728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 03 Juni 2017

    Sandiaga Uno Tidak Sadar Komentar Pembelaan Dia Sekarang Akan Ditagih Warga Nanti: Pemukiman Liar Disebrang RPTRA Kalijodo

    Jujur saya tidak pernah bisa memahami jalan pikiran Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta terpilih, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Saya melihat perilaku mereka seolah jabatan yang akan diembannya untuk lima tahun kedepan adalah sebuah sandiwara dimana cerita bisa dibuat sesuai dengan keinginan.

    Saya yakin Partai Pengusung mereka sadar bahwa memilih Anis Baswedan dan Sandiaga Uno ini ibarat memilih pemeran utama untuk sebuah film drama atau film layar lebar yang akan ditayangkan dan ditonton oleh warga. Lalu mereka berpikir, yang penting menang dulu. Kalahkan Paslon dua! Kalau sudah menang kita buat sebuah tim yang akan mensupport kerja dan kinerja Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Sebut saja Tim Transisi! Nyontek sama Jokowi dulu waktu sebelum masuk Istana Negara, dia juga membentuk Tim Transisi.

    “Eh bukan transisi, kalau tim transisi dari sisi arti adalah perpindahan atau peralihan, tapi Anies Sandi memerlukan lebih dari itu. Okey, kita ganti namanya jadi Tim Sinkronisasi, dimana pihak Petahana juga secara tidak langsung harus menjadi bagian dari tim, beres kan?”. Ya kira-kira seperti itu pemikiran partai pengusung Paslon tiga dulu.

    Terbuktikan? Selama masa kampanye, Anies Baswedan tugas pokoknya membunuh karakter Ahok dan mengulang-ulang satu kata yaitu “Keberpihakan”. Sementara Sandiaga Uno bertugas untuk memblown-up OK OCE dan berdua menyebutkan beberapa program unggual seperti rumah dengan DP nol persen, Vertikal House, KJP Plus. Sementara kemenangan mereka sendiri didapat karena bantuan kampanye ayat dan mayat.

    Tim Sinkronisasi yang dibentuk memiliki kapasitas lebih besar dibanding tim transisi jokowi dulu. Ada delapan orang yang tergabung dalam tim sinkronisasi Anies-Sandi. Mereka terdiri dari para profesional, akademisi, hingga mantan birokrat. Beberapa nama sudah banyak dikenal masyarakat terkait sepak terjangnya di bidangnya masing-masing, salah satunya orang yang menjadi ketua tim itu, yakni Sudirman Said, Mantan Menteri ESDM.

    Nama anggota tim sinkronisasi lainnya adalah Eko Prasojo, Mantan Wakil Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi. Fadjar Pandjaitan, Mantan Wali Kota Jakarta Barat dan Asisten Sekda DKI Jakarta bidang Pemerintahan. Marco Kusumawijaya, seorang arsitek yang sering mengkritik kebijakan pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dalam hal penggusuran permukiman warga di bantaran kali. Edriana Noerdin, seorang gender specialist yang membantu pemerintah Indonesia merumuskan program pengentasan kemiskinan yang berpihak pada perempuan. Rikrik Rizkiyana, seorang advokat dan social entrepreneur. Mohammad Hanief Arie Setianto, seorang akuntan yang pernah mengawal agenda strategis sektor energi melalui Unit Pengendali Kinerja Kementerian ESDM tahun 2015 – 2016. Dan yang terakhir adalah Untoro Hariadi, seorang peneliti dan staf pengajar di Universitas Janabadra Yogyakarta.

    Keren kan isi tim sinkronisasi Anies Sandi?

    Tapi jangan salah, sampai hari ini, banyak media yang memberitakan banyaknya hal-hal yang membingungkan dari program-program yang diunggulkan oleh Anies – Sandi. Misalnya Program Kartu Jakarta Jomlo. Saya sendiri  tidak tahu, ini beneran program atau sebuah candaan Anies – Sandi sih?. Lalu beberapa program yang dulu begitu dibangga-banggakan sekarang dibatalkan. Misalnya program KJP Plus. Program lainnya dalam keadaan “koma” dan tidak diketahui kabar beritanya.

    Gubernur Djarot Saeful Hidayat saja sampai marah-marah atas perilaku Gubernur baru yang baru akan dilantik bulan Oktober nanti tapi sudah merasa menjadi Gubernur sekarang. Sudah mulai main perintah dan macam-macam itu.

    Tim Sinkronisasi lama-lama bisa pada mengajukan surat pengunduran diri karena mereka bingung untuk merumuskan rancangan langkah kerja yang harus dibuat agar program yang dijanjikan bisa dilaksanakan. Lah, programnya dibuat asal-asalnya. Judulnya saja mentereng, tapi cuma judul doang.

    Warga Akan mencatat komentar dan Janji kalian, Anies – Sandi!

    Hal lain yang patut diperhatikan adalah cara bagaimana Anies – Sandi berkomentar tentang beberapa hal yang terjadi sekarang. Mereka tidak sadar bahwa masalah itu akhirnya akan jatuh ke pelukan mereka juga.

    kejadian yang terjadi kemaren adalah munculnya pemukiman liar disebrang RPTRA Kalijodo. Apa komentar Sandiaga Uno? Dia mengatakan, “Kalau mereka balik bangun bedeng itu dikarenakan mereka kesulitan mencari lahan usaha di rumah susun”. Sementara Djarot meminta agar bangunan liar di kolong tol Pluit atau di seberang RPTRA Kalijodo dibongkar. Djarot menilai, langkah persuasif tidak perlu dilakukan lagi karena bangunan liar itu sudah berkali-kali didirikan dan ditertibkan.

    Lucu bukan? Sandiaga apa lupa kalau dia sudah dinyatakan memenangkan pilkada? Kok komentarnya masih bertentangan dengan Djarot dan peraturan yang ada? Warga yang mendirikan pemukiman liar itu akan merasa dibela oleh Sandi. Memandang Sandi paham akan kesulitan mereka sulitnya mencari lahan untuk memulai wirausaha.

    Percaya tidak percaya seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, Anies – Sandi lama-lama bisa dilengserkan oleh pemilihnya sendiri. Sungguh tragis bisa-bisa nasib mereka dan Jakarta!

    Penulis :   Erika Ebener    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Sandiaga Uno Tidak Sadar Komentar Pembelaan Dia Sekarang Akan Ditagih Warga Nanti: Pemukiman Liar Disebrang RPTRA Kalijodo Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top