728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 Juli 2017

    Kang Dedi Mulyadi, Si Tukang Ngarit yang Kian Melejit

    Saat ini, selain Presiden Joko Widodo, ada sosok lain yang sepak terjangnya selalu menginspirasi, serta kerap menjadi perhatian dan perbincangan publik. Ia seorang anak desa kelahiran Jawa Barat bagian utara, tepatnya Subang. Waktu kecil ia sering ngarit (menyabit rumput untuk memberi makan domba), menggembala domba, pernah menjadi pembuat bata, tukang ojek, pencari belalang di sawah, penjual es bonbon dan layang-layang. Semua upaya itu dilakukan untuk survive diri dan keluarganya, agar bisa makan dan bersekolah. Intinya, sembilan bersaudara ini, saat kecil dulu adalah keluarga yang perih, prihatin dan sengsara.

    Namun itu dulu, puluhan tahun lalu. Adapun sekarang ia adalah seorang kepala daerah di sebuah kabupaten di Jawa Barat yang berkat usahanya dikenal hingga ke mancanegara. Purwakarta Jawa Barat, sebuah kabupaten di Jabar yang dulu masih dikira sama dengan Purwokerto Jawa Tengah, karena sentuhan sosok ini sekarang sering disebut-sebut namanya karena berbagai capaiannya yang spektakuler. Salah satunya adalah karena di sana sekarang ada Taman Air Mancur kelas dunia, terbesar setidaknya se-Asia Tenggara, Taman Air Mancur Sri Baduga, yang menjadi destinasi wisata baru yang sangat populer di Jabar dan Jobodetabek saat ini. Dibuka sekali dalam seminggu, setiap malam minggu, dan bisa menghadirkan sekitar 50 ribu pengunjung dalam sepekan.

    Sebelumnya sosok ini pernah menjadi anggota DPRD termuda pada masa masanya, lalu menjadi wakil bupati (juga termuda pada masanya), dan akhirnya menjadi bupati di kabupaten yang sama, Purwakarta, selama dua periode. Sekarang ia tengah menjalani bulan-bulan terakhirnya sebagai bupati Purwakarta untuk periode kedua. Inilah Haji Dedi Mulyadi, atau yang biasa disebut Kang Dedi Mulyadi, atau cukup Kang Dedi.

    Kini namanya telah tercatat sebagai salah satu nama pemimpin di Indonesia yang sangat populer di negeri ini, baik di dunia nyata maupun maya. Bahkan, untuk popularitasnya di medsos semisal Facebook, popularitasnya sudah mengalahkan hampir seluruh tokoh politisi nasional yang sudah lama malang melintang di blantika politik dan media sosial. Kita bisa membuktikannya sendiri.

    Secara pribadi, saya termasuk telat mengenal sosok ini, kalah ketimbang mengenal sosok-sosok lain yang banyak beredar di negeri kita belakangan. Kurang lebih 12 tahunan yang lalu (sekitar 2005-2006), sebenarnya saya sempat membaca namanya disebut-sebut secara positif di sebuah media cetak oleh Rieke Dyah Pitaloka, anggota DPR dari PDIP. Saat itu Kang Dedi masih menjadi wakil bupati Purwakarta. Secara garis besar, dari Rieke saya mendapat penggambaran bahwa Kang Dedi dari Purwakarta ini adalah sosok muda yang visioner yang sangat mencintai pedesaan. Catat, pedesaan…! Gemah ripah loh jinawi adalah ungkapan yang mewakili visinya.

    Waktu itu, hanya itu yang saya tahu tentang Dedi Mulyadi. Dan tidak ada lagi informasi mengenainya yang saya baca atau dengar. Namanya seolah tenggelam di dasar bumi, hingga saya tidak sempat mendengar namanya disebut-sebut orang. Apalagi rentang waktu setelah itu masyarakat kita lebih banyak disodori informasi dan kemunculan berbagai tokoh nasional baik lama maupun baru. Nama Dedi Mulyadi benar-benar tersembunyi dari publisitas. Meskipun sebenarnya ia sering muncul pula di televisi, semisal dalam acara rutin mingguan Damailah Indonesiaku di sebuah stasiun TV, tetapi kemunculannya terasa biasa saja. Setidaknya, bagi saya pribadi, Kang Dedi tidak dikenal dan tidak familiar.

    Sepuluh tahun kemudian, sekitar tahun 2015, masyarakat Indonesia makin mengenal sosok baru dan sering diberitakan media, khususnya untuk skope Jawa Barat. Sosok ini berasal dari Bandung, dan menjadi walikota Bandung, yakni Ridwan Kamil. Bisa dikatakan, tahun 2015 adalah tahun bersinarnya Ridwan, karena saat itu ia sebagai walikota Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika di Bandung. KAA menjadi panggung strategis yang membuat namanya makin terkenal bagai selebritis. Slogan Bandung Juara makin familiar, dan pemberitaan mengenainya banyak menghiasi berbagai media, terutama media online.

    Sekalipun RK menjadi walikota Bandung sejak 2013, namun popularitasnya melejit tinggi sejak 2015, karena ada momentum KAA tersebut. Sejak itu ia sangat populer, termasuk di mata saya. Maka, saat nama Ridwan meroket waktu itu, Dedi Mulyadi seolah belum dikenal orang banyak. Hingga akhirnya saya membaca berita tentang sejumlah festival budaya yang Dedi adakan di Purwakarta, baik tingkat nasional, Asean, Asia Pasifik hingga tingkat Dunia.

    Sesudah itu berturut-turut terdengar berita bahwa Dedi Mulyadi adalah satu-satunya kepala daerah di Indonesia yang berbicara di atas podium PBB di New York, sebagai pemimpin muda (the inspiring young leader) inspiratif, yang menggemakan salam Sunda sampurasun ke pentas dunia. Kemudian disusul oleh langkahnya yang membuka Sate Maranggi di Amerika Serikat, dengan nama OMG, Original Maranggi Grill.

    Lalu dari TV kita menyaksikan acara langsung peresmian Taman Air Mancur Sri Baduga, yang spektakuler hingga disebut-sebut sebagai Taman Air Mancur terbesar setidaknya se-Asean. Juga tentang pembelian 100 mata air di Purwakarta oleh pemkab, kebijakan Malam Purnama, ATM Beras, penggalangan beras perelek, seminar iket dan budaya Sunda di Filipina yang mengundangnya, Dana Investasi Desa (Desa Mandiri), dan berbagai gebrakan dan program lainnya yang mencuri perhatian dan sangat mencengangkan.

    Maka sejak saat itu, nama Dedi Mulyadi terus berkibar dan melesat. Kecepatan grafiknya berlipat-lipat, dan akhirnya menyalip popularitas banyak tokoh, termasuk tokoh nasional sekalipun. Saya masih selalu ingat, sejak namanya mencuri perhatian di akhir 2015, pada bulan November 2015 fanspagenya di Facebook baru disukai oleh 60 ribuan liker. Pada waktu yang sama, Ridwan Kamil sudah disukai oleh 1,4 jutaan liker. Kang Dedi termasuk yang telat menggunakan Facebook. Karenanya sangat jauh perbedaan antara dirinya dengan Ridwan.

    Namun, seiring dengan kontroversi dan capaian kerjanya yang berkelas dunia, penyukanya di Facebook terus bergelombang besar. Dalam sehari ada penambahan puluhan ribu liker. Makanya, sekarang, Juli 2017, yakni 21 bulan kemudian, jumlah liker fanspage Facebook atas nama Kang Dedi Mulyadi melesat jauh meninggalkan semua public figure nasional. Hanya satu sosok yang masih belum disusulnya.

    Saat ini, 11 Juli 2017, liker atas nama Ridwan Kamil berjumlah 3.005.275. Lalu berapa liker Kang Dedi yang 20 bulan lalu jauh di bawah Kang Emil? Per 11 Juli 2017 ini, liker Kang Dedi adalah 9.054.482. Luar biasa, tiga kali lipat di atas RK, jauh meninggalkannya dan rupanya akan sulit dikejar.

    Saya juga coba membandingkan dengan beberapa figur populer nasional lain yang lebih dahulu dikenal oleh publik netizen. Saya coba melihat fanspage resmi mereka pada hari yang sama. Ganjar Pranowo sebesar 209.102 liker. Anies Baswedan sebesar 918.162. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebanyak 2.396.456. Susilo Bambang Yudoyono yang cukup aktif di medsos pada beberapa tahun belakangan, sebanyak 5.941.000. SBY kalah oleh Agym (Abdullah Gymnastiar) yang disukai oleh 6.194.239. Lebih kalah lagi oleh Presiden Joko Widodo yang belum begitu lama aktif di Facebook, yakni sebesar 7.322.504. Dari sini terlihat, di Facebook semua figur nasional tadi sudah dikalahkan oleh Kang Dedi Mulyadi yang terlambat menggunakan FB, yakni sekitar 2 tahun lalu.

    Hanya satu tokoh nasional yang belum dikejarnya di Facebook. Coba tebak siapa? Prabowo Subianto. Capres yang dikalahkan oleh Jokowi 2014 lalu itu, yang sudah lama aktif dan banyak berinteraksi di medsos sejak lama ini, sekarang disukai oleh 9.553.893. Kang Dedi kalah suara sekitar 500 ribuan liker. Namun, melihat grafik popularitasnya di FB yang disukai puluhan ribu per hari, ditambah sosok pesona Prabowo yang nampaknya (maaf) sudah stagnan dan mulai pudar, nampaknya tidak lama lagi Prabowo akan segera disalip oleh Kang Dedi. Saya menduga, Agustus 2017 ini Kang Dedi sudah meninggalkan Prabowo dan terus menjauh.

    Jika popularitas di media Facebook menjadi ukuran, maka terlihat jelas bahwa netizen kini menyaksikan ada sosok pemimpin baru yang masih segar, inspiratif dengan gebrakan yang mengagumkan, dan makin menarik perhatian orang banyak, khususnya para netizen. Biar tidak ketinggalan, sekaligus mengamati perkembangan, para netizen bisa mengikutinya secara langsung di fanspage FB atas nama Kang Dedi Mulyadi. Apalagi belakangan ini Kang Dedi sering melakukan Siaran Langsung di FB, dalam berbagai kegiatannya dan kerapkali membawa narasi andalannya, budaya dan desa.

    Seperti terlihat di FB, Kang Dedi sangat aktif berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai kalangan. Ada banyak videonya di fanspage FB yang mendokumentasikan berbagai macam aktivitasnya yang menarik dan edukatif, juga menghibur. Ia bukan sosok bauan, tidak jaim, dan spontan menyapa dan berinteraksi dengan siapa saja. Ia sering hadir di berbagai kejadian yang sedang dialami sebagian rakyat, tanpa diduga-duga.

    Kita masih ingat bagaimana peran Dedi dalam membantu Amih, nenek tua dari Garut yang dimejahijaukan oleh anak dan menantunya. Kisahnya mengganti patung harimau di koramil Cisewu Garut. Ia juga membantu keluarga Tionghoa di Rengasdengklok Karawang yang rumahnya bersejarah karena dulu digunakan oleh Soekarno Hatta sebelum Proklamasi. Ia juga ada di sisi seorang ibu yang melahirkan di tol pada mudik lalu, karena si ibu dibawa oleh polisi ke rumah sakit Siloam di Purwakarta. Ia juga menjadi penolong bagi seorang ibu di kota Bandung yang memiliki anak dengan kondisi tulang yang rapuh jika bergerak bahkan sekadar batuk.

    Dalam menghadapi radikalisme dan intoleransi, ia mendirikan Sekolah Ideologi Purwakarta, Akademi Kebangsaan, dan belakangan Institut Pancasila. Dalam kesejahteraan sosial, ia gerakkan budaya beras perelek, membagikan ATM Beras premium di desa-desa Purwakarta, mengadakan Arisan Gotong Royong, membeli 100 mata air di daerahnya, menggaji para kepala desa 4 juta sebulan, menggaji para tukang kebersihan 2,1 juta per bulan, menetapkan UMR yang tinggi sekitar 3 jutaan (bersaing dengan UMR Bekasi), dan lainnya. Ia mengharuskan setiap pasangan muda yang akan menikah mengikuti tes HIV/AIDS secara gratis agar mendapatkan pernikahan yang sehat dan kuat.

    Di bidang infrastruktur dan sarana sosial, ia menuntaskan pembangunan jalan-jalan lama dan baru di Purwakarta, menyediakan toilet untuk semua sekolah yang sebelumnya tidak memilikinya, menyulap areal perkantoran pemkab layaknya tempat wisata, membangun berbagai destinasi wisata berkelas dunia (Taman Air Mancur Sri Baduga, Museum Diorama, Museum Surawisesa, Bukit Panenjoan, dan lainnya).

    Belakangan, saat ini ia sedang membangun hotel gantung 99 kamar di tebing Gunung Parang dengan ketinggian 400 dan 900 meter dari permukaan laut, tertinggi di dunia. Ini hotel yang sangat unik dan fenomenal, sekaligus juga menantang, yang terinspirasi oleh minat dan kunjungan wisata panjat tebing di gunung Purwakarta yang telah mengundang daya tarik bagi para pemanjat tebing.

    Hotel yang sama baru ada satu di dunia, yakni di Peru, itu pun hanya dengan ketinggian 122 meter saja. Karenanya hotel Badega Gunung Parang akan menjadi hotel gantung tertinggi dunia. Jika Anda penasaran dengan hotel gantung di Purwakarta ini, silakan searching Hotel Badega Gunung Parang atau kunjungi fanspage Kang Dedi Mulyadi di Facebook. Rencananya hotel gantung ini mulai bisa digunakan sejak Oktober 2017 ini. Jika Anda berminat mendaftar, bersegera saja, karena kabarnya kuotanya sudah hampir penuh sekarang.

    Selain itu Kang Dedi juga sedang membangun kawasan wisata religi dan edukasi yang luas dan megah. Ia bangun masjid megah yang dilengkapi perpustakaan, dengan areal pertamanan yang luas dan indah, khas keindahan Purwakarta (sentuhan budaya Sunda). Di mana lokasinya? Di kawasan yang sebelumnya tempat “remang-remang”, Cilodong. Dan masih banyak lagi.

    Dari segi sosok, Kang Dedi sebenarnya bukan sekadar seorang pemimpin yang budayawan. Ia juga orator, entertainer, bahkan seorang kyai. Dalam kegiatan Safari dan Senandung Ramadhan yang lalu publik bisa melihat sendiri kapasitasnya yang mumpuni di banyak hal.

    Ditambah dengan kepribadian dan gayanya yang sangat interaktif, spontan dan natural, maka ia akrab dengan anak-anak, remaja, ibu-ibu muda, emak-emak, kakek-kakek, mahasiswa, ustadz, kyai, agamawan, juga para buruh dan preman. Bahkan para preman ia ajak bersih-bersih masjid sebelum Ramadhan kemarin.

    Walhasil, sosok ini menarik dan unik, juga inspiratif. Tayangan Youtube di bawah ini, saat ia diundang dalam acara Kick Andy, memperliharkan kita banyak hal. Karenanya wajar jika saat ini ia merupakan sosok the new inspiring leader yang mencengangkan banyak orang. Ia adalah satu dari sedikit harapan baru bangsa ini.

    Dedi Mulyadi, si tukang ngarit kini makin melejit.

    Sampurasun…!


    Penulis :  Mahya Lengka   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kang Dedi Mulyadi, Si Tukang Ngarit yang Kian Melejit Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top