728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 09 Juni 2017

    Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila : Jawaban Telak Jokowi Atas Isu PKI

    Menyikapi dinamika yang berkembang di masyarakat seperti maraknya ideologi khilafah, penggunaan isu SARA, aksi persekusi ormas, dan intoleransi yang seakan menggambarkan memudarnya pengamalan nilai-nilai Pancasila. Kondisi ini tentu memicu mudahnya gesekan di masyarakat yang bisa mengancam stabilitas keamanan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Maka kemudian Presiden membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

    Dikutip dari Perpres Nomor 54 Tahun 2017 BAB III mengenai Tugas dan Fungsi, UKP PIP mempunyai tugas membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan umum pembinaan ideologi Pancasila dan melaksanakan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan.

    Adapun, Perpres Bagian Kedua mengenai Fungsi, UKP PIP menyelenggarakan berbagai fungsi, antara lain merumuskan arah kebijakan umum pembinaan ideologi Pancasila dan menyusun garis-garis besar haluan ideologi Pancasila dan roadmap pembinaan ideologi Pancasila. Juga berfungsi sebagai pemantau, mengevaluasi dan mengusulkan langkah strategi untuk memperlancar pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila serta melaksanakan kerja sama dan hubungan antarlembaga dalam pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila.

    Anggota UKP-PIP ini yakni Yudi Latif (Ketua), Wisnu Bawa Tenaya,Said Aqil Siradj, Try Sutrisno, KH Maruf Amin, Megawati Soekarnoputri, Mahfud MD, Andreas Anangguru Yewangoe, Sudhamek,dan Ahmad Syafii Maarif dilantik Rabu, 7 Juni 2017. Tak hanya berisi tokoh yang dikenal pluralis dan Pancasilais seperti Buya Syafii dan Said Aqil Siradj, di dalam UKP-PIP ini juga terdapat perwakilan dari tokoh agama. KH Ma’ruf Amin yang juga Ketua MUI bisa menjadi representasi Islam, Andreas dari umat Kristiani, Hindu diwakili Wisnu Bayu, serta tokoh Buddha Sudhamek. Try Sutrisno pun sebagai salah satu Mantan Wakil Presiden di republik ini juga masih sangat concern memberi perhatian kepada persoalan bangsa.

    Megawati pun tidak bisa disepelekan keberadaannya dalam unit kerja ini. Ia masuk pastilah bukan sekedar karena Ia mantan Kepala Negara, pejabat partai, ataupun sekedar anak seorang Proklamator melainkan karena rekam jejak Mega yang sudah teruji selalu memperjuangkan dan mengorbankan semangat Pancasila. Bahkan pada saat menjadi pembicara utama di Jeju Forum for Peace and Prosperity di Jeju, Korea Selatan pada 1 Juni 2017, Megawati memperkenalkan Pancasila sebagai gagasan untuk menghadirkan perdamaian dunia. Rumusan Pancasila sebagai konsep untuk perdamaian dunia pernah dicetuskan oleh Presiden Soekarno dalam pidato berjudul “To Build The World A New” di depan Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kalau Mega saja berani menawarkan Pancasila untuk perdamaian dunia, maka saya yakin Beliau juga akan sepenuh hati merumuskan pemahaman nilai-nilai Pancasila untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa ini.


    Anggota UKP-PIP


    Dilihat dari tokoh-tokohnya rata-rata usianya memang sudah sepuh. Namun unit kerja ini tidak akan seperti Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi (Tubapi) di era Bung Karno dan Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di era Soeharto. Mengikuti perkembangan jaman, Jokowi memastikan sifat program ini bukan indoktrinasi, melainkan sosialisasi yang disesuaikan dengan perkembangan zaman serta kondisi masyarakat Indonesia saat ini.

    Bentuknya beragam, misalnya berupa video di Facebook atau vlog di Youtube hingga berbentuk komik. Tujuannya, supaya penghayatan nilai-nilai luhur Pancasila bisa diterima oleh seluruh elemen, khususnya kalangan muda. Sebab kalangan muda yang akan menjadi penerus kepemimpinan bangsa ini memang perlu mengenal lebih dalam nilai-nilai Pancasila. Jangan sampai Pancasila kalah merasuk dengan ideologi lain yang gencar disosialisasikan oleh tokoh-tokoh yang ingin mengubah dasar bangsa ini.

    Meskipun kebanyakan bisa dibilang sudah berusia nenek-kakek, namun tokoh-tokoh ini paham betul sampai ke hal kecil mengenai gejala anti Pancasila yang berkembang di masyarakat. Andreas Anangguru Yewangoe misalnya, bercerita dirinya sempat mendapatkan informasi ada sekolah yang tidak memperbolehkan peserta didiknya membacakan Pembukaan UUD 1945 dalam upacara pengibaran bendera.

        “Ada di Sumatera, guru sekolah tidak mengizinkan anak membaca Pembukaan UUD 1945 dalam upacara hari Senin gara-gara alasan agama. Ini kan sangat tidak Pancasilais. Ini contoh kecil yang sungguh terjadi,”

        Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2017/06/07/15372481/rumuskan.sosialisasi.pancasila.ukp-pip.bahas.contoh.tidak.pancasilais

    Dilihat dari situ tentu pilihan Presiden ini tepat. Kalangan sepuh ini tentu lebih paham sejarah dan nilai-nilai luhur Pancasila. Mereka pasti bisa merumuskan apa-apa saja yang perlu dimasukkan sebagai materi pembinaan. Mengenai eksekusinya sebagai Ketua UKP-PIP saya pun yakin Yudi Latif juga paham bagaimana menjalankannya. Toh masyarakat, termasuk saya, pasti banyak yang bersedia juga memberi masukan bagaimana caranya agar rumusan yang nanti dihasilkan bisa disosialisasikan dengan baik.

    Di satu sisi, selain memang sebagai jawaban atas berbagai situasi yang terjadi, keputusan Jokowi ini seolah juga menjadi jawaban tegas terhadap tudingan yang sering dialamatkan padanya. Kita sudah bosan dengan isu yang bertujuan menjatuhkan Presiden Joko Widodo dengan membawa-bawa embel-embel komunis, entah apa itu Jokowi anak PKI maupun Jokowi antek komunis. Lucu sih karena tak terlalu susah menjatuhkan Jokowi yang kinerjanya memang bagus dan sejauh ini bersih serta dicintai banyak orang, maka hantu bernama komunisme yang dulu menjadi momok bangsa ini dibangkitkan lagi. Hal terparah dari fitnah ini adalah sampai ada seruan agar Jokowi mau melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah dia PKI atau bukan. Lha!

    Meski sudah menyatakan akan menggebuk kalau PKI benar muncul lagi, mereka yang julid ini sepertinya belum puas. Malah memelintir seolah Jokowi hendak bertindak represif. Setdah, manusia-manusia ini pastilah di kehidupannya juga bukan orang yang mudah bahagia dan berpikiran positif karena buat mereka semuanya serba salah. Tegas salah, diam pun tetap akan difitnah macam-macam.

    Saya yakin jika bukan seorang yang sangat nasionalis dan Pancasilais maka Presiden Jokowi tidak akan sampai pada keputusan pembentukan unit kerja presiden yang satu ini. Sebab bisa saja Presiden hanya sekedar menjawab tentang berbagai isu yang berkembang tanpa membuat sebuah langkah konkret. Namun nyatanya Jokowi betul-betul memperhatikan masalah ini dan serius memikirkan solusinya.

    Semoga segenap anggota UKP-PIP ini dapat bekerja dengan baik dan memberi hasil yang maksimal sehingga niat mulia Jokowi untuk kembali menanamkan nilai-nilai Pancasila secara komprehensif bisa terlaksana dengan baik. Sebuah bakti untuk negeri yang layak diapresiasi dan mendapat dukungan penuh. Selamat bekerja, Bapak Ibu!

    #JokowiUntukIndonesia



    Penulis :    Rahmatika   Sumber :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila : Jawaban Telak Jokowi Atas Isu PKI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top