728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 22 Juli 2017

    Jokowi Tolak Dipayungi Ketum Muhammadiyah, Beginilah Kalau Orang Ndeso Jadi Presiden

    Salah satu yang membuat saya sangat mengagumi Presiden Jokowi adalah karakternya yang tidak berubah meskipun dia menjadi seorang Presiden. Ada banyak selentingan yang ramai terdengar kalau Jokowi tidak akan sama saat menjadi Walikota Solo dan juga Gubernur DKI, saat jadi Presiden. Jokowi akan meninggalkan karakternya dan jadi sulit dijangkau.

    Selentingan tersebut memang sangat wajar disuarakan karena memang banyak yang tidak yakin bahwa Jokowi tetap akan merakyat. Bahkan banyak juga yang menyindir bahwa itu semua adalah sebuah pencitraan dan setingan. Nyatanya, hingga saat ini Jokowi tidak pernah berubah. Jokowi selalu tampil apa adanya dan memang tampil dalam kemasan dan isi yang sama saat jadi Walikota dan Gubernur.

    Karakter Jokowi yang tidak berubah itu bisa kita lihat dalam setiap kesempatan. Dalam catatan saya, setidaknya ada 4 hal yang tidak berubah dari Jokowi.  

    Yang Pertama (1), adalah karakternya yang suka blusukan daripada diam di kantor dan menunggu laporan dari bawahannya.

    Yang Kedua (2), adalah karakternya yang suka guyon kepada siapa saja. Guyon bukan saat rapat atau pembicaraan penting, tetapi guyon untuk mencairkan suasana dan membuat rakyat tidak canggung kepada dirinya. Hal ini sering dilakukannya dalam setiap kunjungan saat melakukan sesi pertanyaan berhadiah sepeda. 

    Yang Ketiga (3), Jokowi sangat tegas jika sudah menyangkut hal-hal penting. Bukan hanya berani menentang Amerika Serikat, Jokowi pun siap kalau harus berhadapan dengan Tiongkok dan Rusia. Jokowi bahkan dengan tegas membubarkan ormas yang anti Pancasila dengan menerbitkan Perppu Ormas. Belum lagi saat Jokowi dengan lantang memerintahkan tembak para bandar Narkoba asing yang melawan.

    Yang keempat (4), adalah karakternya yang rendah hati dan tidak ingin dilayani bak seorang Raja atau Bos. Sudah banyak yang menyaksikan sendiri bagaimana Jokowi tidak ingin dilayani jika hal tersebut bisa dilakukannya sendiri. Hebatnya, Jokowi malah terlihat ingin melayani orang lain.

    Nah khusus karakter yang keempat ini, ada kejadian menarik yang terjadi saat Jokowi berkunjung ke Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Bantul, Yogyakarta. Jokowi yang saat itu baru saja turun dari mobil langsung diberi payung oleh paspampres. Kondisinya memang pada saat itu sedang rintik hujan.

    Paspampres langsung ngeloyor pergi karena sudah memahami kalau Jokowi tidak suka dipayungi. Hal yang berbeda dilakukan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir. Merasa ada yang janggal dari apa yang dilakukan oleh Jokowi, Haedar pun bergegas menghampiri dan menawarkan diri untuk memegangi payung yang digunakan Jokowi.

    Jokowi pun sontak menolak karena apa yang dilakukannya dengan memayungi diri sendiri sudah biasa dilakukannya. Karena sepertinya Haedar “agak ngotot” ingin memayungi Jokowi, sempat terjadi aksi saling tarik menarik payung. Dan akhirnya Haedar pun melepaskan gagang payung Jokowi.
    “Biar saya pegangi, Pak,” kata Haedar, Sabtu (22/7/2017).
    “Enggak usah, Pak. Sudah biasa. Ndak apa-apa,” jawab Jokowi sambil tertawa kecil.
    Saya jadi bertanya-tanya apa yang ada dalam pikiran Haedar yang terlihat sangat ingin sekali memayungi Jokowi. Padahal, kalau memang Jokowi suka dipayungi, tidak mungkin juga paspampres membiarkan Jokowi bawa payungnya sendiri. Atau mungkin Haedar tidak pernah melihat pemberitaan bagaimana Jokowi adalah orang yang memayungi, bukan dipayungi.
    Berikut ini beberapa foto Jokowi memayungi..

    jokowi pakai payung di papua. ©2016 merdeka.com/istimewa
    Dokumentasi Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Kepresidenan)
    Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud disambut oleh Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/2). Kunjungan kenegaraan Raja Salman membawa rombongan besar sekitar 1.500 orang. (Liputan6 .com/Angga Yuniar)
    Presiden Jokowi tiba di Sydney, Australia. (Laily Rachev/Biro Setpres)

    Nah, kalau berbicara siapa sosok yang diijinkan Jokowi untuk memayunginya, maka ada satu yang tertangkap kamera melakukannya..
    Presiden Joko Widodo dipayungi oleh Ibu Negara Iriana Jokowi, menanam pohon di sebuah lahan di pinggir jalan Kota Minahasa Utara, Selasa (18/10/2016).
    Iriana memayungi Presiden Jokowi di Wamena, Papua. (Foto: Biro Pers Setpres)

    Jadi, kalau ada yang mau memayungi Jokowi, maka satu-satunya jalan adalah dengan menggantikan posisi Iriana sebagai Isteri Jokowi. Hal yang pastinya tidaklah mungkin terjadi. Jokowi adalah tipe suami yang setia. Mau jadi isteri kedua?? Jangan harap!! Jokowi bukan pelaku Poligami.

    Ketidakmauan Jokowi dipayungi dan malah lebih suka memayungi adalah bukti betapa ndesonya Jokowi menjadi seorang Presiden. Padahal, kalau bukan orang ndeso seperti Jokowi yang jadi Presiden, maka dipastikan kelakuannya pasti minta dipayungi.

    Jokowi memang akan selalu ndeso karena dia memang orang yang sederhana. Meski sudah punya kekayaan yang lebih dari cukup, Jokowi selalu melakukan hal yang bisa dikerjakan dengan sendirinya. Itulah mengapa dalam hal payung memayungi, Jokowi tidak mau dilakukan oleh orang lain.

    Sebuah keteladanan yang sangat jarang kita lihat dalam diri para pejabat. Jokowi memang menjadi sebuah pembeda dan menjadi seorang pejabat anti mainstream saat ini. Itulah mengapa, banyak rakyat yang senang dan percaya kepadanya. Dan saya yakin, kita juga salah satunya.

    Apakah anda salah satu pengagum Presiden Ndeso ini?? Kalau iya, sudah sana ambil sepedanya.. Hehehe..


    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi Tolak Dipayungi Ketum Muhammadiyah, Beginilah Kalau Orang Ndeso Jadi Presiden Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top