728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 15 Juli 2017

    Jokowi: Membangun dari Desa, Mewujudkan Kedaulatan NKRI

    “Seorang pemimpin mampu menyentuh hati orang lain sebelum meminta mereka melakukan sesuatu.” John Maxwell

    Jangan pernah buat kesimpulan penilaian dari luarnya saja!, begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan seorang Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi, perihal kepemimpinan sang bapak yang sudah menjadi orang nomor satu di Republik ini semenjak dilantik di gedung DPR/MPR 20 Oktober 2014 yang lalu. Jujur, banyak yang meragukan kapasitas beliau untuk memimpin negara ini selama lima tahun yang akan datang, selain dicintai, tidak sedikit yang bakal membenci beliau karena tidak sejalan dengan program maupun buah pemikiran beliau.

    Begitulah curahan hati seorang Gibran Rakabuming Raka suatu ketika setelah Jokowi dilantik menjadi Presiden. “Keputusan ada ditangan Bapak. Sebagai anak saya hanya bisa mengingatkan dan mendoakan,” terang Raka lebih lanjut untuk menenangkan hatinya, mengingat tugas dan tanggung jawab besar sekarang ada ditangan beliau untuk membuktikan janji-janji saat kampanye Pilpres 2014. Ibarat pacuan kuda, kita dibuat tegang sampai tidak mengedipkan mata, siapa yang finish digaris terdepan.

    Sekilas kita dibuat tidak percaya akan kemampuan dan kepemimpinan Bapak Jokowi, itu pernah terlontar dari pernyataan F.X. Hadi Rudyatmo, sang wakilnya saat menjabat sebagai Walikota Surakarta selama dua periode. “Dia Sebenarnya sangat cerdas, hanya terlihat bodoh, jadi disepelekan orang,” menggambarkan bagaimana sepak terjang Pak Jokowi dalam memimpin, mulai dari pengusaha mabel, sukses menjadi Walikota Solo dan meraih predikat Walikota terbaik dunia, bersanding dengan Ahok di arena pertarungan Pilgub DKI hingga tanpa diduga menjabat sebagai Gubernur DKI dan tentunya yang paling fenomel menerima pinangan PDI Perjuangan untuk maju sebagai Capres berpasangan dengan Pak Jusuf Kalla.

    Hasilnya? Seperti yang kita ketahui bersama, Jokowi telah memimpin negeri ini selama hampir tiga tahun dan sah menjadi Presiden RI ke-7 selama hampir 72 tahun Indonesia Merdeka!.

    Filosofi “Jangan nilai hanya dari kulit luarnya saja”, benar-benar disematkan kepada Presiden yang sangat dicintai oleh kaum ibu-ibu, anak-anak, hingga masyarakat golongan menengah ke bawah ini. Pak Jokowi adalah ikon pemimpin perubahan di Indonesia yang pantas sangat kita apresiasi keberadaan dan kinerja beliau untuk Indonesia tercinta. Rasa cinta akan tanah air, semangat membangun dari desa maupun dari pulau tertinggal, hingga semangat revolusi mental yang beliau canangkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Republik ini nantinya.

    Pak Jokowi dengan penuh kesabaran dan kesadaran bahwa tidak mudah untuk merubah kondisi, budaya yang sudah terlena dengan “subsidi” sehingga tidak kreatif, apalagi sebelum diangkat jadi Presiden, negara kita berkutat dengan perilaku korupsi, dan tentunya banyaknya PR (pekerjaan rumah) yang ditinggalkan oleh penguasa terdahulu, seperti: kasus mangkraknya berbagai proyek yang menghabiskan uang rakyat triliunan rupiah, kasus penanganan korupsi yang tak kunjung selesai, tetapi malah bertambah, kasus HAM, hingga masalah karakter rakyat Indonesia yang sangat perlu diluruskan ke arah yang lebih baik.

    Namun, Pak Jokowi pelan tapi pasti bekerja demi Indonesia yang lebih berdaulat. Nawa Cita, program beliau yang dikampanyekan mulai direalisasikan tahun pertama kepemimpinan beliau. Yang paling sedapnya, beliau sudah membuktikan kinerja dan pola kepemimpinan beliau yang tanpa pamrih sejak menjabat sebagai Walikota Solo.

    “Pemimpin yang lahir dalam keluarga kaya raya dengan orang miskin tentu beda. Omongan boleh dibuat-buat, tetapi gestur tubuh dan mimiknya tidak bisa berbohong,” ungkap Pak Jokowi suatu ketika kala di wawancarai oleh seorang penulis buku, Jokowi: Spirit Bantaran Kali Anyar.

    Blusukan Pak Jokowi: Melayani, Mengawasi, Merakyat

    Ketika Pak Jokowi mengumumkan para pembantunya, alias Menteri-Menteri yang akan mendampingi dan bekerja mengisi kabinet yang dia sebut dengan “Kabinet Kerja”, banyak orang terkejut ketika menterinya ada yang hanya tamatan SMP, seperti bu Susi Pudjiastuti, hingga hanya tamatan sarjana dan kelihatan melenceng dari jurusannya, seperti Mempora, Imam Nahrawi yang ternyata alumni jurusan Pendidikan Bahasa Arab dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Tetapi etos kerja, prestasi dan kemampuan untuk membangun Indonesia lewat kinerja serta pengabdian yang tentunya disertai dengan kemampuan menjadi seorang ‘pembantu’ Presiden sesuai dengan bidang yang ditempati masing-masing.

    Demi mendapatkan menteri yang pas di posisinya, Pak Jokowi harus rela melakukan ‘tambal-sulam’ kabinet, alias reshuffle. Pak Jokowi tidak perduli apa pendapat kelompok-kelompok yang memang sukanya ‘nyinyir’, alias tidak suka dan cari-cari kesalahan pemerintahan yang dia pimpin, yang penting baginya, apa program pemerintah yang dia canangkan harus berhasil dan Menteri adalah tangan kanannya yang harus mampu ‘mengejawantahkan’ seluruh konsep dan pekerjaan yang memang dibidangi oleh Menteri yang dia pegang.

    Satu hal lagi, menteri di era Pak Jokowi adalah menteri yang rela capek dan tahan banting serta mampu mendampingi serta ber-inisiatif sendiri untuk melakukan ‘blusukan’ ke seluruh tanah air. Itulah Menteri idaman Pak Jokowi.

    Hasilnya? Sungguh luar biasa, kita melihat baik di media elektronik maupun surat kabar, Menteri era Pak Jokowi sering ketiduran di bandara dan kereta api lainnya karena kecapean maupun mengambil waktu istirahat sedikit disela-sela blusukannya. Ini bukan akting maupun rekayasa, tetapi memang seperti itulah sepak terjang mereka, tidak takut capek, tidak malu dianggap ndeso, tidak canggung, yang penting kerja yang halal untuk bangsa dan negara, itulah prinsip mereka.

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti adalah menteri yang paling menjadi viral dalam hal blusukan. Tidak tanggung-tanggung, beliau rela naik apa saja, dengan transportasi apa saja demi menjaga kedaulatan maritim dan mengusahakan kemakmuran para nelayan tanah air, walau harus mempertaruhkan nyawa dan keselamatannya. Sudah sangat begitu banyak kapal nelayan asing yang ditenggelamkan, dibakar dan ditangkap saat melaut di laut negara kita.

    Ada lagi Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri dan Menteri Pemuda dan Olahraga, Mas Imam, adalah menteri-menteri era Jokowi yang sering ketangkap kamera istirahat karena kelelahan blusukan hingga ke luar negeri. Sementara Pak Jokowi juga punya prinsip dalam blusukan, pastinya melayani, mengawasi dan merakyat.

    Sikap melayani Pak Jokowi dalam menjalankan pemerintahan selalu berpegang teguh pada prinsip yang diwariskan oleh nenek moyangnya, itu tergambar dari kesuksesan beliau dari dunia bisnis hingga sukses menjadi walikota Surakarta selama tujuh tahun. “Pak Jokowi itu mewarisi kakek-nenek dan orangtuanya. Jika kepemimpinannya turun-temurun diperoleh dari kakek buyut, ke kakek dari ayahnya.

    Sedangkan jiwa bisnis dari ibunya,” kata Sutarti, tetangga Jokowi kecil, dikutip dari buku “Jokowi, spirit bantaran kali anyar”. Tentunya juga banyak belajar dari pola bagaimana raja Jawa zaman dahulu dalam memimpin, dianjurkan tidak hidup berfoya-foya, melainkan gemar bertapa brata, mengendalikan hawa nafsu, seperti dicontohkan oleh Panembahan Senopati, pendiri dan raja pertama kerajaan Mataram.

    Sikap melayani Pak Jokowi terlihat dalam hal blusukan alanya sendiri. Dia selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan rakyatnya setiap mengunjungi daerah terpencil, terluar dan terdalam hingga yang masih berkonflik. Dalam blusukannya, Pak Jokowi sedikitpun tidak gentar dan takut akan berbagai ancaman, terutama masalah pengamanan dirinya. Dalam setiap momen yang beredar baik lewat siaran televisi maupun lewat media komunikasi bernama youtubue, Pak Jokowi selalu mengajak masyarakat berkomunikasi dengan beliau secara terbuka.

    Tidak ada kekakuan atau rekayasa, semuanya mengalir seperti air, dipenuhi dengan canda tawa, masyarakat terpilih berdialog langsung dengan Presiden sangat berbahagia sekali karena bisa curhat dan Presiden mendengarnya dengan baik. Jarang-jarang loh! Yang paling menggembirakan tentunya habis menjawab pertanyaan Presiden, biasanya rakyat terpilih akan mendapatkan hadiah spesial dari Pak Jokowi, apalagi kalau bukan SEPEDA!

    Sampai-sampai seorang aktris cantik dan berprestasi sampai ke tingkat internasional sekelas Raisa, kepicut akan gaya melayani beliau dan minta hadiah sepeda dari Pak Jokowi. Padahal, bukan tidak bisa seorang Raisa membeli sebuah sepeda, tetapi itulah kelebihan Jokowi, semua lapisan masyarakat sangat mencintai beliau.

    Mengawasi? Dengan blusukan, tentunya Pak Jokowi tidak ingin dicap sebagai pemimpin yang duduk di belakang meja, tunggu laporan para pembantunya dan menganggap semuanya beres ditangani, alias meninggalkan gaya kepemimpinan “ABS” (asal bapak senang) yang selama ini telah dipertontonkan oleh pemimpin sebelumnya. Selain untuk mengetahui kondisi dan keadaan masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke, Jokowi juga tentunya ingin mengetahui sampai dimana kemajuan suatu daerah tersebut, apa problem yang mereka temui dan sampai dimana pembangunan proyek infrastruktur yang dia canangkan maupun lanjutan dari pemerintahan sebelumnya.

    Juga untuk memastikan sampai dimana progress dari pembangunan yang sumbernya dari uang rakyat tersebut. Trade mark pak Jokowi inilah yang membuat pembangunan di berbagai sudut Republik ini terlaksana dengan baik. Selain menjadi leadership style, blusukan ala Pak Jokowi juga menjadi inspirasinya untuk berinovasi ke depannya.

    Juga untuk belajar kebudayaan, bahasa maupun tradisi-tradisi, kuliner hingga sumber daya alam apa yang dihasilkan oleh daerah tersebut, itulah makna mengawasi ala blusukan beliau sehingga uang yang dikeluarkan dalam membangun tidak sia-sia oleh tangan-tangan jahil dan intrik-intrik busuk berbau korupsi.

    Merakyat? Sudah tentu, setelah Soekarno, baru inilah Presiden yang benar-benar mampu mencuri hati rakyat kecilnya. Bagaimana tidak? Dalam setiap kesempatan bertemu dengan rakyatnya, tidak lupa Presiden wong cilik ini selalu membagi-bagikan bingkisan, hadiah, paket sembako, maupun uang yang berasal dari kantong pribadinya. Presiden RI-7 ini ingin selalu menjalin kebersamaan dengan rakyatnya.

    Contoh sederhana, saat ulang tahunnya yang ke-52, dan bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri, RI-1 ini tetap blusukan dan membaur untuk merayakan sukacita bersama dengan rakyatnya.

    Inilah contoh Presiden yang harus kita support, patut kita apresiasi dan terus kita pantau cara kerjanya dan berharap Pak Jokowi tidak lupa akan semua janji-janjinya untuk mewujudkan Indonesia yang toleran, maju, bermartabat dan menjungjung tinggi perdamaian dunia dengan mewujudkan Indonesia yang damai, rukun, menghargai perbedaan dan menjadikan perbedaan adalah kekuatan bangsa yang berdaulat, membangun untuk kemakmuran Indonesia di masa yang akan datang. Itulah harapan kita. Selamat berjuang Pak Jokowi!


    Penulis :   Agus Oloan Naibaho     Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi: Membangun dari Desa, Mewujudkan Kedaulatan NKRI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top