728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 20 Juli 2017

    Diserang Bertubi-Tubi, Jokowi Memilih Berperang Demi Bangsa Indonesia

    Pada dasarnya, siapapun selagi berstatus WNI boleh memiliki keinginan untuk jadi presiden. Seroang yang telah menjadi presiden pun boleh memiliki keinginan untuk kembali menjadi presiden di periode kedua. Sama sekali tidak ada yang salah karena tidak melanggar undang-undang. Yang salah adalah ketika sudah dua kali periode menjadi presiden, dia masih berambisi untuk kembali menjadi presiden untuk periode yang ketiga. Ini menunjukkan dia adalah orang yang sangat rakus.

    Apakah salah jika Jokowi ingin kembali menjadi presiden di periode kedua? Mengapa seolah-olah Jokowi tidak boleh menjadi presiden di periode yang kedua?

    Sebenarnya tidak hanya Jokowi. Siapapun yang menjadi presiden pasti akan memiliki banyak musuh. Pasti ada saja pihak yang ingin menjegal dia dan mengupayakan jangan sampai menjadi presiden untuk periode kedua. Saya rasa hal ini sudah sangat lumrah di dunia perpolitikan.

    Perbedaan yang mendasar adalah cara menyikapi musuh-musuhnya. Jika presiden yang hanya ingin kekuasaan, ingin lanjut di periode kedua, akan berbeda cara menyikapnya dengan presiden yang benar-benar ingin memajukan Indonesia. Mari saya jelaskan.

    Presiden yang hanya ingin kekuasaan akan berpikir bagaimana caranya melanggengkan kekuasaannya. Urusan kemajuan negara, kesejahteraan rakyat, krisis ekonomi, serta seabrek persoalan menjadi urusan kedua setelah urusan melanggengkan kekuasaan.

    Cara-cara yang dipakai untuk melanggengkan kekuasaan bermacam-macam. Sampai saat ini, tercatat baru dua presiden yang berhasil menguasai Indonesia dengan periode yang lama, yaitu Suharto selama 32 tahun, dan SBY 10 tahun. Saya sengaja tidak membahas Sukarno karena beliau merupakan presiden pertama dan memiliki jasa besar dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia meskipun beliau memimpin Indonesia dari tahun 1945-1966. Selain itu, setahu saya saat itu belum diberlakukan pembatasan masa jabatan presiden.

    Cara-cara yang dipakai Suharto dan SBY untuk melanggengkan kekuasaan memang berbeda. Kita semua sudah sangat paham bagaimana aksi-aksi yang dilakukan oleh rezim orde baru. Suharto melakukan cara lebih kepada “mengancam”, sedang SBY bisa dikatakan menggunakan cara yang lebih halus, bisa diibaratkan seperti “menyuap”.

    Rezim orde baru akan melibas siapapun yang mencoba mengritik pemerintah saat itu. Hampir jarang muncul suara-suara yang nyinyir kepada pemerintah saat itu. Bukan karena mereka puas dengan pemerintah Suharto, namun karena mereka masih ingin hidup tenang. Berani melawan dan mengkritik pemerintah, maka sudah bisa dipastikan hidupnya tidak akan tenang.

    Berbeda dengan Suharto, SBY menggunakan cara-cara yang lebih halus dibanding Suharto. SBY tidak mengancam, namun SBY merangkul pihak-pihak yang mencoba melawan pemerintah. Ketika ada ormas yang mencoba melawan pemerintah SBY, SBY tidak pukul balik, namun SBY rangkul dan sumpal mulutnya dengan imbalan-imbalan tertentu misalnya diberi kebebasan untuk menyebarkan pahamnya. Jangan heran ketika di era SBY, HTI dan FPI bisa melakukan aksi dengan bebas.

    Ketika rakyat menuntut kesejahteraan kepada SBY, SBY rela hutang kepada luar negeri untuk memberikan BLT (bantuan langsung tunai) kepada rakyat. Jangan heran ketika hutang negara di era SBY meningkat drastis. SBY tidak peduli hutang negara semakin membengkak yang penting dirinya bisa menyumpal mulut rakyat. Dengan pemeberian BLT, tidak ada lagi suara-suara miring ke SBY dan SBY semakin dipuja-puja.

    Taktik kampanye SBY untuk melanggengkan kekuasaan memang sangat jitu. Menjelang akhir kepemimpinannya di periode pertama, SBY menurunkan harga BBM dan memberikan BLT ke masyarakat. Rakyat merasa senang dan menganggap SBY sangat memperhatikan rakyatnya. Mereka ingin SBY lanjut di peridode kedua karena mereka ingin kembali dapat BLT. Maka jangan heran ketika di pemilu 2009, SBY menang dengan mudahnya.

    Namun apakah benar SBY peduli dengan rakyatnya? Sayangnya rakyat tidak tahu bahwa untuk menyumpal mulut rakyat dengan BLT, SBY mengorbankan bangsa Indonesia. hutang Indonesia semakin membengkak demi bisa memberikan BLT dan memberikan subsidi BBM dan listrik, proyek-proyek mangkrak bertebaran di beberapa wilayah di Indonesia.

    Sekali lagi saya katakan, urusan kemajuan negara, peningkatan ekonomi, pembangunan infrastruktur menjadi urusan kedua setelah urusan melanggengkan kekuasaan. SBY bukannya tidak punya musuh, namun dia mampu untuk meredam musuh-musuhnya meskipun harus mengorbankan rakyat dan negara.

    Memang sudah menjadi tradisi dimana seorang presiden atau pejabat publik yang benar-benar ingin memajukan negara tidak bisa bertahan lama. Pasalnya, mereka tidak mau mengorbankan rakyat demi memnyumpal mulut musuh-musuhnya. Sebut saja Habibie dan Gus Dur. Presiden sebaik mereka harus mengalah dilengserkan musuh karena tidak ingin mengorbankan rakyat. Mereka tidak mau diajak bermain-main oleh para mafia yang ada di negara ini.

    Jokowi menjadi presiden yang dinilai meneruskan jejak Habibie dan Gus Dur. Jokowi menjadi harapan rakyat agar tidak bernasib seperti Habibie dan Gus Dur yang berhasil dilengserkan oleh begundal politik.

    Sejatinya jika mau, Jokowi sangat mudah untuk melanggengkan kekuasaan. Jokowi bisa belajar dari Suharto atau SBY jika ingin melanggengkan kekuasannya. Jokowi bisa menyumpal mulut ormas dengan memberikan anggaran, Jokowi bisa menyumpal mulut politikus yang terus melawan dengan memberikan jabatan strategis, Jokowi bisa mempermudah para mafia untuk beraksi di Indonesia, Jokowi pun juga bisa membodohi rakyat dengan memberikan BLT.

    Namun apa yang dipilih oleh Jokowi?

    Jokowi lebih memilih berperang melawan musuh-musuhnya. Jokowi rela dicaci-maki, dihina, dan direndahkan, serta menjadi bahan lelucon rakyatnya. Jokowi tidak peduli dengan itu semua. Jokowi hanya ingin bagaimana memajukan Indonesia yang sudah semakin tertinggal dari negara-negara lain.

    Jokowi mengeluarkan kebijakan yang terkesan tidak pro rakyat. Pencabutan subsidi BBM dan listrik untuk hal yang lebih produktif beresiko besar untuk membuat masyarakat kecewa dengan Jokowi. Namun Jokowi tidak peduli hal itu karena yang terpenting Jokowi bisa terus membangun negeri.

    Ketika hutang menjadi hal yang sangat sensitif, Jokowi tidak malu atau gelisah ketika harus kembali berhutang ke luar negeri. Jokowi paham betul hutang adalah salah satu pilihan paling rasional dan lebih baik. Tidak hanya Indonesia yang memiliki hutang luar negeri. Negara-negara lain juga berhutang untuk membangun negaranya. Tidak ada negara-negara yang benar-benar terlepas dari hutang.

    Jokowi tidak peduli dengan resiko semakin anjloknya citra dirinya karena hutang. Siapapun presiden Indonesia saat ini, hampir mustahil dia tidak akan berhutang. Penambahan hutang di era Jokowi masih sangat mending dan wajar dibanding pada era SBY. Namun mengapa pemerintahan SBY terlihat adem ayem dan jarang ada yang mempersoalkan? Jawabannya karena SBY mampu menyumpal mulut mereka, Berbeda dengan Jokowi yang lebih memilih berperang meskuipun resikonya elektabilitasnya akan semakin turun.

    Ketika ormas anti pancasila semakin merajalela, Jokowi menerbitkan Perppu Ormas untuk membubarkan mereka. Jokowi tidak peduli citra dirinya semakin buruk dengan penerbitan Perppu Ormas ini. Jokowi tidak risau dirinya disebut anti Islam. Jokowi hanya memikirkan bagaimana pancasila dan keutuhan NKRI tetap terjaga. Padahal, penerbitan Perppu Ormas sangat beresiko untuk Jokowi di Pilpres 2019.

    Jokowi benar-benar sedang mengecangkan ikat pinggang untuk membangun infrastruktur. Jokowi ingin memangkas anggaran pemilu yang dinilai terlalu besar dengan cara mempertahankan presidential threshold di angka 20%. Dengan angka 20%, pemerintah bisa menghemat biaya karena tidak banyak pasangan calon sehingga memungkinkan pemilihan presiden bisa berlangsung satu kali putaran. Jika presidential threshold di bawah angka 20%, maka paslon presiden akan semakin banyak dan pemilihan presiden akan berlangsung dua putaran

    Jokowi memang tidak peduli dengan kekuasaan. Dirinya lebih memilih berperang melawan musuh-musuhnya meskipun beresiko citranya semakin buruk. kebijakan Jokowi membubarkan HTI berimplikasi rezim Jokowi disebut anti-islam dan otoriter. Musuh-musuh semakin beringas menyerang Jokowi.

    Terlepas dari  keberanian Jokowi yang memilih berperang dan menanggung resiko, saya sudah sangat bangga dengan Jokowi meskipun mislanya nanti kalah di Pilpres 2019. Namun saya tetap berharap Jokowi yang akan memenangkan Pilpres 2019.


    Penulis :   Saefudin Achmad  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Diserang Bertubi-Tubi, Jokowi Memilih Berperang Demi Bangsa Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top