728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 11 Juni 2017

    Saat Investasi Ala Yusuf Mansur Kembali Bermasalah

    Ini bukan kriminalisasi atau penistaan ulama. Kasus ini sudah ramai sebetulnya sejak 2013, jauh sebelum isu-isu tersebut bergulir. Berawal dari bisnis Patungan Usaha dari dana jemaah, dana patungan tersebut dipakai untuk mengakuisisi hotel dan mengubahnya menjadi hotel bagi jemaah haji dan umrah. Dasarnya baik sebetulnya, dari kepercayaan Yusuf Mansur bahwa Indonesia ini sangat kaya dan bisa menjadi negara adidaya sehingga bagaimana caranya agar bisnis properti jangan sampai dikuasai oleh asing. Konsep yang dijual adalah bisnis patungan tersebut merupakan dana dari umat, oleh umat, dan untuk umat.


    Bulan Juli 2013, saat itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah ‘pasang mata’ terhadap bisnis Yusuf Mansur tersebut. Ingat ya 2013 Presiden RI belum Joko Widodo melainkan masih Susilo Bambang Yudhoyono. Mengapa perlu saya tulis di sini? Sebab pasti ada sumbu pendek yang marah-marah dan ujung-ujungnya sok membuat teori konspirasi ini adalah ulah rezim Jokowi. Alasan OJK saat itu bisnis umat tersebut tidak mematuhi aturan pasar modal, apalagi menjanjikan keuntungan hingga 8 persen. Mereka juga menyarankan Yusuf Mansur membuat perusahaan publik sebagai payung. Soalnya kegiatan penghimpunan dana masyarakat hanya bisa dilakukan oleh emiten atau perusahaan yang telah menjadi perusahaan publik. Saat itu OJK tidak memberi sanksi karena usaha ini pun sempat dihentikan.

    Pada Bulan Agustus 2013, di GOR Among Rogo, Yogyakarta, Yusuf Mansur mendeklarasikan Koperasi Daqu. Di situsnya, Yusuf mengatakan bahwa pembentukan koperasi itu sebagai salah satu jalan resmi dan restu izin dari pemerintah atas tawaran investasi yang dikelolanya. Disebutkan pula bahwa acara itu dihadiri Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan saat itu, dan Aries Muftie, Ketua Umum Asosiasi BMT Indonesia. Posisi YM sendiri adalah sebagai pengawas dewan syariah. Adapun nilai setoran awal menjadi anggota sebesar Rp 400.000. Namun demikian, manajemen koperasi menyarankan agar peserta atau nasabah menyetorkan dana Rp 1.400.000, yaitu Rp 400.000 untuk keanggotaan di awal dan Rp 1 juta untuk modal tambahan.

    YM baru menyampaikan entitas bisnis investasinya ke OJK per 3 September 2013 lalu dengan konsep koperasi biasa dan koperasi simpan pinjam yang disebut Daarul Quran (Daqu). Bentuk koperasi ini sudah disetujui, namun saat itu OJK belum tahu apakah dana umat sebelumnya akan dimasukkan ke situ atau tidak. Pun bisnis hotelnya juga tidak dijelaskan ke OJK secara rinci. Kemudian saat itu OJK memberi alternatif:

    “Kalau melibatkan investor lebih dari 300 orang dengan dana minimal Rp 3 miliar, itu harus masuk dan izin ke pasar modal. Kalau kurang dari itu, bisa membentuk koperasi. Tapi, kalau soal bisnis hotel biasa ya harus ke dinas pariwisata, atau bahkan kalau cuma sedekah saja ini bisa membentuk yayasan. Masalahnya, ini kan ada imbal hasilnya (yield). Ini yang harus dijelaskan,”


    Namun pada 2014 kembali usaha Yusuf Mansur mendapat sorotan. Bisnisdi bawah payung PT Veritra Sentosa Internasional (VSI) menuai masalah. Para mitra tidak bisa melakukan transaksi dengan VPay, yang merupakan alat pembayaran berbagai jasa. Munculah kembali desakan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebaiknya mulai memikirkan produk-produk investasi atau istilahnya produk hibrid yang ditawarkan berbagai pihak, termasuk bisnis sang ustaz yang menawarkan jasa pembayaran dengan skema serupa multi level marketing (MLM).

    .

    Nah masalah kembali muncul. Pelapor Darmansyah warga Surabaya adalah anggota jemaah Yusuf Mansur. Awalnya ada pengusaha Yogya yang ingin membuat bisnis dan menggandeng pemilik Moya Group. Bisnis berupa hotel itu butuh investor, digaetlah sang ustad bernama asli Jam’an Nur Chotib Mansur ini. Dia menawarkan bisnis investasinya itu dengan payung Veritra Sentosa Internasional atau VSI.

    “Pada kelanjutannya, investasi itu tidak jelas. OJK juga sudah menyatakan VSI ilegal,” kata Sudarso pengacara Darmansyah. Darmansyah menginvestasikan uangnya total Rp48,6 juta. Belakangan dia merasakan ketidakberesan pada investasi Condotel Moya yang ditawarkan Yusuf Mansur. Dia lalu melaporkan sang ustad ke Mabes Polri pada Agustus 2016.

    Semua pihak terkait dipanggil oleh penyelidik untuk diminta keterangan, termasuk Yusuf Mansur. “Yusuf Mansur mengakui soal kesalahannya itu,” ujar Sudarso.

    Sumber: http://m.viva.co.id/berita/nasional/921575-yusuf-mansur-kembalikan-uang-korban-investasi-ini-ceritanya

    Polda Metro Jaya memediasi kasus tersebut dan terjadilah perdamaian pada Februari 2017 lalu.YM mengembalikan uang investasi yang disetorkan Darmansyah berikut keuntungannya. Total yang diterima pelapor Rp78,6 juta.

    Ada banyak pasal dalam perjanjian damai itu. Selain Darmansyah (Pihak Kedua), diharuskan mencabut laporan polisi, YM selaku Pihak Kesatu juga meminta agar pengembalian uang investasi itu disosialisasikan kepada investor lain. Termasuk mensosialisikan ke investor lain. Dari teman Darmansyah saja sedikitnya ada 6 orang yang bergabung. Ini belum yang lainnya.



    Nah di Medan pun saat ini ada Rosmanizar yang juga investor dan jamaah YM yang membuka posko senada dengan Darmansyah untuk mendata korban investasi YM ini. Yang mengejutkan dari kisah Rosmanizar ini adalah fakta bahwa mereka tidak menandatangani perjanjian investasi apapun dan hanya bermodal kepercayaan saja pada sang ustad.

    Saat November 2012 YM datang ke Hotel Kanaya di Jalan Darussalam Medan untuk mengisi acara pengajian, dia menyampaikan keinginannya untuk membangun Hotel Siti yang akan menjadi tempat transit jamaah umrah.

    “Dia lalu bilang, saya butuh 10 orang yang mau berinvestasi Rp 100 juta, ternyata yang angkat tangan lebih dari sepuluh orang,” ucapnya.

    Kemudian Yusuf mengatakan butuh 20 orang berinvestasi Rp 50 juta, yang angkat tangan lebih dari 20 orang. Terakhir Yusuf membutuhkan 50 orang yang mau berinvestasi Rp 10 juta, dan yang angkat tangan lebih dari 50 orang.

    “Dalam satu malam itu, saya kira Rp 5 miliar sampai Rp 6 miliar terkumpul,” ungkap dia.


    Malam itu, orang-orang menyerahkan uangnya secara tunai tanpa tanda terima dan pernyataan. YM hanya mengatakan hak-hak mereka sebagai investor akan dipenuhi.



    Dari kasus ini ada beberapa hal yang bisa kita petik :

    Jangan mudah tergiur dengan yang namanya investasi, siapapun yang mengajak Anda. apakah itu pejabat ataupun pemuka agama. Cek dulu ke OJK apakah perusahaan investasi itu resmi, ada ijinnya, dan apakah cara main mereka prosedural atau tidak. Jadilah investor yang cerdas.
    Jangan melakukan investasi tanpa ada perjanjian hitam di atas putih. Memang yang namanya investasi itu ada resiko untung ruginya, namun perjanjian membuat Anda maupun perusahaan penghimpun dana punya payung hukum yang jelas dan masing-masing pihak paham hak dan kewajibannya.
    Kalau Anda ditawari pemuka agama hal seperti ini pastikan dulu, ini sedekah atau investasi. Kalau sedekah maka sah saja tanpa perjanjian hukum kecuali Anda mewakafkan sesuatu misalnya. Karena kalau sudah diniatkan sedekah artinya Anda sudah ikhlas melepas. Tapi jika itu investasi ya berlakulah seperti seorang investor termasuk memahami prosedur yang ada.
    Ini adalah sebuah tantangan bagi OJK untuk menyelidiki model investasi milik YM maupun investasi lain yang sejenis. Masalah ini sudah bertahun-tahun terjadi, bisa saja korbannya lebih banyak dari yang berani bersuara. Sebab dulu pun saat kasus ini pernah mencuat dan banyak netizen berkomentar, malah ada segelintir orang yang menyangkutpautkan dengan soal agama. Mereka yang mengkritik atau tidak setuju dipandang memfitnah ulama sampai ada yang dituding kafir dan tak paham agama. Padahal konteks masalah ini adalah soal bisnis.
    Tentu YM tidak bisa hanya mengandalkan jamaahnya saja yang merasa dirugikan untuk mensosialisasikan kemauannya untuk bertanggungjawab dan mengganti dana mereka. Mereka juga harus jemput bola. PT VSI tentu seharusnya punya data siapa saja yang menyetorkan uangnya. Atau memang seperti yang dikisahkan Rosmanizar bahwa uang masuk tunai tanpa tanda terima atau catatan apapun? Kalau begini berarti PT VSI sendiri sangat tidak profesional dalam bekerja.


    Penulis   :  RAHMATIKA   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Saat Investasi Ala Yusuf Mansur Kembali Bermasalah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top