728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 10 Juni 2017

    Tepis Fitnah ‘Gagap Agama’, Jokowi Ceramah Di Masjid Agung Tasikmalaya

    Tentu bukan hal yang menghebohkan jika kita melihat seorang Presiden menjadi penceramah di atas podium melakukan pidato kenegaraan. Presiden merupakan kepala negara yang memang memiliki keahlian dalam hal tersebut. Setelah alm. Gus Dur, Jokowi menjadi salah satu orang yang memiliki ‘akses’ untuk ceramah di atas mimbar masjid.

    Akses pengetahuan Islam yang mendalam dan pengertian agama yang mantap menjadi modal utama seorang penceramah. Inilah yang dimiliki oleh Pak Dhe Joko Widodo. Pemandangan seorang Presiden melakukan ceramah di atas mimbar masjid menjai sebuah hal yang langka.

    Pada saat Pilkada DKI 2017, kita melihat banyak sekali mimbar masjid yang seharusnya menjadi tempat dakwah agama dan pengajaran agama, disalahgunakan oleh para ulama, demi kepentingan politik.

    Politisasi masjid sempat terjadi dengan terstruktur, sistematis dan masif. Bahkan tidak sedikit ujaran kebencian yang bermuatan politis menjadi bahan dakwah mereka. Masjid sempat menjadi liar, karena berbau politis. Memimpin pemimpin yang seiman, tidak kafir, dan seterusnya, bahkan sampai ada pengusiran Pak Haji Djarot Saiful Hidayat, mewarnai mimbar-mimbar masjid di hampir seluruh penjuru Jakarta, khususnya Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

    Imam Sholat di Pos daerah Tol Jagorawi


    Bukan hanya sekali ini, pada tanggal 7 Juni 2017, Jokowi pun melaksanakan Sholat Maghrib di daerah Pos Polisi KM 10 Tol Jagorawi. Jokowi menjadi imam sholat, sementara makmumnya adalah para Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, Brigjen Suhartono, Kolonel Inf Mohammad Hasan, dan Letkol Dwi Yanu.

    “Walau sesibuk apapun, selalu sempatkan untuk ssholat. Ingat, sholat itu tiang agama,” tulis Jokowi di akun Instagram resminya @jokowi.

    Setelah menyelesaikan shalat, Jokowi pun menyempatkan diri untuk berfoto bersama para polisi yang ada di pos penjagaan tersebut. Kemudian ia melanjutkan perjalanan menuju Istana Kepresidenan Bogor.

    Imam istimewa di Masjid Raya Gondanglegi



    Sebelumnya pun Presiden Joko Widodo juga pernah menjadi imam istimewa di Masjid Raya Gondanglegi, Kabupaten Malang di kunjungan kerja Jawa Timur, Sabtu 3 Juni 2017. Sekitar pukul 12.00 Presiden yang didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pengganti Anies, yaitu Muhadjir Effendi, kepala staff Presiden Teten Masduki, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo langsung masuk ke Masjid Raya dan disambut oleh Imam Masjid.

    Presiden mengambil posisi di barisan terdepan. Usai melaksanakan salat zuhur empat rakaat, Jokowi memimpin salat jamak ashar sebanyak dua rakaat.

    Tausiyah di Masjid Agung Tasikmalaya

    Di dalam kunjungan kerja ke Tasikmalaya, Jawa Barat, Presiden Jokowi menyempatkan diri di bulan suci Ramadan menunaikan ibadah salat Jumat berjamaah di Masjid Agung Tasikmalaya. Usai salat, Jokowi bicara di mimbar masjid tersebut, melakukan tausiyah. Jokowi tiba di Masjid Agung sebelum azan Zuhur berkumandang. Ia sempat menunaikan salat dua rakaat dan gaib untuk warga dan tokoh daerah yang sudah meninggal.

    Usai salat sunat, azan salat Jumat berkumandang. Khatib di masjid tersebut kemudian melakukan khutbah dan salat Jumat berjamaah berlangsung. Usai salat dan doa, imam meminta Presiden Joko Widodo untuk sampaikan sambutan kepada para jamaah yang hadir.

    Di dalam tausiyah atau nasihat yang disampaikan oleh Jokowi, ia mengingatkan dan berbicara mengenai soal kebinekaan yang dimiliki Indonesia. Jokowi mengatakan bahwa keragaman tersebut adalah takdir dan hukum Allah SWT.

    “Para jemaah yang saya hormati, saya ingin mengingatkan bahwa negara kita Indonesia ini adalah negara yang besar. Dan kita dianugerahi oleh Allah begitu banyak suku, ada 714 suku. Begitu banyak pulau, 17 ribu pulau. Ada 516 kabupaten dan kota serta 34 provinsi dan 1.100 lebih bahasa lokal. Bahasa kita ini bahasa lokalnya berbeda-beda,” kata Jokowi di Masjid Agung Tasikmalaya, Cihideunh, Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (9/6/2017).

    Jokowi mengatakan bahwa ketetapan Allah harus dijaga dan dirawat agar menjadi sebuah modal bangsa untuk bersaing dengan negara lain. Jokowi sadar betul bahwa Allah yang dia percaya, tidak perlu dibela, melainkan perlu menjaga amanah.

    Karena kita melihat kebanyakan orang-orang yang berdalih untuk ‘membela Tuhan’, rasanya lupa bahwa aksi mereka justru merusak ketetapan Tuhan, yaitu kebinekaan. Di sisi lain, kita melihat banyak laskar ormas radikal yang membawa-bawa agama tertentu, dengan mudahnya berteriak kofar kafir.

    Jokowi pun mengingatkan bahwa di dalam kehidupan masyarakat, seluruh masyarakat adlaah saudara. Persaudaraan harus dijaga dan diatur. Persaudaraan antar umat Islam pun harus dijaga. Jika para pembaca Seword mengikuti media sosial, banyak sekali kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh para oknum ormas radikal yang menghina ulama-ulama lainnya. Inilah yang ditekankan oleh Jokowi.

    Pesan kedamaian yang dikatakan, menjadi sebuah pesan yang harus terus menerus ditekankan demi kedamaian bermasyarakat, khususnya di negara yang plural seperti Indonesia. Nilai kebangsaan atau ukhuwah wathoniah Indonesia juga harus dijaga. Perbedaan bukan dijadikan sebuah masalah, melainkan justru harus dijaga.

    “Kita memang berbeda-beda, beda agama, suku, beda bahasa daerah. Tapi kita ini adalah saudara. Dan sekali lagi, ini adalah anugerah Allah yang harus kita jaga. Oleh sebab itu, ukhuwah wathoniah kita, persaudaraan kita sebagai sebangsa dan setanah air juga harus kita jaga sebaik-baiknya,” , ucap Jokowi.

    Masih banyak yang dibicarakan Jokowi di dalam tausiyah di atas mimbar Masjid Agung. Pesan positif menjadi sebuah pesan yang diberikan kepada Pak Jokowi. Mengingat terlalu banyak ujaran kebencian yang dilakukan di atas mimbar tempat ibadah, tentu tausiyah Jokowi diperlukan untuk mengembalikan fungsi mimbar seperti sediakala. Sambutan yang diberikan Presiden, mendapat respons yang sangat positif dari para warga, khususnya para jemaah.

    Sebelumnya kita tahu bahwa Jawa Barat adalah daerah yang memenangkan Prabowo dengan nilai 14.157.381 suara, perolehan sekitar 60%, sedangkan Jokowi hanya mendapatkan 9.530.315 suara, perolehan sekitar 40%. Jawa Barat pun dikenal dengan provinsi yang intoleran. Maka keberadaan Jokowi seharusnya dapat membuka sedikit pikiran para warga, agar dapat lebih menerima perbedaan.

    “Sekali lagi saya titip, marilah kita jaga ukhuwah Islamiyah kita, ukhuwah wathoniah kita. Semoga Allah selalu menjaga kita, melindungi kita, memberikan bangsa kita kemakmuran, keadilan dan ksejehateraan. Terima kasih,” ucap Jokowi.

    Bukan hal yang berlebihan jika kita mengatakan bahwa keberadaan Pak Jokowi sudah menjadi sebuah keberadaan yang sangat berpengaruh di Indonesia. Jokowi masuk masuk ke sepuluh besar pemimpin dunia, yang dipandang oleh dunia internasional.

    Betul kan yang saya katakan?

    #JokowiUntukIndonesia



    Penulis    :    Hysebastian     Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Tepis Fitnah ‘Gagap Agama’, Jokowi Ceramah Di Masjid Agung Tasikmalaya Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top