komunikasi kasual lebih santai dan menggunakan struktur bahasa sehari-hari yang lebih gaul. Gaya komunikasi ini lebih memungkinkan untuk bermain-main dan membuat lelucon serta emosi lebih bebas untuk diungkapkan.

    Nah, setelah menjelaskan singkat mengenai teorinya, bagaimana dalam tataran prakteknya ? Bagaimana menempatkan Jokowi dalam bingkai teori-teori tersebut ? Bagaimana pula dengan enam Presiden sebelumnya ? Gaya komunikasi seseorang tidak cenderung berada dalam satu quadran. Bisa jadi merupakan gabungan dari berbagai quadran tergantung situasi serta kondisinya, tetapi tentu saja ada yang lebih mendominasi sehingga membuat seseorang kemudian dikategorikan memiliki gaya komunikasi tertentu.

    Jokowi sendiri berada dalam quadran “The Equalitarian Style” di mana komunikasi yang disampaikannya berlangsung dua arah dan terbuka. Hal ini tercermin dari kegiatannya yang intens, seperti “blusukan” atau ketika berkomunikasi dengan rakyatnya dari berbagai kalangan. Ia tak segan mengundang rakyat dari berbagai kalangan serta berbagai profesi untuk datang ke Istana negara, menjamu mereka dan berdialog. Mulai dari pemusik, pelawak stand up comedy, hingga ojeg online.

    Jokowi pun adalah seorang pemimpin yang memiliki gaya komunikasi kasual. Ia sering mengundang masyarakat dari anak SD, nelayan, untuk maju ke depan menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan dari Presiden mengenai beragam hal untuk kemudian mendapatkan hadiah sepeda dari beliau. Gaya dialog yang disampaikan secara santai, penuh humor dan tidak berjarak. Itulah sifat Jokowi yang terekam dalam masa kepemimpinannya. Ia tidak berjarak dengan rakyatnya.

    Gaya yang mirip juga dilakukan oleh Gus Dur atau Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia ke 4 yang terkenal egaliter. Dalam derajat tertentu juga dilakukan Bung Karno. Kita sering mendapatkan cerita bagaimana dialog Bung Karno dengan rakyatnya, misal cerita Marhaen, seorang buruh tani di daerah Bandung Selatan, yang di kemudian hari namanya dipakai sebagai wadah perjuangan Bung Karno, Marhaenisme.

    Tapi Bung Karno juga cenderung memiliki gaya The Dynamic Style adalah gaya komunikasi yang dinamis dan agresif. Komunikasi semacam ini bertujuan menstimulasi, merangsang, dan memengaruhi orang lain untuk melakukan suatu tindakan. Gaya komunikasi ini sangat berorientasi pada tindakan sehingga tepat digunakan dalam kondisi kritis. Hal ini terekam jelas dari orasi-orasinya. Sehingga orang menjuluki Bung Karno sebagai orator ulung.

    Bagaimana dengan Soeharto ? Presiden kedua Indonesia ini memiliki gaya The Controlling Style. Ciri khas gaya ini adalah adanya kehendak untuk membatasi dan mengatur perilaku. Komunikasinya cenderung berjalan satu arah, dan cenderung memusatkan perhatian pada pengiriman pesan dibanding upaya memperoleh umpan balik. Namun, ada kalanya beliau bisa lebih bebas dan lepas, semisal dalam kegiatan Kelompencapir, di mana Soeharto berdialog dengan para petani.

    Habibie memiliki kecenderungan gaya “The Equalitarian Style” mungkin karena lama di benua Eropa di mana masyarakatnya lebih terbuka sehingga gaya komunikasinya lebih fleksibel dan terbuka. Megawati dan SBY lebih condong kepada gaya komunikasi The Structuring style gaya komunikasi yang terstruktur, memanfaat pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi, meski terasa lebih kental derajatnya pada SBY dibanding Mba Mega.

    Itulah sekilas mengenai gaya komunikasi para pemimpin kita. Gaya mereka berbeda yang juga menunjukkan karakter leadership mereka yang otomatis juga berbeda. Mari kita belajar dari gaya komunikasi tersebut, dan mengambil yang terbaik untuk diterapkan dalam hidup kita pribadi.
    Referensi :

    Judul Buku: Komunikasi Organisasi: Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan
    Nama Penulis: R. Wayne Pace dan Don F. Faules
    Editor: Deddy Mulyana, M.A., Ph.D.
    Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
    Tahun Terbit: 1998

    Penulis :   Akhmad Reza   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Menganalisis Gaya Komunikasi Jokowi Dibanding 6 Presiden Sebelumnya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top