728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 16 Juni 2017

    Soal Angket KPK dan Rizieq FPI, Jokowi Melawan Monster Politik “Deep Blue”

    Hak angket KPK di DPR, Rizieq FPI, Presiden Jokowi, dan Deep Blue. Apa hubungannya? Ingat 1997 ketika Deep Blue mengalahkan Garry Kasparov – sang kempiun catur Dunia? Setahun sebelumnya Garry Kasparov mengalahkan Deep Blue, mesin catur buatan IBM. IBM dituduh berbuat curang pada 1997 dan Garry Kasparov meminta pertandingan ulang. IBM merasa telah menang dan mengistirahatkan Deep Blue: kemenangan permanen. Di balik kasus Rizieq FPI dan hak angket KPK pun, jika ditelisik mendalam, sebenarnya merupakan gambaran permainan catur yang akhirnya ke muara: Presiden Jokowi!

    Kini Presiden Jokowi tengah mengalami peristiwa politik melawan monster politik seperti Deep Blue, yang digerakkan oleh raksasa monster dan mafia ekonomi. Presiden Jokowi dikeroyok secara komprehensif dan menyeluruh dari seluruh penjuru.

    Usaha melawan Presiden Jokowi itu seperti IBM dengan seluruh kemampuan – baik curang dan culas sekali pun – berusaha mengumpulkan seluruh kekuatan intelektual dan anti intelektual untuk membuat mesin catur super Deep Blue. Deep Blue terhadap Presiden Jokowi hanya memiliki satu target yakni Kejatuhan atau Satu Periode. Presiden Jokowi adalah commmon enemy bagi seluruh begundal politik Deep Blue.

    Mari kita telaah kekuatan (baca: kelemahan, tidak adanya kekuatan) Presiden Jokowi, sebagai pemain catur, melawan kekuatan terorganisir monster politik Deep Blue.

    Politik di Indonesia kini tengah panas. Memang, Presiden Jokowi adalah pecatur politik jempolan. Mirip dengan Garry Kasparov yang sendirian dan menjadi aktivis politik. Namun seperti Garry, Jokowi pun sendirian. Ini yang perlu dicatat. Namun jika diteliti lebih mendalam, ternyata Presiden Jokowi tidak memiliki kekuatan dahsyat. Presiden Jokowi cenderung menjadi pribadi yang sederhana.

    Presiden Jokowi bukan elit apa pun. Militer? Bukan. Ekonomi? Bukan. Konglomerat? Bukan. Kaya? Tidak juga untuk ukuran Presiden RI.

    Presiden Jokowi awalnya cuma pengusaha mebel. Kekayaan tak lebih dari Rp 33 miliar ketika menjabat Gubernur DKI. Tak ada angka triliun, bahkan ratusan miliar pun tidak. Kok bisa menjadi Presiden RI? Jawabannya, rakyat yang mendukung. Fenomenal.

    Bukan elite bangsawan. Presiden Jokowi tidak termasuk elit penguasa atau berdarah kekuasaan di Indonesia. Hal yang luar biasa.

    Gus Dur masih memiliki elitisme sebagai keturunan trah kiai besar Indonesia KH Wahid Hasyim. BJ Habibie naik dikerek eyang saya Presiden Soeharto. Megawati keturunan Bung Karno – pendiri Republik Indonesia. Lainnya para militer.

    Lalu Presiden Jokowi? Tidak kiai. Bukan kiai. Hanya mengandalkan trah Brawijaya V zaman Majapahit – itu pun Jokowi mungkin tak menyadari. Tidak tentara. Bukan tentara. Sekali lagi mari kita lihat kiprahnya yang mencengangkan.

    Presiden Jokowi bukan kiai. Namun Jokowi peduli Hari Santri. Hari Santri penting untuk mengingatkan roh dan marwag santri – istilah untuk menyebut para penganut paham ahlussunnah wal jamaah dalam keberagamaan Islam Nusantara yang moderat.

    Orang di luar itu apalagi penganut Islam garis keras tidak akan menyukai istilah santri. Ikhwanul Muslimin – yang di Mesir dicap teroris – yang menjadi kiblak AKP di Turki dan PKS di Indonesia plus Wahabisme yang kental di dalamnya tidak mengenal istilah santri. Pemahaman Islam ala Wahabi mengajarkan ajaran pemahaman Islam instan.

    Tak heran manusia bermulut manis Fahri Hamzah menyebut ide Hari Santri sebagai sinting – hal yang mengurangi suara Prabowo sampai hampir 1.8 %. Santri adalah identitas kesalehan Islam Nusantara, Islam moderat, dan Islam rahmatan lil alamin. Dan … Jokowi menguatkan identitas santri yang digerus oleh kalangan Islam radikal seperti HTI, Wahabi, dll yang menganggap santri secara sebelah mata.

    Presiden Jokowi bukan tentara. Namun sebagai Panglima Tertinggi TNI, Jokowi berhasil menggerakkan TNI AL untuk membantu Menteri Susi menenggelamkan ratusan kapal pencuri ikan. Presiden Jokowi menggerakkan TNI AD untuk membuka jalan ribuan kilometer di Papua. Presiden Jokowi bukan tentara.

    Namun, justru, Presiden Jokowi berhasil mengembalikan kebanggaan TNI AU dan AL untuk membela jengkal wilayah laut dan udara Indonesia. Pangkalan-pangkalan baru Militer TNI AL dan AU dibangun di perbatasan.

    Jokowi pun bukan anak professor ahli ekonomi. Bukan seperti Prabowo yang anak Begawan Ekonomi dan pemberontak PRRI Prof. Soemitro. Namun Jokowi berhasil membuat tax amnesty alias pengampunan pajak dan jebakan Rp 200 triliun pajak setelah tax amnesty terbesar dan tersukses di dunia.

    Presiden Jokowi juga bukan ahli ekonomi.  Namum, Presiden Jokowi memiliki konsep pembangunan yang jelas: infrastruktur penting untuk menggerakkan ekonomi.

    Presiden Jokowi tidak punya hutang. Presiden Jokowi pun adalah sosok presiden atau capres paling miskin: Rp 33 miliar doang. Sementara para lawan mereka bejibun uang dengan nilai ratusan miliar. Akan tetapi, justru dengan kekayaan minim untuk ukuran Presiden RI – atau calon Presiden RI –  Presiden Jokowi memiliki empati terhadap rakyat. Berbeda dengan para presiden sebelumnya yang tidak dekat dengan rakyat; Presiden Jokowi memahami dan merasakan kemiskinan dan empati sehingga sering membahagiakan rakyat dengan bergaul dengan rakyat jelata.

    Karena sudah cukup dengan kekayaan di bawah Rp 50 miliar, maka Presiden Jokowi tenang dan tidak tergerak untuk korupsi. Pun tidak mau melakukan KKN. Dan tidak mau disetir oleh pemilik modal.

    Hutang politik dan hukum? Pun hutang politik dan hutang hukum kepada penegak hukum Presiden Jokowi tidak punya. Sebagai elite non politik, sepak terjang Presiden Jokowi sejak lama tidak menenggelamkan diri menjadi penyetor upeti. Istilah yang dipakai untuk menyebut membangun jaringan yang kuat di semua lembaga penegak hukum. Tanpa teman dan kawan di semua lini, maka akan menjadi rumput kering yang gampang dibakar dan musnah.

    Nah anehnya Presiden Jokowi pun bukan penanam kekuatan. Presiden Jokowi juga bukan orang terkuat Indonesia, bukan seperti Setya Novanto yang disebut sebagai orang terkuat di Indonesia oleh Donald Trump.

    Namun, kini Presiden Jokowi justru sedang bermain catur dengan mesin catur monster politik Deep Blue. Deep Blue yang berupa monster mesin politik yang mengeroyok Presiden Jokowi. Meski kini Presiden Jokowi tengah didukung oleh Golkar, termasuk komitmen dari Setya Novanto, orang terkuat di Indonesia dan para politikus lainnya, namun sesungguhnya Presiden Jokowi tahu bahwa dalam politik tidak ada makan siang gratis. Dalam politik hanya kepentingan yang berlaku.

    Deep Blue sebagai monster politik yang hendak mengakhiri Presiden Jokowi ini bermain dengan sumber daya luar biasa lengkap. Ada di mana-mana. Tidak ada satu pun lini yang tidak memusuhi Presiden Jokowi. Tidak ada satu pun tempat yang tidak digunakan untuk menggalang kekuatan politik Deep Blue ini.

    Lembaga-lembaga negara, dengan cara korupsi mereka adalah perlawanan terhadap Presiden Jokowi. DPR menantang KPK juga tujuannya membuat gaduh dan dirancang untuk mengadu-domba Presiden Jokowi dan KPK. Pun berbagai kasus seperti Ahok dan bahkan Rizieq FPI adalah rancangan adu cerdas main catur yang sangat high profile. Pusaran catur itu ada melawan Presiden Jokowi. Targertnya ya Presiden Jokowi. Maka Presiden Jokowi terkait kasus-kasus di atas sangat cermat memainkan bidak, pion dan menteri serta bentengnya. Tidak gegabah.

    Kejatuhan Presiden Jokowi akan membuat pembangunan Indonesia mengalami set back. Mundur. Para begundal politik dan ekonomi, para mafia yang dirugikan oleh kebijakan Presiden Jokowi bersama membesarkan monster Deep Blue. Tujuannya membuat Indonesia tidak mandiri agar mafia menguasai distribusi energi, pangan, sandang, hutan, tanah, air yang menguasai hajat hidup orang banyak. Mafia berada di mana-mana. Bahkan mayoritas media pun tidak memihak kepada kebenaran. Malah menjadi corong Deep Blue.

    Media massa mainstream dan televisi serta on line juga mayoritas musuh politik Presiden Jokowi. RCTI dan kelompok media dan televisi Harry Tanoe. TV One dan ARB-nya. Serta media Detik.com milik Chaerul Tandjung dan TransTV. Media televisi yang cukup netral hanya Berita Satu dan Kompas TV. (Sementara untuk media massa koran hanya Kompas yang netral,lainnya menjadi corong kelompok Deep Blue, seperti Republika misalnya.)

    Nah, catatan tentang Presiden Jokowi yang menang melawan pecatan tentara Prabowo, yang didukung oleh seluruh kekuatan, yang sekarang menjelma menjadi bagian dari Deep Blue seperti M. Riza Chalid sang mafia migas, itu membuat Presiden Jokowi menjadi musuh bersama: harus DIJATUHKAN atau SATU PERIODE. Rakyat kadang gemes melihat Presiden Jokowi dinilai lambat. Namun sesungguhnya Presiden Jokowi memiliki kekuatan yang di luar yang dimiliki oleh dan bersebarangan dengan monster politik begundal Deep Blue.

    Nah, lalu apa kekuatan Presiden Jokowi untuk menghadapi para begundal politik?

    Strategi, kejujuran, determinasi, kecerdasan, kesederhanaan, ketulusan, keberanian, dan kecintaan pada rakyat Indonesia yang dimiliki oleh Presiden Jokowi. Hanya itu? Iya. Semua kini tergantung kepada rakyat Indonesia.Dan lawan yang dihadapi oleh Presiden Jokowi hanya akan berusaha untuk membuat Indonesia (1) rusak. (2) Intoleransi, (2) anti kebhinekaan, (3) politik SARA, (4) strategi politik mayat dan ayat, (5) politik khilafah, (6) politik kejam ala Wahabi, (7) politik pelintiran agama seperti Ikhwanul Muslimin, adu domba umat dan rakyat baik seagama atau beda agama, (8) ajaran takfiri, dll.

    (Mereka dalam mencapai tujuan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan: Indonesia rusak. Contoh Pilkada DKI yang memecah belah, yang di 2019 pasti akan terulang. Pun target monster politik Deep Blue ini adalah garda tertinggi yakni Presiden Jokowi, dengan cost rakyat menjadi korban politik dan NKRI menjadi taruhan.)

    Mau melihat Presiden Jokowi dilibas oleh monster politik Deep Blue, yang nota bene Presiden Jokowi adalah pembela kepentingan rakyat banyak? Atau masih ingin Presiden Jokowi menjabat dua periode sebelum dijegal monster politik Deep Blue? Tontonan perang strategi dwi tarung catur Presiden Jokowi melawan monster politik Deep Blue yang layak menjadi pemikiran rakyat Indonesia yang masih waras. Salam bahagia ala saya.




    Penulis :  Ninoy Karundeng    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Soal Angket KPK dan Rizieq FPI, Jokowi Melawan Monster Politik “Deep Blue” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top