728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 04 Juni 2017

    Seharusnya Kita Malu Sama Presiden Jokowi

    Sudah mencapai 2 tahun lebih menjadi orang nomor satu di Indonesia, kiprah Joko Widodo tidak pernah terlewat dari perhatian publik beserta kontroversi tentunya.  Membahas mengenai Jokowi sama dengan membahas tentang pro dan kontra. Ada  sebagian yang pro dengan kebijakan serta pemerintahan Jokowi. Tapi Ada juga yang dengan gencar menyuarakan atau bahkan menyebarkan berbagai hal kontra tentang Presiden ke-7 Indonesia ini. Seperti beberapa waktu lalu media sosial Nampak ramai, Jokowi dihujani dengan berbagai kritikan mengenai sikapnya yang memilih berlebaran di Padang daripada bersama ibundanya. Kritikan semacam ini dipandang sinis oleh mayoritas netizen.

    Intinya tak perlu mencampuri urusan pribadi Jokowi hingga sedetail itu. Akan lebih bermanfaat kalau kita mengkritik kebijakannya saja. Tapi nampaknya Jokowi terlalu menarik kalau hanya dikritik sebatas perannya sebagai presiden. Entah kehabisan bahan atau apa, para haters Jokowi sampai repot-repot membahas kejelasan mengenai status keluarga Jokowi. Coba pikirkan dengan akal sehat, apakah itu penting? Kalaupun asal-usul Jokowi memang tak jelas, yang penting kan beliau selalu bertanggung jawab mengemban tugasnya sebagai presiden. Justru tanggung jawab dan tugasnya itulah yang seharusnya lebih kita kritisi.

    Dibandingkan hanya sibuk memperdebatkan libur lebarannya Jokowi di Padang atau sibuk memikirkan status kekeluargaan ibunda Jokowi, jauh lebih baik kalau membahas mengenai pencapaian beliau yang cukup membanggakan. Paling tidak itu bisa menumbuhkan rasa bangga kita pada pemimpin kita sendiri, daripada repot-repot  menyebarkan kritikan yang tidak penting seperti urusan pribadi beliau. Membahas sesuatu yang positif tentang seseorang terutama pemimpin akan membuat kita merasakan hal yang positif pula.

    Teringat dulu saat awal jabatannya sebagai presiden, beliau dihujat yang tidak pandai bicara lah dan bahkan dibilang kurang mampu bertindak tegas. Pembawaan beliau yang dipandang kurang menunjukkan wibawa sebagai presiden, sehingga banyak yang  menduga hal itu akan menurunkan wibawa Negara Indonesia di mata negara-negara tetangga. Tapi ketika menjabat, semua dugaan buruk itu tak terbukti sama sekali.

    Bahkan Jokowi membuat kepala bangsa ini yang awalnya terus menunduk kini perlahan menjadi kembali tegak. Beliau membuktikan kalau wibawa tak selalu berasal dari badan yang besar serta latar belakang militer, wibawa terlahir dari ketegasan dan keberanian.

    Track Record beliau sudah menunjukkan gaya kepemimpinan yang berani, tegas, dan konsisten, salah satunya seperti; Jokowi sangat tegas saat memimpin DKI Jakarta. Ketika menangani kasus dugaan korupsi pembelian bis Transjakarta oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Saat itu jelas-jelas kepala dinasnya yang bermasalah, tanpa pikir panjang dia langsung diberhentikan oleh Jokowi.

    Contoh lainnya adalah tentang kebijakan lelang jabatan untuk menentukan petugas birokrat. Lelang jabatan merupakan solusi serta inovasi yang cukup tepat agar terhindar dari praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Ketika wacana tentang kebijakan lelang jabatan itu digulirkan, muncul banyak resistensi dari birokrasi. Dan ternyata Jokowi tak memperdulikan semua itu.

    Jokowi saat menjadi kepala negara pun juga masih terlihat tegas, salah satunya yaitu saat beliau dengan tegas membatalkan pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri karena diduga terseret kasus korupsi. Atau bisa bisa juga kita lihat saat pemberhentian sementara Abraham Samad, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diduga terlibat kasus kriminal lalu diproses secara hukum.

    Serta yang cukup marak beberapa waktu lalu, beliau menetapkan serta menurunkan harga BBM berdasarkan beberapa argumentasi “ekonomi rakyat”, untuk kepentingan yang bangsa Indonesia yang lebih luas. Jokowi juga cukup tegas saat menetapkan eksekusi mati pada Andrew Chan serta Myuran Sukumaran, dua orang warga negara Australia yang menjadi dalang penyelundupan narkoba dari Australia di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah.

    Yang pasti Jokowi merupakan sosok pemimpin yang terbilang cukup unik serta langka di negara ini. Beliau merakyat, menolak bermewah-mewah, fokus kerja, dan juga antikorupsi. Jokowi lebih fokus untuk melayani ketika mayoritas para pemimpin yang lain lebih suka dilayani. Saat banyak para pemimpin sibuk menebar wacana ini-itu, Jokowi lebih suka bekerja dan bekerja tanpa harus banyak bicara.

    Saat lebih dari 50 kapal-kapal China mencuri ikan di lautan Natuna sepanjang tahun 2016, Jokowi pun tak tinggal diam. Bersama dengan para menterinya, Jokowi  mengadakan rapat khusus di atas KRI Imam Bonjol di daerah perairan Natuna. Rapat khusus yang diselenggarakan ini seakan-akan menandakan pada China bahwa Indonesia akan menindak tegas pencurian ikan di Natuna. Beberapa eksekusi tegas pemerintah akhir-akhir ini membuat China berpikir 1000 kali untuk mencuri ikan-ikan di wilayah Republik Indonesia.

    Tak cukup hanya memberikan sanksi pada kapal-kapal yang mencuri ikan di perairan Indonesia. Dalam rapat  khusus itu, Jokowi juga akan meningkatkan kemampuan TNI untuk menjaga wilayah perairan Natuna. Presiden memerintahkan TNI dan Bakamla untuk menggunakan segala upaya dan teknologi terbaik untuk menjaga keamanan di sana.

    Tindakan Jokowi ini terbilang sangat berani, serta mendapatkan banyak apresiasi dari negara-negara tetangga. Filipina bahkan menggambarkan karikatur sosok Jokowi sebagai petarung yang tengah melawan gurita (China). Apabila negara lain saja sangat bangga serta mengapresiasi keberanian Jokowi, mengapa kita juga tidak demikian? Pemimpin kita melakukan hal-hal yang menyebabkan negara kita dihormati oleh bangsa lain. Mengapa hal itu tak dijadikan kebanggaan yang terus kita dengungkan?

    Sebagai rakyatnya, justru lebih banyak orang yang dengan semangatnya mengkritisi masalah-masalah pribadi Jokowi. Apa tak ada sedikit saja tempat untuk membicarakan hal-hal yang lebih penting dan lebih dibanggakan dari beliau? Apabila kita tidak bisa ikut membantu tugas beliau untuk menyelesaikan masalah-masalah di negeri ini, paling tidak kita juga ikut mengapresiasi kinerja beliau yang bahkan sering diabaikan.

    Ketegasan serta keberanian dalam bertindak tak selamanya hanya bisa dimiliki oleh pemimpin yang bertubuh tinggi besar atau bahkan berpangkat jenderal sekalipun. Tapi itu semua dapat muncul dari dalam tiap individu yang memiliki cita-cita untuk membesarkan serta membawa bangsa ini menuju kemajuan dan kemakmuran.

    Itulah kehebatan sejati seorang pemimpin. Pada saat para penghujat heboh mengurusi keburukannya, beliau terus melaksanakan hal-hal untuk membuat Indonesia kuat. Pada saat kewibawaaannya dipertanyakan, beliau tengah sibuk membuat dunia kagum dengannya. Itulah kenapa kita harusnya malu dengan Pak Jokowi. Malu karena kita tak ikut berbuat tapi sangat cepat dan heboh dalam mengkritik. Malu karena tidak berperan serta memberikan apapun untuk negeri ini, tapi hanya bisa menghujat dan mengkritik saja.


    Penulis : Putra Dewangga    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Seharusnya Kita Malu Sama Presiden Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top