728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 10 Juni 2017

    Tuhan, Rakyat dan Ahok, Berhasil Buat Pigai, Sambo dan ‘Tujuh Juta’ Laskar Ketakutan

    Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, mengatakan bahwa kasus kriminalisasi ulama telah menyebabkan perpecahan sosial dan terganggunya integrasi nasional. Menurut Pigai, disintegrasi nasional menjadi sebuah hal yang serius.

    Sebelumnya, Natalius Pigai sempat ditemui oleh presidium alumni 212, agar memfasilitasi mediasi dengan pemerintah. Para laskar 212 meminta rekonsiliasi dan berdamai dengan pemerintah. Mungkin selama ini mereka yang sempat berada di atas angin karena kesuksesan mendatangkan ‘tujuh juga’ (baca: lima ratus ribu) orang untuk memenuhi daerah jalan protokol Medan Merdeka, mulai ketar ketir.

    Mereka berpikir aksi-aksi lanjutan akan menambah jumlah para pendatang dari luar Jakarta. Usaha-usaha menggulingkan pemerintahan sudah tak terbantahkan lagi. Apalagi dengan kehadiran Fahri Hamzah yang sempat berada di mobil komando bersama Rizieq, mengatakan cara-cara memakzulkan pemerintahan baik secara legal, maupun jalanan.

    Bayangkan bagaimana pentolan-pentolan DPR, Fahri Hamzah dan Fadli Zon, justru tidak sedang mewakili rakyat mayoritas, ingin menurunkan Jokowi. Sebuah pemandangan dan pengalaman yang sangat buruk, menghancurkan begitu saja citra DPR di mata rakyatnya.

    Namun harapan para alumni 212 runtuh begitu saja karena melihat aksi-aksi lanjutan yang justru kontra produktif. Kita tahu aksi-aksi lanjutan tersebut semakin lama semakin sepi. Semangat mereka ibarat sebuah api unggun, yang berumur hanya beberapa saat.

    Membandingkan semangat para pendukung Ahok, sungguh alumni ini tidak ada apa-apanya. Pendukung Ahok menyalakan lilin, yang dapat bertahan jauh lebih lama. Inilah kemudian yang akhirnya membuat para laskar 212 mulai ketakutan. Mereka melihat bagaimana aksi pemerintah, melalui pihak kepolisian RI, meredam aksi-aksi ormas radikal ini.

    Maka tidak heran jika pada akhirnya, para pentolan alumni 212, seperti Rizieq, Khaththath, Ansuri Sambo, mulai sirna satu per satu. Rizieq melarikan diri ke Arab dengan menyandang dua status tersangka, Khaththath ditangkap karena kasus dugaan makar, dan kedua orang ini meninggalkan Ansuri Sambo seorang diri, di hutan belantara bernama Jakarta.

    Pada akhirnya alumni 212 pun tidak tahan untuk tidak menjilat muntahan mereka sendiri, yaitu berlindung di balik Komnas HAM, yang pernah dihina-hina dan dimaki oleh Rizieq Shihab. Kepada wartawan, Pigai menuturkan bahwa disintegrasi nasional akibat isu kriminalisasi ulama sudah terjadi di berbagai daerah.

    Namun lucunya, saat ia ditanya wartawan mengenai sumber perkataannya, Pigai malah mengatakan ‘cari saja di google’. Hahaha. Saya melihat jawaban Pigai seperti jawaban orang yang kebingungan dan sedang linglung. Ibarat seorang pasien yang mengalami sakit dan bertanya kepada dokter tentang obat yang ingin dikonsumsi, dokter malah mengatakan ‘cari saja di google’. Perkenalkan, inilah Natalius Pigai, Komisioner Komnas HAM!

    Bahkan Pigai tidak malu menyuruh wartawan mencari data tersebut di Google. Lantas, jika memang kita menggunakan logika Pigai, kerjaan wartawan akan hancur, karena digantikan oleh mesin pencari Google. Jawaban yang sangat ‘cerdas’ dari Pigai bukan? Wartawan yang iseng pun menanya lagi “Daerah mana, Pak?”. Pigai pun menjawab “Tidak perlu. Anda baca di google aja. Kan di Google aja beberapa pejabat daerah yang sudah menyampaikan tentang hal ini. Jadi tidak perlu saya sampaikan”.

    Wartawan terus menyecar Pigai, dan akhirnya ia harus mengakui bahwa Komnas HAM masih menyiapkan data-data tersebut. Keisengan wartawan tetap berlanjut. “Kalau tanpa data bagaimana Anda menyimpulkan?”. Pigai pun marah dan dengan data yang meninggi, mengulang lagi Google yang disebutkan sebelumnya.

    Lucu sekali. Bahkan berdasarkan data tidak jelas tersebut, Pigai meminta Presiden Joko Widodo untuk mengintervensi kepolisian agar menghentikan proses hukum terhadap ulama yang tergabung dalam Presidium Alumni 212. Pigai mengatakan upaya intervensi Presiden Joko Widodo melalui perintah SP3 pun menjadi sebuah langkah komprehensif untuk menghentikan kegaduhan.

    “Presiden dapat memerintahkan kepolisian dan kejaksaan untuk menutup atau SP3 atau deponering. Tapi sementara ini kami menghormati proses hukum… Tidak ada namanya juga menyelesaikan komperhensif atas permintaan Komnas HAM, jadi tidak ada intervensi hukum. Ini atas permintaan Komnas HAM,” tutup Pigai.

    Luar biasa, rasanya Pigai ini bukan orang baru di Komnas HAM. Ia sudah menjabat sebagai komisioner sewaktu Ahok dikriminalisasi sedemikian rupa, seorang diri, oleh ‘tujuh juta’ laskar. Ahok diam, dan tidak meminta pembelaan dari Presiden, justru para laskar yang ketakutan terhadap intervensi Jokowi.

    Jokowi tenang dan tetap diam. Lucunya, sekarang kita melihat ke ‘tujuh juta’ orang malah mengemis-ngemis ke Komnas HAM untuk Presiden mengintervensi kasus Rizieq. Sudah jelas Ahok menang melawan tujuh juta orang. Jadi tidak salah jika kita melihat Komnas HAM sedang menunjukkan ‘keberpihakan’.

    Melihat setiap fakta yang ada, tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa Tuhan, Ahok dan Rakyat berhasil membuat Pigai, Sambo, dan ‘tujuh juta’ laskar ketakutan. Mereka harus mengakui kehebatan dari orang-orang jujur yang berjuang untuk rakyat.

    Betul kan yang saya katakan?



    Penulis  :     Hysebastian  Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Tuhan, Rakyat dan Ahok, Berhasil Buat Pigai, Sambo dan ‘Tujuh Juta’ Laskar Ketakutan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top