728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 19 Juli 2017

    Heboh! Tampak Jokowi Membasmi Hama Islam Radikal, The New York Times

    Karikatur Jokowi yang Go Internasional banyak diunggah di media sosial dan menjadi perbincangan masyarakat maya. Karikatur yang dibuat salah satu media terkenal di Amerika Serikat tersebut yakni ThevNew York Times. Heng on Indonesia’s Decree to Ban Radical Groups’, begitulah judul yang tertulis dalam situs The New York Times dalam rubrik opini edisi Minggu (16/7/2017).

    Dalam karikatur tersebut digambarkan Jokowi sedang membawa sebuah alat untuk menyemprot tumbuhan liar yang ganas atau tumbuhan monster. Tumbuhan monster itu, digambarkan dengan Islam radikal dan Jokowi berusaha untuk menyemprotnya agar tumbuhan monster itu mati, dan tidak dibiarkan mengganggu tanaman yang disebut Pancasila itu.

    Dalam karikatur The New York Times tersebut, dituliskan dalam bahasa Inggiris, “President Joko Widodo of Indonesia signed a decree allowing authorities to disband religious and civil society groups, in an effort to challenge hard-line Islamist groups that oppose his pluralist administration.
    The New York Times


    “Presiden Joko Widodo menandatangani sebuah keputusan yang mengizinkan pihak berwenang membubarkan kelompok agama dan masyarakat sipil. Hal tersebut dalam upaya melawan kelompok Islam garis keras yang menentang pemerintahan yang pluralis,”

    Pro kontra Perpu Ormas  No. 2 Tahun 2017 (Perppu Ormas) yang mengubah UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas), memang membuat kegaduhan bagian sebagiaan orang, sebutkan saja HTI, FPI, Alumni 211 yang mungkin merasa terpojokan.

    Seperti yang disampaikan Jokowi sebelumnya bahwa, Perpu ini dibuat bukan dalam sekejab, melainkan dalam kajian mendalam, dari waktu ke waktu demi keutuhan NKRI, dan demi Pancasila.

    Tidak ada satu pun, orang kecuali HTI cs, yang ingin negara ini jadi negara Khilafah merubah dasar negara berlandaskan Pancasila itu. Dan ini membuat negara pecah berantakan, misalanya Papua, Bali, NTT dan sebagian Maluku pasti memisahkn diri dari Indonesia.

    Ruh dasar dari Perpu Ormas ini, adalah kebaikan bersama (bonum commune). Perpu Ormas dibuat agar tertib dalam berorganisasi dan melenceng dari ruh dasar negara kita yakni Pancasila.

    Karikatur Jokowi Soal Perpu Ormas Go Internasional, mungkin bentuk perhatiaan dunia internasional terhadap gerakan Islam radikal di dunia. Dunia internasional sudah melihat, betapa Indonesia masih saja berkutit dengan isu- isu primordial ini. Bukan berpikir untuk membangun bangsa dari segala bentuk dimensi baik dalam maupun luar negeri, malah direcoki oleh sesuatu hal yang sebenarnya sudah final yakni Pancasila.

    Kenapa saya katakan seperti itu? Karena masih banyak masyarakat yang mungkin ikut-ikutan seakan akan Jokowi mendiskreditkan Ormas Islam ini. Padahal, substansi Perpu demi perbaikan organisasi yang berdasarkan Pancasila, bukan hanya label belaka tetapi itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari.

    Banyak yang memberikan dukungan kepada Presiden Jokowi untuk terus memberantas kelompok anti-Pancasila.

    Dukungan masyarakat ini berkat kekwatiran publik yang semakin meluasnya. Ada banyak yang menentang dan sikap menentangnya pun bervariatif. Ada yang yang ikut- ikutan, ada yang melihat dari aspek demokrasi, negara Indonesia berasaskan demokrasi. Ada yang melihat dari aspek hukum yang mengatakan cacat hukum, sebutkan saja Prof. Yusril Izha Mahendra. Ada juga karena, tekanan psikologis yang seakan- akan Jokowi anti Islam.

    Dari sikap menentang yang bervariatif di atas baik dari masyarakat, tokoh agama maupun akademisi perlu dicermati secara seksama. Pertama, dari sikap ikut- ikutan ini, sebenarnya belum membaca dan kekurangan literatur dalam melihat secara keseluruhan Perpu Ormas ini. Simplenya, ada yang mungkin faktor pendidikan, juga mungkin karena faktor ketidaksukaan secara personal kepada Jokowi. Sebaik apapun, kebijakan Presiden Jokowi di mata mereka yang ikut- ikutan tetaplah tidak baik.

    Kedua, ada banyak yang melihat Jokowi membatasi warga masyarakat berorganisasi di negara yang demokratis. Sehingga mereka beranggapan bahwa Jokowi otoriter, dan tidak demokratis. Perlu diketahui bahwa, berbicara demokrasi, harus bisa membedakan demokrasi liberal dan demokrasi Pancasila yang kita anut. Dalam hal ini, demokrasi yang kita jalankan, seyogyanya menjadi satu tubuh dengan satu ruh yang sama dengan Pancasila. Demokrasi dan Pancasila, memiliki hakekat yang sama dalam satu ruh menjalankannya.

    Untuk itu, makna demokrasi Pancasila harus menjadi sprit dasar bagi kita dalam berbangsa dan bernegara.

    Ketiga, akademisi yang menolak Perpu Ormas, salah satunya, Prof. Yusril yang mengatakan Perpu Ormas ini, “Lebih Kejam, dari Penjajahan, Orba dan Orla. Meskipun kita tau, bahwa Prof. Yusril merupakan Kuasa Hukum HTI yang akan menggugat ini ke Makamah konstitusi.

    Yusril mengatakan rumusan itu bersifat multitafsir. “Bisa digunakan sewenang-wenang oleh penguasa terhadap ormas yang berseberangan dengan pemerintah,” kata mantan Menteri Sekretaris Negara itu.

    Di luar perdebatan hukum, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat (Ormas). Ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 10 Juli 2017 itu untuk mengantisipasi kegiatan ormas yang dinilai mengancam eksistensi bangsa dan menimbulkan konflik.

    Saya rasa jelas, Perpu Ormas ini, bentuk kekwatiran negara yang merong rong NKRI dan Pancasila. Dan Pemerintah membuatnya murni kedasaran moral untuk kedamaian dan kebaikan masyarakat.

    Keempat, kelompok ini,  masuk faktor ideologis atau dokrinisasi yang melekat dalam pikiran mereka, seakan- akan Jokowi anti Islam. Dan tipikal seperti ini, mereka-mereka yang mengehembuskan PKI bangkit. Karena mereka tidak memahami lagi, apa itu Pancasila dan apa itu keberagaman. Pokoknya, Jokowi itu, itu PKI bukan Islam. Minimnya pengetahuaan dan suburnya dokrinisasi menjadi ladang subur di Indonesia, terutama generi muda.

    Untuk itu, jadikanlah semangat Perpu Ormas sebagai semangat bersama apapun sukunya, agamanya, rasnya untuk Negara Kesatuaan Republik Indonesia. Saya Indonesia, Saya Pancasila, semarak latunkan credo sebagai undangan bersama anak negeri. #SayaIndonesia #SayaPancasila



    Penulis :   Febrianto Edo   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Heboh! Tampak Jokowi Membasmi Hama Islam Radikal, The New York Times Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top