728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 15 Juni 2017

    Siapakah Kaum Nyinyir terhadap Jokowi?

    Bukti nyata sekalipun tidak mampu menyembuhkan penyakit nyinyir mereka. Mau kamu menunjukkan ke depan hidungnya bukti nyata itu, atau hidungnya kamu bawa ke buktinya nyata itu, akan tetap saja mereka nyinyir alias menyangkal pencapaian Jokowi selama kurang lebih tiga tahun.

    Siapakah kaum nyinyir?

    Pertama, lawan politik Jokowi. Mereka ini sudah pasti tidak menerima bahwa Jokowi mengerjakan banyak hal yang sangat nyata berdaya guna bagi rakyat. Mulai dari pembangunan tol darat dan laut, jalan lintas Kalimantan dan trans Papua, swasembada pangan darat dan laut, serta proses revolusi mental yang sudah mulai merasuki otak generasi muda bangsa ini.

    Ini sangat masuk akal sekali. Sebab jika mereka tidak ‘membantai’ Jokowi, maka dapat dipastikan partai-partai ini akan terjungkal sampai ke dasar sumur. Mereka akan kehilangan daya gempur. Akibatnya mereka akan gigit jari, harus menunggu lima tahun lagi.

    Alih-alih mengkritik, mereka malah menebar fitnah dan hoax, menyangkal pencapaian pemerintah dan membesar-besarkan isu yang tidak penting. Misalnya, TDL naik, BBM naik dan harga sembako melangit. Padahal sejatinya, TDL seolah naik diakibatkan pencabutan subsidi, BBM juga demikian, serta harga sembako tidaklah melonjak seperti yang mereka isukan.

    Harus dimaklumi mereka menyangkal pencapaian Jokowi, sebab tidak ada proyek mangkrak untuk menurunkan elektabilitas Jokowi. Tidak pula ada masalah pembebasan lahan dalam pembangunan-pembangunan baik tol, jalan dan bendungan. Tidak ada pula kecaman dari dunia internasional terhadap pemerintahan Jokowi.

    Cerdiknya mereka adalah tidak secara langsung menyangkal melalui media garis utama, seperti dahulu berbicara di hadapan wartawan. Mereka malah memanfaatkan buzzer-bauzzer di media sosial seperti Twitter, Facebok, Line, dll. sehingga lebih efektif dan efisien. Mereka juga tidak mengungkap identitas politik mereka, partai atau partisan atau sekedar nyinyir.

    Berbahaya? Ya! Sangat berbahaya. Maka kalau tidak dilawan, akan menimbulkan efek yang sangat membahayakan bagi Jokowi. Kalau sudah banyak masyarakat yang menikmati hoax, maka korban juga akan ikutan tidak memilih Jokowi serta partai pengusungnya pada 2019 nanti.

    Kedua, penderita kebijakan-kebijakan Jokowi. Apalagi setelah Pilkada DKI, topeng-topeng semakin banyak disibakkan. Mulai dari koruptor, ormas anti-Pancasila dan radikal, orang-orang pura-pura miskin, serta politikus busuk yang tega memanfaatkan agama sebagai alat politik.

    Ketika topeng mereka dibukakan, dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan laku. HTI tidak akan lagi diikuti karena sudah dilarang. FPI tidak akan mendapat simpati karena terkenal radikal; pemimpinnya ternyata ngumpet di Arab dan tidak berani menghadapi hukum Indonesia, tidak berani mengungkap kebenaran soal kasus cabulnya. Partai Gerindra dan PKS, yang nyata menggunakan isu SARA untuk memenangkan Pilkada DKI, juga semakin kelihatan busuknya; sebab hanya partai biadab yang menggunakan cara biadab untuk menang. Ada lagi pihak-pihak yang karena subsidi dicabut, mereka tidak bisa lagi menggunakan jurus pura-pura miskin untuk menikmati subsidi pemerintah.

    HTI sudah pasti sedang sport jantung, sebab hidup organisasi mereka sudah diambang kebinasaan. Mereka, yang berkembang melalui gerakan bawah tanah, akan kembali ke tanah. Tidak ada lagi tempat mereka di Indonesia. Meskipun sejatinya Indonesia tidak mungkin bersih dari paham HTI ini, sebab mereka akan selalu berlindung di balik Islam.

    FPI juga sedang terhuyung-huyung. Maklumlah pimpinannya sedang ‘ngumpet’, sebab takut menghadapi kasus cabul, belum lagi beberapa kasus lainnya. Langkah mereka untuk meraih kembali simpati masyarakat pun tidak selalu efektif. Bahkan kesempatan menjilat ormas Ansor NU, dengan kedok pengamanan lalu dilucuti atributnya oleh polisi dan diganti dengan baju koko yang baru, justru semakin memperparah playing victim mereka.

    Mau tidak mau mereka harus balas dendam. Bagaimana caranya? Menebar pernyataan kebencian dengan isu PKI, anti-Islam, meme penghinaan dan lain sebagainya. Mereka, sama seperti lawan politik Jokowi, juga menggunakan media sosial sebagai sarana efektif, murah dan efisien untuk membalas dendam.

    Untuk mereka ini tidak penting apakah berpengaruh terhadap pemerintahan atau tidak. Berpengaruh, seperti terjadinya kegaduhan-kegaduhan karena persekusi, ya syukur. Tidak berpengaruh pun yang penting sudah menghujat, menghina, memfitnah dan mencaci.

    Makanya selalu nyinyir. Maka jangan heran jika orang-orang ini pasti tidak akan mampu menghargai kerja keras Jokowi membangun Indonesia. Hati yang sudah diselimut rasa dendam kesumat tidak akan mungkin melihat terang kebaikan.

    Ketiga, gabungan keduanya. Ada dua bentuk. Pertama, lawan politik dan penderita kebijakan Jokowi, sama-sama nyinyir untuk menenggelamkan citra Jokowi dan jajarannya. Dalam posisi ini mereka sama-sama yang penting mengganggu jalannya pemerintahan. Kedua, lawan politik Jokowi memanfaatkan penderita kebijakan Jokowi atau sebaliknya.

    Jika Anda tidak percaya, coba kembali mencermati Pilkada DKI yang lalu. Kita tahu bahwa Ahok-Djarot berada dalam barisan pendukung pemerintahan Jokowi sementara Anies-Sandi berada dalam kubu lawan politik Jokowi. Anda bisa melihat di kubu Anies-Sandi terdapat pengusaha dan ormas agamis. Mereka menggunakan sentimen keagamaan untuk meraup suara. Bahkan sampai melakukan intimidasi mulai dari tidak mengalatkan mayat, sampai menyebut pendukung Ahok-Djarot yang Muslim adalah munafikun. Saya mau tanya, sejak kapan pilihan politik menentukan masuk surga atau neraka? Sejak, sangat kentara, Pilkada DKI.

    Mereka ini sebenarnya simbiosis mutualisme demi kepentingan kelompok. Jelas bukan demi kemajuan bangsa ini. HTI demi berdirinya kekhilafahan di Indonesia, partai-partai politik punya peluang mendapatkan kekuasaan, ormas-ormas punya peluang mendapatkan suntikan dana, serta kepada pengusaha terbuka peluang lobi-lobi proyek.

    Anda akan berdiri di mana?

    Yang jelas pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi sudah bekerja keras membangun bangsa ini, mulai dari pusat sampai batas terluar NKRI. Jokowi tidak memerhatikan seluruh pembangunan di negeri tercinta ini, dari Sabang sampai Merauke. Jokowi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan ini.

    Jokowi sudah menunjukkan bahwa dia presiden untuk semua bukan hanya untuk partai politik pengusung atau pemilihnya. Ia menunjukkan bahwa dia bukan presiden boneka yang selama ini ditakutkan atau diisukan pihak-pihak yang berpikiran iblis.

    Bahwa pembangunan belum meluas dan merata seluru Indonesia adalah tantangan yang harus kita hadapi Bersama. Indonesia itu tidak selebar daun kelor atau seluas jidat kaum nyinyir. Apalagi revolusi mental belum secara maksimal dihidupi pejabat dan masyarakat. Pemerintah membutuhkan waktu untuk membangun bangsa ini. Kapan Indonesia ini akan bangkit bila tidak ada dukungan bagi orang-orang yang sudah bekerja keras?

    Dan saya kira, jika pembaca seword adalah orang waras, maka mereka akan mendukung Jokowi. Mendukung bukan berarti membeo. Mendukung harus tetap mengkritik, mengoreksi, dan mengingatkan pemerintah bila salah jalan atau lalai. Tetapi Anda dan saya harus menjadi rekan/partner pemerintah untuk membangun bangsa ini.

    Terakhir. Jangan berharap diam akan mengubah bangsa ini. Jika Anda seorang pegiat media sosial, silakan memberi pemahaman kepada kaum nyinyir, siapa tahu mereka hanya korban. Jika ada hoax tentang pemerintah, silakan verifikasi dan beri validasi bukan pembenaran. Jika Anda seorang pendidik, didiklah siswa-siswi agar mencintai bangsa ini, minimal tidak ikut buat gaduh. Bila Anda seorang rohaniwan, berilah pengetahuan agama yang menenteramkan dan menyejukkan sesuai tujuan agama yaitu keselamatan bukan laknat dan kebencian.

    Salam dari rakyat jelata



    Penulis :  Mora Sifudan   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Siapakah Kaum Nyinyir terhadap Jokowi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top