728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 12 Juli 2017

    Duh, Anies Kok Jadi “Begini” Ya? Akibat Salah Gaul kah?

    Pernah dengar cerita atau mungkin punya pengalaman nyata di mana seorang sahabat yang tadinya berbadan atletis dan segar bugar, tiba-tiba jadi kurus kerempeng dengan muka pucat? Berikut adalah pengalaman nyata. Terjadi pada seorang sahabat. Penasaran, maka mulai melakukan penyelidikan. Hasilnya, ternyata semuanya gara-gara “putauw.” 

    Padahal sebelum terbelenggu si “bubuk putih” nan jahat tersebut, sang sahabat tidak hanya segar bugar dengan perut idaman yaitu 6 pax. Di kampus, prestasinya terbilang ciamik di mana tiap semesteran, IPK nya paling jelek 3.5. Sang sahabat pun sangat aktif di organisasi kemahasiswaan sebagai salah seorang anggota Senat Mahasiswa dan menjadi kapten tim sepak bola kampus. Hebatnya lagi, bahkan dikenal sebagai pribadi yang alim dan sangat taat beribadah.

    Kok bisa ya menjadi pecandu narkoba?  Dasar kepo karena tidak tega, lalu coba usut kiri kanan, atas bawah, samping kiri samping kanan. Ternyata masalahnya sangat sepele:  “Salah gaul” dan “gengsi” ke”gedean.” Gara-gara tidak terima dikata-katain “cemen” sama teman-teman “pengguna,” akhirnya memberanikan diri untuk coba-coba. Awalnya sih emang cuma “dikit” banget. Eh, lama-lama, “nyandu,’ dan bahkan jadi “sakau” kalau tidak “make.”

    Masa depan yang tadinya “terang benderang,” mendadak suram dan gelap. Soalnya tidak lagi “ngampus” karena harus mendekam di pusat rehabilitasi ketergantungan “obat-obatan.”

    Ngomong-ngomong, apa kaitannya dengan Anies sang Gubernur DKI Jakarta terpilih untuk periode 2017-2022? Emangnya Anies “pemake?” Hussshhhh, dijamin 1000%  Anies bebas alias “bersih” dari narkoba. Nah lo, kalau gitu kok masalah “pemake” dikait-kaitkan dengan Anies? Walau dalam konteks dan skala yang berbeda, fenomena sang sahabat ini relatif relevan dengan Anies. Begini ulasannya.

    Anies Dulu
    Dulu, ya dulu, tepatnya sebelum Pilkada DKI Jakarta 2017,  banyak yang kagum dan bersimpati sama Anies. Bahkan tidak sedikit yang sampai nge-fans sama Anies, khususnya para “emak-emak” yang doyan “mlototin” televisi. Wajar, selain “keren” ke-arab-araban, juga dikenal smart dan lulusan dari luar negeri lagi serta pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadian. Semakin lengkap karena Anies  sangat piawai dalam merangkai kata saat berbicara atau memberi “speech.” 

    Sempurna sudah seorang Anies menjadi salah satu public figure di Indonesia. Apalagi saat diangkat Jokowi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Banyak yang bersukacita. Maklum, dengan latar dunia pendidikan yang mumpuni, banyak yang menilai bahwa Anies sangat tepat untuk menduduki jabatan tersebut. Atas kebijakan ini, Jokowi pun mendapat apresiasi dari pengagum dan para fans Anies.

    Ketika entah kenapa Jokowi memberhentikan  Anies dari jabatan menteri, tidak aneh banyak orang yang mempertanyakan kebijakan tersebut.  Selain itu, tidak sedikit yang kecewa dan menyalahkan Jokowi. 

    Mereka-mereka ini tetap beranggapan bahwa Anies hebat. Lalu berkembang rumor bahwa Jokowi hanya “boneka” dari seorang “dalang.” 

    Jokowi melakukan “blunder.” Dan lain sejenisnya dan lain sejenisnya.

    Itulah sekelumit tentang kisah Anies di masa lalu. Seorang pribadi bak berlian solitaire 2K yang kilauannya sangat “kinclong” menawan hati.

    Anies Sekarang
    Lain dulu, lain sekarang. Demikianlah sosok Anies sekarang. Semua ini tampaknya berawal ketika Jokowi memberhentikan dirinya dari jabatan menteri. Lalu mendadak maju sebagai CaGub DKI Jakarta untuk periode 2017-2022. 

    Hebatnya, Anies mampu meyakinkan Prabowo bos Gerindra untuk menggantikan posisi Sandi. Anies pun menjadi CaGub, sedang Sandi harus “rela” hanya sebagai CaWaGub. Penggemar atau fans sejati Anies pun  menganggap hal ini sebagai prestasi besar. 

    Mereka pun berbondong-bondong mendukung Anies di PIlkada DKI Jakarta 2017. Nah, selama pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2017 s/d penantian dilantik inilah wajah asli seorang Anies tampak jelas, seperti:

    1. Sejatinya, seorang akademisi wajib mengedepankan dan mempertahankan nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan moralitas yang bersifat universal. Sebab nama baik menjadi taruhannya. Di masa Pilkada DKI Jakarta 2017, Anies justru mengabaikan semua ini. Misalnya, tanpa sungkan dan dengan pede tingkat dewa, menjiplak program kerja Cagub petahana. Agar terlihat smart, ia tidak lupa menambahkan kata sakti: “Plus.” Lalu ngaku-ngaku orisinil.Celakanya, setelah terpilih, lewat Tim Sinkronisasi kemudian dengan “enteng” tanpa merasa bersalah, membatalkan salah satu janji kampanyenya. Sebut program  KJP+ yang adalah hasil perkawinan silang antara program KIP dan KJP. Belum dilantik, sudah mulai “mencla-mencle” dan ingkar janji.  Entahlah nasib “janji-janji” lainnya, seperti menghentikan reklamasi, menutup Alexis, atau tidak melakukan penggusuran, dan lain sebagainya. Just wait & see pasca bulan Oktober 2017.Ajaibnya, meski demikian, para pendukung setia selalu memberi 2 jempol. Selidik punya selidik, ternyata mereka-mereka ini adalah penghuni bumi datar dengan sumbu pendek. Jadi, harap maklum;
    2. Untuk mewujudkan ambisi, rupa-rupanya Anies rela dan tega mengHALALkan segala cara. Pertama merapat ke Gerindra dan PKS dan partai pendukung lain. Untuk hal ini masih bisa ditolerir. Mendadak menyambangi markas FPI guna beroleh dukungan. Tidak ketinggalan mencari dukungan dari ormas-ormas sekelas FPI. Padahal jelas-jelas FPI dan kawan-kawan adalah anti Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.Tidak heran selama kampanye, berbagai pendekatan bersifat SARA mencuat ke permukaan. Mulai dari “gerilya masjid,” “spanduk menolak mensholatkan yang mendukung Ahok-Djarot,” dan lain sebagainya dan lain sebagainya;
    3. Belum juga dilantik resmi sebagai Gubernur DKI Jakarta terpilih periode 2017-2022 pada bulan Oktober mendatang, tapi Anies sudah belagak seperti Gubernur sah. Di antaranya, memerintahkan Djarot yang menggantikan Ahok sebagai Gubernur agar menyelesaikan semua pekerjaan di DKI Jakarta sebelum berakhir masa jabatan. Mulai sok-sok atur dan ribut soal password APBD E-Budgeting, dan lain sejenisnya dan lain sejenisnya;
    4. Paling aktual dan faktual, saat Obama memberi speech di Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Kokas, Jakarta Selatan. Sesuai pengakuan Anies, usai acara, segera bergegas menghampiri Obama untuk minta foto bersama. Hebatnya, tidak hanya sekedar berfoto tapi memberi respon “speech” Obama dengan memberi beberapa catatan terkait tentang toleransi dan keadilan di DKI Jakarta secara khusus, Indonesia secara umum.Lupakah Anies dengan apa yang ia besama Sandi dan Timses lakukan saat kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017? Mendadak terkena “amnesia” kah Anies? Sadarkah Anies bahwa Obama dan para pemerhati tidak sebodoh yang ia pikirkan? Atau, jangan-jangan Anies merasa hanya dia yang paling pintar, sedang yang lain bodoh semua, termasuk Obama?
    Anies Oh Anies, Kok Bisa Ya? 

    Anies oh Anies, apa yang membuat dirinya sampai kehilangan integritas sebagai seorang akademisi mumpuni? Apa yang membuat seorang Anies sampai-sampai pro politik SARA sehingga meng-aminkan “gerilya masjid” dengan segala variannya?  Apa juga yang membuat Anies sampai tidak malu menjalin persahabatan dengan kelompok anti Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, seperti FPI dan para konco-konco? Masih banyak pertanyaan sejenis lainnya. Namun tampaknya pertanyaan ini sudah cukup membuktikan bahwa Anies dulu sangat berbeda dengan sekarang.

    Kembali ke pertanyaan-pertanyaan tadi, maka jawabannya pasti banyak faktor. Salah satu di antaranya, tampaknya sakit hati karena dipecat, sedang ambisi lagi berada di posisi puncak,  lantas dengan sengaja mencemplungkan diri dalam pergaulan dengan kelompok yang salah. Ditambah karena gengsi “kegedean” sehingga tidak mau di bilang “cemen,” lantas “patuh” pada keinginan kelompok yang “salah” tersebut. Pokoknya: “Menang!” Kurang lebih mirip dengan cerita seorang sahabat yang terjerat oleh narkoba. Di sini letak tragisnya cerita tentang seorang Anies. Bukannya dari “buruk” lalu bertransformasi  menjadi “indah,” justru  sebaliknya.

    Siapa yang salah? Baik Anies yang punya ambisi besar dengan gengsi “kegedean” sehingga takut dibilang “cemen,” maupun kelompok pendukung seperti Gerindra, PKS, FPI, dan lain sejenisnya, sama-sama salah.

    Pesan Moral Sebagai Penutup

    Untuk para orangtua,  hati-hati dan waspada serta wajib kritis saat mendidik anak-anak titipan TUHAN. Pertama, jangan membiarkan sampai salah gaul. Kedua, jangan mengajarkan hidup harus dengan gengsi “gede.” Dan ketiga, jangan pula mengajarkan bahwa takut dibilang “cemen.” Kalau itu yang terjadi, bisa-bisa anak-anak terkasih kita akan terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Mungkin tidak menjadi pecandu “putauw,” tapi bisa-bisa menjadi seperti Anies. Seseorang yang tega menghalalkan segala cara demi mewujudkan ambisi.



    Abeunt studia in mores (Yang selalu dilakukan itulah yang kemudian menjadi wataknya).

    Ever Onward No Retreat. GOD Bless NKRI tercinta.



    Penulis :   Rohadi Sutisna   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Duh, Anies Kok Jadi “Begini” Ya? Akibat Salah Gaul kah? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top