728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 21 Juli 2017

    Mampukah Prabowo Merangkul Islam Garis Keras Sekaligus non-Islam Garis Lembut Namun Keras?

    Setelah Fadli Zon mulai pesimis dengan pencalonan Prabowo pada Pilpres 2019, apa yang masih tersisa dari mantan menantu Presiden ke-2 Republik Indonesia ini? Gara-gara ambang batas Presiden 20 persen yang dikehendaki Pemerintah untuk syarat Pilpres, benar-benar membuat Fadli Zon gebres-gebres (Jawa: bersin-bersin). Lampu kuning pun menyala terang untuk mantan suami Siti Hediati Hariyadi ini.

    Sampai-sampai politisi Partai Gerindra yang terkenal karena gaya gravitasi dua bibirnya melontarkan sebuah kenyiyiran bahwa Pemerintah sengaja menjegal pencalonan Prabowo. Kelihatan kalau Fadli Zon tidak berhitung bahwa tanpa sengaja dijegal pun, Prabowo bisa terjegal dengan sendirinya. Ini terjadi ketika angka popularitasnya tidak bisa menandingi AA Gymnastiar untuk Jawa Barat.

    Sebagaimana dilansir Poltracking, popularitas Da’i berpoligami ini hingga menembus angka 90 persen lebih. Ini tentu berkah tersendiri bagi ustadz pendukung aksi 212 yang menjadi begitu populer. Mungkin keteladanan suami berjamaah Teh Rini dan Teh Ninih ini bisa diteladani Pak Prabowo.

    Masih ada waktu dua tahun. Kabar mau rujuk dengan Ibu Titik layak dihembuskan pelan-pelan, selain menambah satu istri lagi, supaya dalam waktu dekat bisa punya dua istri seperti AA Gym. Seorang ustadz yang mulia akhlaknya dan luhur qolbunya berkat manajemen qolbu yang diterapkan secara syar’i kepada kedua istrinya berdasarkan azas keadilan.

    Namanya saja siapa tahu dan insya Allah. Dengan rujuk dan menikah lagi hingga punya dua istri diharap-harap cemas bisa mendongkrak popularitas Pak Prabowo seperti AA Gym yang tembus angka 90 persen lebih.

    Mengapa teladan AA Gym yang saya rekomendasikan untuk Pak Prabowo? Ya, tidak mungkinlah saya menyarankan supaya Pak Prabowo memperhatikan syiar syuper syuur dari Ustadz Syamsuddin Nur Makka. Mengingat konteksnya adalah dalam rangka mendongkrak popularitas dan bukan soal menahan-nahan hasrat seks seperti disyiarkan Ustadz Syamsu. Sebagaimana disyiarkan, bahwa karena lelaki menahan-nahan nafsu seks, maka Alloh SWT nanti akan sediakan pesta seks di syuurga. Syiar demikian paling-paling hanya ditertawakan Pak Prabowo sebagai muslim sejati yang berwawasan luas.

    Kembali kepada soal mengapa popularitas bagi Pak Prabowo penting. Tidak lain karena prestasi Presiden Jokowi memang tiada lawan. Presiden keenam RI yang sudah sepuluh tahun berkuasa saja hingga tidak bisa berbangga dengan album-albumnya. Sampai-sampai dibuat kehilangan ide untuk merilis album baru. Rencana merilis album Tour de Java saja dibuat mengambang gara-gara jejak kaki Jokowi di Hambalang.

    Praktis, tugas berat bagi Pak Prabowo untuk menjaga stamina mengingat soal popularitas dan elektabilitas, Presiden Jokowi saat ini sulit dibendung. Beberapa isu basi semisal PKI, tuduhan anti Islam karena pembubaran HTI dan sejenisnya sudah tidak mempan. Buktinya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia termasuk sangat tinggi. Dari enam peringkat teratas, Indonesia bertengger di tempat teratas. Diikuti Swiss, India, Luksemburg, Norwegia dan Kanada.

    Lesatan yang cukup jauh. Meningkat 28 persen dibandingkan tahun 2007 lalu yang baru mencapai 52 persen. Pada tahun 2016 angka kepercayaan publik mencapai 80 persen. Angka cantik dan cukup fantastik.

    Data tersebut, sebagaimana diberitakan detik finance, dikeluarkan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) dalam publikasinya berjudul Government at a Glance 2017, yang dipublikasikan pada Senin (17/7/2017).

    Nah, dalam situasi seperti ini, bagaimana Pak Prabowo menjaga asa?
    Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menuturkan, sampai saat ini elektabilitas ketua umum Partai Gerindra itu masih di bawah Jokowi. Demikian ujar Hermawan kepada JPNN, Selasa (18/7/2017) sebagaimana dilansir Kroniknews.com:
    “Prabowo memang satu-satunya calon yang saya kira mampu menandingi (popularitas, red) Jokowi. Itu pun sangat berat.”

    Namun, menurut profesor riset di LIPI itu, Prabowo kemungkinan baru bisa menandingi elektabilitas Jokowi jika sejumlah program pemerintahan saat ini gagal total. Padahal, dunia mencatat betapa kinerja Jokowi sungguh luar biasa. Lalu, haruskah ayah Didiet Prabowo ini menyerah?

    Masih ada harapan. Pasangan Ahok-Djarot yang mantap di kinerja saja mampu dikalahkan oleh janji manis Anies-Sandi. Kuncinya hanya satu. Pak Prabowo harus mampu merangkul Islam garis keras pada satu sisi, dan pada sisi lain tidak boleh melupakan eksistensi non-Islam garis lembut namun keras atau pun sebaliknya.

    Mengapa? Mengingat keluarga besarnya punya keyakinan yang berbeda dengan mantan Danjen Kopassus itu. Kecuali keluarga besar Prabowo mendapat inayah setelah rajin mendengar syiar syuper syuur dari Ustadz Syamsu.


    Penulis :   Setiyadi RXZ   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mampukah Prabowo Merangkul Islam Garis Keras Sekaligus non-Islam Garis Lembut Namun Keras? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top