728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 19 Juni 2017

    Rizieq Shihab dan Amin Rais ‘Kabur’, Pigai Bikin Gaduh: Begini Pembelaannya!

    Rizieq Shihab dan Amin Rais ‘Kabur’, Pigai Bikin Gaduh: Begini Pembelaannya! – Sebelum Ahok masuk sel, Ahok menjadi menu pemberitaan sehari-hari. Memang Ahok masih menjadi buah bibir media pasca penjatuhan vonis bahkan hingga sekarang ini, tetapi intesitas pemberitaannya sedikit menurun.

    Sosok lain selain Ahok adalah Anies-Sandi. Kandidat gubernur dan wakil gubernur yang menjegal Ahok pada Pilkada DKI 2017. Intensitas pemberitaan tentang Anies-Sandi menurun pasca kemenangannya. Posisi ini akan berubah setelah Anies-Sandi berdinas nanti. Sebagai pemegang pucuk nahkoda DKI, mereka akan selalu diburu oleh media.
    Popularitas Rizieq Shihab Menanjak

    Sedangkan Habib Rizieq, popularitasnya terus menanjak. Pada Pilkada DKI 2017 popularitasnya di media berbanding lurus dengan Ahok. Apalagi sepanjang perhelatan Pilkada hingga kasus penistaan agama Islam yang menjerat Ahok. Habib Rizieq sama tenarnya dengan Ahok.

    Setelah keberpihakannya pada pasangan Anies-Sandi, Habib Rizieq semakin memiliki peran penting dan strategis dalam berbagai demo yang mengupayakan untuk mematikan langkah Ahok pada Pilkada DKI 2017.

    Terlepas kemenangan Anies-Sandi berkat konsultan ahli Eep Saefullah, Habib Rizieq memiliki andil penting. Kapasitasnya sebagai imam besar turut menentukan langkah Anies-Sandi. Rizieq tidak langsung berkonfrontasi dengan kubu Ahok tetapi memobilisasi demo yang berjilid-jilid turut mempengaruhi posisi Ahok pada waktu itu.

    Upaya Rizieq tidak sia-sia. Terbukti. Ahok kandas pada Pilkada DKI 2017 dan menghantar Ahok ke balik jeruji besi. Provokasi Rizieq melalui rangkaian demo dianggap sukses mematikan langkah Ahok.

    Kisah perjalanan Rizieq terus beranjak dengan aroma-aroma tidak sedap. Terendusnya kisah cinta terlarang dalam chat mesum yang melibatkan dirinya dengan Firza Husein. Rizieq terus diburu penegak hukum, media dan menjadi menu opini dari sejumlah media serta komentar netizen.
    Datang Natalius Pigai

    Setelah pemberitaan Ahok, Anies, dan Sandi meredah, trafik pemberitaan Habib Rizieq dan Amien Rais terus naik, muncul sosok Natalius Pigai, komisioner KOMNAS HAM asal Papua ini.

    Pigai bukan orang baru di dunia pemberitaan. Namanya kian populer setelah ia tampil pada berbagai acara di media televisi. Di Indonesia Lawyer Club, TV One, Pigai aktif berbicara dan berpendapat. Namun, berbagai tanggapannya masih normatif.

    Namun, sejak meredahnya suhu politik dalam negeri, dengan berakhirnya Pilkada DKI dan hengkangnya Habib Rizieq ke tanah Arab dan terjeratnya Amien Rais dalam kasus korupsi, Pigai justeru tampil bak bintang yang baru bersinar dengan berbagai pernyataan kontroversial.
    Blunder Pigai

    Setidak ada beberapa pernyataan Pigai sebagai blunder yang melorotkan kewibawaan lembaga Komans HAM. Pertama, Pigai menuduh dugaan kriminalisasi ulama terhadap ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq.  Tudingan Pigai mendapat respon dari kalangan Komnas HAM sendiri. Melalui ketuanya, Imdadun Rahmat, membantah pernyataan Pigai sebagai pernyataan organisasi dan menegaskan pertanyaan tersebut adalah pernyataan pribadi.

    Pernyataan Pigai adalah pernyataan yang mendahului kerja tim. Sayangnya, Natalius Pigai membantah pernyataannya sendiri terkait dengan penggunaan istilah kriminalisasi terhadap Habib Rizieq. Bukannya ia mau mengakui atau meluruskan informasi yang berkembang, ia malah memberikan pernyataan yang ‘sedikit’ bias dan membingungkan dengan menegaskan bahwa “Komnas HAM bukan lembaga politik”. (Baca: Ketua KOMNAS HAM: Pernyataan Dugaan Kriminalisasi Ulama Tidak Tepat).

    Kedua, Pigai meminta pemerintah untuk menghentikan proses hukum atas kasus-kasus Ketua FPI, Rizieq Shihab. Sekali lagi pernyataan Pigai memicu perbedaan pandangan dalam tim komisioner sendiri dalam kasus yang menimpa Rizieq Shihab. Pada saat yang bersamaan, Polda Metro Jawa telah memerintahkan penangkapan Rizieq Shihab atas tuduhan pelanggaran UU Pornografi – balada cinta dengan Firza Husein dan kemungkinan juga terlibat kasus lain yang telah diidentifikasi oleh polisi sebanyak 6 kasus hukum (Baca: Ketua KOMNAS HAM: Pernyataan Dugaan Kriminalisasi Ulama Tidak Tepat).
    Pigai Menepuk Dada

    Dua pernyataan di atas membangkitkan amarah dari kelompok yang anti dengan sepak terjang Habib Rizieq, Pigai yang sebagai komisioner Komnas HAM seharusnya bersikap netral dan ‘menjaga mulut’, justeru memberikan pernyataan yang mendahului statemen institusinya bekerja.

    Tidak saja publik yang ‘marah’ dengan sikapnya, komisioner lain pun memintanya untuk berhati-hati dalam memberikan pendapat bahkan ada upaya untuk pemakzulan terhadap dirinya melalui petisi Change.Org yang diprakarsi oleh Ridha Saleh, dengan alasan Pigai tidak bekerja baik; membela ulama; dan konsisten mengkritik Ahok dan Pemerintah Jokowi. (Baca: Surat Terbuka Natalius Pigai, Komisioner Komnas HAM yang Teguh Membela Ulama Muslim).

    Pigai bukannya menginstropeksi diri malah menepuk dadanya sendiri dengan menuliskan surat terbuka yang dikonsumsi publik. Di dalam surat tersebut, Pigai menegaskan beberapa point penting, pertama, ia bekerja sangat maksimal, dari 7 – 8  ribu pengaduhan, sebanyak 60 % kasus ditanganinya sendiri. Ia bekerja siang dan malam semata-mata untuk membesarkan Komnas HAM.

    Kedua, Pigai bekerja tanpa pamrih, mengorbankan tenaga dan biaya pribadi serta menghadapi berbagai teror. Ketiga, menolak jabatan atau tawaran posisi sebagai kepala otoritas dan duta besar. Keempat, ia mengaku bekerja secara obyektif, profesional, berintegritas, anti korupsi dan anti diskriminasi SARA. Kelima, Komnas HAM disclaimer, namanya tidak tersandung di dalamnya. Keenam, mengkritik gaya kepemimpinan Ahok yang anti  hukum Cinta Kasih Kristus. Ketujuh, mengkritisi para pejabat yang tunduk, taat dan patuh kepada presiden Jokowi demi sebuah jabatan. Dia, sebaliknya, untuk mempertahankan marwah Komnas HAM sebagai lembaga independen sesuai amanat prinsip Paris. Kedelapan, mengkritisi kekerasan terhadap masyarakat Papua atas nama negara, masyarakat jelata menjerit karena ketidakpastian negeri ini. Terakhir, pengekangan kebebasan sipil da kebebasan ekspresi, pendapat, pikiran dan perasaan yang menentang mainstream demokrasi, perdamaian dan hak asasi manusia.
    Mengapa Jokowi?

    Pernyataan Pigai dalam surat terbuka sebagainya dikutip di atas adalah prestasi kerja dan pencitraan diri Pigai –  meskipun pengklaiman sepihak, idealisme dan mungkin juga harapannya. Namun pertanyaannya, mengapa ia begitu sarkastis terhadap Jokowi dengan pernyataan-pernyataanya akhir-akhir ini. Apakah benar demikian adanya Jokowi sebagai pemimpin yang otoriter dan menindak masyarakat Papua? Apakah benar Jokowi tidak menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat Indonesia?

    Jika pernyataan atau penilaian Pigai benar adanya, pertanyaan saya bagaimana penilaiannya terhadap kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono? Apakah ada kepedulian sang mantan sama seperti Jokowi yang pulang pergi ke Papua seperti pulang kampung sendiri? Apakah Pigai jeli melihat dan menilai pelanggaran HAM di Papua? Apakah itu salah Jokowi?

    Sebagai seorang aktivis HAM, Pigai harus berlaku adil terhadap semua pemimpin. Mengkritisi semua kebijakan kepemimpinan yang lalu dan sekarang secara proporsional. Bukannya menyerang semata kepemimpinan Jokowi. Inilah yang menjadi tanda tanya penulis. Jangan-jangan point yang tertuang dalam Surat Terbuka hanyalah tipuan belaka, sementara Pigai adalah kaki tangan musuh Jokowi yang tidak berani tampil secara jumawa. Sssstttt….sekali lagi, jangan-jangan?

    Jikalau Pigai tidak mampu menilai keberhasilan Jokowi dalam tempo singkat melakukan perubahan yang besar di luar Pulau Jawa, maka saya meragukan kapabilitas, kapasitas dan kompetensinya. Apakah ia masih layak duduk di lembaga terhormat itu? Atau, ia hanya menjadi kaki tangan atau corong kelompok-kelompok yang tidak berdaya dengan sepak terbang Jokowi? Saya berharap anda tidak menjadi tumbalnya dan atau menjadi sosok yang oportunis kelak. Publik tidak alergi dengan kritikan Pigai terhadap Jokowi tapi menyampaikan kritikan secara obyektif dan proporisional. Bukan semuanya salah dan semua yang salah karena Jokowi.


    Penulis  :  Giorgio Babo Moggi   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Rizieq Shihab dan Amin Rais ‘Kabur’, Pigai Bikin Gaduh: Begini Pembelaannya! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top