728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 12 Juni 2017

    Revolusi Mental Jokowi Sumber Kegaduhan NKRI

    2014 silam kita dikejutkan dengan ‘revolusi mental’ Jokowi pada Pilpres 2014. Bagaimana tidak terkejut, merevolusi mental bangsa dan seluruh masyarakatnya bagaikan menyeberangi Samudera Hindia dengan sampan kecil bermesin odong-odong, pasti tenggelam diempas ombak.

    Tetapi bagaimana pun juga, kampanye harus menjanjikan sesuatu yang luar biasa. Memang Jokowi sudah mengawali revolusi mental itu pada saat kampanyenya, kampanye rakyat dengan membebankan biaya kampanye kepada masyarakat dengan suka rela. Terbukti berhasil. Konsepnya sederhana, kalau seorang kandidat mau melayani maka Anda harus membantu dia untuk menjadi pelayan. Dengan demikian ada semacam hutang budi seorang pejabat kepada masyarakatnya.

    Revolusi mental yang menyakitkan

    Konsep revolusi mental Jokowi tentu sangat visioner. Mengingat bahwa bangsa kita masih jauh dari berkembang. Padahal tidak kekurangan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Indonesia kaya akan segala sesuatu tetapi masih saja merangkak tertatih-tatih? Itulah yang mau dijawab dengan revolusi mental.

    Revolusi mental dihadirkan untuk mengubah mental bangsa mulai dari pejabat, pebisnis, dan masyarakatnya.

    Mengubah mental pejabat korup menjadi pejabat profesional, tulus dan jujur dalam melayani masyarakat. Untuk menjawab ini pemerintah meningkatkan kinerja KPK serta berusaha menghilangkan ‘budaya pungli’ dengan saber punglinya. Terbukti banyak pihak yang terjerat korupsi, diadili dan dipenjara. Meskipun sepertinya mau digembosi dengan Angket DPR akhir-akhir ini atau pun menuduh KPK tebang pilih dalam memilih target. Demikian juga dengan saber pungli, berhasil mengurangi pungutan liar di berbagai lini struktur pemerintahan.

    Mengubah mental babu para pejabat pemerintahan, yaitu kemauan dan kesadaran untuk menolak suap para pemangku kepentingan. OTT KPK yang tidak sedikit membuktikan bahwa pejabat bangsa ini masih menikmati diri sebagai babu para pebisnis serakah. Mental babu itu ‘yang penting saya selamat, apalagi dapat untung, soal bangsa biarlah urusan orang lain.’ Tetapi mereka tidak sadar bahwa secara tidak langsung mereka dijadikan babu oleh para pebisnis jahat. Sebab mereka akan selalu berada dalam keadaan terancam dan ketakutan ketahuan. Maka ketika ada sosok Ahok yang tidak mau menerima suap dan bahkan ‘memeras’ para pengusaha demi DKI, banyak kalangan blingsatan. Bahkan mati-matian menjatuhkan Ahok. Atau hadirnya Pudjiastuti, Menteri Kelautan, dengan semboyan ‘tenggelamkan’ dianggap tidak tepat.

    Mengubah mental penjilat atau yang penting bapak senang menjadi mental petarung. Adalah (lagi-lagi) Ahok, Pudjiastuti, Basuki, Jonan, Luhut, dll, yang menampilkan pejabat tegas. Tidak perlu manis-manis kepada Jokowi atau memuji-mujinya, yang penting bekerja mengikuti instruksi presiden ‘kerja-kerja-kerja’. Masuk akal kalau ada menteri yang kerjanya tidak becus, bermulut manis tapi main belakang, langsung dipecat.

    Mengubah mental sok alim menjadi mental tulus dan apa adanya. Ini menarik. Mungkin Anda pernah mendengar nama bang Ruhut Sitompul, yang dulu menjadi juru bicara Demokrat. Sejak kemunculan Jokowi, dia berubah haluan. Menurut saya, peralihan ini bukan tanpa sebab. Pada pemerintahan sebelumnya, bangsa ini tampaknya tenteram tetapi sebenarnya sedang menumpuk gulungan es yang siap meluluhlantakkan apa saja yang menghalanginya. Dan Ruhut mengerti benar soal itu. Maka ketika Ruhut melihat kepemimpinan Jokowi, ia sadar dan tobat. Bukan dia tidak tahu bahwa pemerintahan Jokowi akan mendapat tantangan yang dahsyat.

    HTI, yang berkedok dakwah, yang adalah organisasi anti-Pancasila, ternyata menghimpun kekuatan pada pemerintahan sebelumnya. FPI, yang berkedok nahi munkar, yang pada rezim sebelumnya bebas melakukan tindakan radikal dan main hakim sendiri, ternyata diam-diam menjadi alat politik para pengejar kekuasaan. Atau lembaga agung DPR, yang berkedok argumentasi legislator, yang pada era sebelumnya menggunakan kata-kata manis bermodalkan otak kosong membagi-bagi uang rakyat, ternyata para koruptor bajingan jahanam.

    Maka ketika Jokowi datang dengan revolusi mentalnya, banyak pihak yang kebakaran jenggot. Revolusi mental tidak hanya janji, Jokowi memberi teladan. Hidup sederhana, kera kerja kerja, transparan dan anti korupsi, mencintai NKRI dan fondasi pendiriannya, serta bertindak apa adanya.

    Akibatnya negara gonjang-ganjing. Rakyat, yang selama ini dininabobokan dengan subsidi, berontak menuduh pemerintah tidak pro-rakyat padahal mereka yang bermental feodal, merasa diri raja padahal kacung. Para pejabat pencinta korupsi dehidrasi karena uang suap tidak lagi mengaliri tenggorokan finansial mereka. Para pemuka agama pun ikut imbasnya, yang selama ini diam-diam merasuki pikiran anak-anak bangsa dengan doktrin anti-Pancasila, radikalisme dan pendukung terorisme; mereka harus dideradikalisasi secepat mungkin.

    Konsekuensinya apa? Gaduh. Jokowi sadar akan hal ini. Revolusi mental tidak akan mudah, sebab sudah terlalu lama bangsa ini digerogoti. Revolusi mental pasti memaksa bangsa ini berkontraksi lebih dari biasanya, berargumentasi lebih pedas, berontak lebih keras, bernafas lebih sesak dan bergesekan lebih sering.

    Bangsa ini belum siap untuk revolusi mental

    Bangsa harus membayar mahal untuk revolusi mental ini sebab bangsa ini belum siap menerimanya. Bukan gagasan revolusi mental yang buruk, melainkan manusia-manusia Indonesia. Sejak lama sudah ada keinginan para pemimpin sebelumnya, tetapi mereka tidak punya keberanian untuk melakukannya. Jujur saja, pemerintahan era SBY terlalu soft menghadapi persoalan bangsa; sebegitu soft sampai banyak persoalan menumpuk.

    Selain para pemimpin terdahulu tidak berani, masyarakat sendiri belum siap berubah cara berpikir dan cara hidup. Misalnya, ketika mental subsidi rakyat mau diubah, mereka berontak melawan, sebab mereka berpikir satu hari ke depan bukan seratus atau satu tahun ke depan. Ketika mental korup para pejabat mau diubah, mereka juga berontak, sebab mereka hanya memikirkan perut dan hasrat bukan memikirkan rakyat; padahal sejatinya seorang pejabat harus lebih mementingkan kepentingan umum dari kepentingan pribadi.

    Bahwa masih banyak hal mau dibenahi oleh pemerintahan sekarang adalah fakta yang tak terbantahkan. Revolusi mental hanya satu dari sekian banyak hal yang perlu dibenahi di negeri ini. Tetapi jika revolusi mental ini dibiarkan mangkrak, sebagaimana hambalang, bukan hanya kerugian finansial yang kita alami, melainkan kerugian manusia dan negara Indonesia yang tidak mungkin maju-maju.

    Penulis tahu bahwa pembaca Seword dan rakyat kebanyakan tidak serta merta setuju dengan pendapat ini. Banyak yang kontra terhadap pemerintah, itu hal lumrah, karena tidak mungkin menyenangkan semua orang. TETAPI bagaimana mungkin iblis senang jika kebenaran, keadilan, kejujuran dan kebaikan mencapai kepenuhannya? Jadi mari kita mengkritik pemerintah demi kebaikan bangsa, bukan malah nyinyir yang tidak berguna.

    Tentu kegaduhan yang terjadi sekarang tidak kita inginkan. Jokowi pasti sangat tidak menginginkan kegaduhan ini. Tetapi kegaduhan itu sudah terjadi. Waktunya sekarang kita memaknainya, menghadapinya dan mengatasinya. Jika kita tidak mau negara ini semakin hancur, maka kita harus mendukung revolusi mental yang sudah mulai menghasilkan negarawan-negarawan sejati ditingkat pejabat dan silent majority yang tidak lagi tenteram dalam kediamannya.

    Ingatlah bahwa manusia hebat tidak cukup manusia kaya, melainkan manusia bijaksana, yang mentalnya tangguh. Demikian juga suatu bangsa yang hebat, bukan soal kekayaan SDM dan SDA-nya, melainkan yang mental manusianya yang terpuji.

    Salam dari rakyat jelata


    Penulis  :   Mora Sifudan   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Revolusi Mental Jokowi Sumber Kegaduhan NKRI Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top