728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 15 Juli 2017

    Kena Batunya, Hidayat Pelapor Kaesang Akhirnya Ditahan

    Jika kita cari gara-gara maka gara-gara akan kembali mencari kita. Itulah yang saya ketahui dan banyak contohnya. Ini pula yang menjadi nasib dari Muhammad Hidayat yang beberapa waktu lalu melaporkan Kaesang Pangarep terkait video yang berisi dugaan ujaran kebencian. ‘Dasar Ndeso’ adalah kalimat pamungkas yang ternyata menjadi senjata makan tuan.

    Dari sini pula, dirinya jadi terkenal, karena berhadapan dengan anak seorang presiden. Dan kehidupannya pun diobrak-abrik dan ketahuan belangnya. Ternyata orang ini juga pernah jadi tersangka ujaran kebencian pada karena pernah mengolok polri terkait aksi 411. Dan tidak hanya sampai di situ, malunya bertambah ketika ketahuan juga kalau orang ini pernah 60 kali bikin laporan dan diduga untuk melakukan pemerasan.

    Maksud hati ingin jadi sok pahlawan, ternyata tak lebih dari seorang titik titik. Maling teriak maling. Melaporkan orang lain karena ujaran kebencian padahal sendirinya juga pernah terlibat. Melaporkan orang lain yang ternyata ada agenda di balik itu semua.

    Seperti yang dikatakan, cari gara-gara maka gara-gara akan cari kita. Mungkin orang ini besar kepala karena 60 kali buat laporan dan adem ayem saja. Tak disangka yang menjadi korban pelaporan selanjutnya adalah Kaesang. Barulah kena batunya. Boroknya ketahuan semua. Bau yang selama ini tersimpan akhirnya merebak keluar.

    Padahal dia tidak ditahan (ditangguhkan penahanannya) dengan dasar kemanusiaan karena sudah tua. Dari sini saja orang ini harus sadar atau bila perlu berkaca. Seharusnya ini dijadikan introspeksi karena sudah diberikan kesempatan kedua untuk tidak buat ulah. Eh, memang dasarnya tidak kapok, malah dilanjutkan. Apa boleh buat. Dikasih hati minta durian. Yang di dapat malah durinya saja.

    Sekarang Hidayat harus terima nasibnya atas kelakuan konyolnya sendiri. Hidayat yang pernah berstatus tersangka ujaran kebencian akhirnya resmi ditahan setelah diperiksa selama 12 jam di Polda Metro Jaya. Usai pemeriksaan, dia dibawa untuk diperiksa kesehatannya sebelum dibawa ke ruang tahanan.

    Play victim pun dimainkan. Katanya ini adalah bentuk kriminalisasi oleh penguasa yang zalim. Dengan menggunakan jurus yang sama, dia akan melakukan perlawanan salah satunya lewat praperadilan. Cara lainnya adalah melaporkan Kapolda Irjen Iriawan dengan dugaan hasutan ke Mabes Polri. Padahal dari sepak terjangnya, banyak blunder yang dibuat tapi masih tidak sadar dengan kesalahan tersebut. Malah kembali ingin melaporkan Kapolda.

    Terserah dia mau bilang apa. Mau bilang ada intervensi pemerintah, modus menghentikan laporan terhadap Kaesang, atau apa pun itu, silakan mempertanggungjawabkan itu semua di pengadilan. Dan, oh iya, menurutnya ada kriminalisasi. Lagi-lagi kriminalisasi. Luar biasa sekali cara mengelaknya. Jadi apa pun itu, tinggal katakan kriminalisasi lantas minta dibebaskan. Tidak pas rasanya bawa-bawa kriminalisasi. Bagaimana dengan laporan sebanyak 60 kali yang diduga buat pemerasan? Bukankah itu bisa juga disebut kriminalisasi? Siapa yang teriak siapa nih sebenarnya?

    Dan satu lagi, saya baru teringat. Alumni 212 lakukan aksi untuk membela tokoh yang diduga dikriminalisasi, seperti Rizieq, HTI, dan HT. Tapi kenapa saya tidak mendengar ada aksi bela Hidayat? Mungkin tak ada hubungannya. Kalau pun mau bantu, sepertinya sulit karena mereka sendiri juga sedang kewalahan menghadapi prahara internal. Kalau begitu, kesimpulannya Hidayat berjuang sendiri, tak ada yang mengawal, ya sudah lah, apa boleh buat. Jadi single fighter.

    Saya ingat pernah membaca buku di mana manusia sering kali melakukan kebohongan, dan untuk menutupi kebohongan tersebut biasanya diperlukan kebohongan lain untuk menutupinya. Dan biasanya pula, lingkaran ini tak pernah putus kecuali ada sebuah peristiwa besar yang membongkar itu semua. Topeng-topeng yang dipakai, tidak peduli seberapa banyak lapis, pasti suatu saat akan terbuka. Lihat saja mereka yang sering cekcok dengan Ahok atau pemerintah, lama-lama ketahuan juga belangnya.

    Berusaha menutupi diri dengan topeng kebohongan adalah pekerjaan sia-sia, cepat atau lambat bakal luntur. Dan konsekuensinya, kena durian runtuh, bukan dalam arti rezeki nomplok tapi kepala kena durian. Kesialan menimpa.

    Seperti yang dialami Hidayat, awalnya tidak banyak yang kenal orang ini. Tapi karena cari kerjaan, akhirnya topengnya terbongkar. Awalnya dia katakan membantu polisi dalam penegakan hukum, tak tahunya kepolisian mengatakan ada dugaan pemerasan dari laporan yang dibuatnya terdahulu. Sekarang, dia kena batunya dari perbuatan sendiri. Bukan salah siapa-siapa.

    Bagaimana menurut Anda?


    Penulis :   Xhardy    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kena Batunya, Hidayat Pelapor Kaesang Akhirnya Ditahan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top