728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 06 Juni 2017

    Revolusi Mental Itu Tetap Kental Dengan Tawa Orang-orang Berakal

    Sungguh tidak terduga. Ternyata revolusi mental itu tetap kental dengan tawa orang-orang berakal. Adalah Presiden Jokowi sang penggagas, yang mematahkan anggapan bahwa revolusi mental adalah konsep yang bikin banyak orang mengernyitkan dahi. Sebaliknya, orang bisa mengalami revolusi mental ketika tertawa dengan sukacita. Tertawa dengan sukacita adalah jenis tertawa yang disebabkan mengalami serupa pencerahan akal-budi.

    Ketika menjadi Calon Presiden, Jokowi menulis dengan apik tentang apa itu Revolusi Mental. Sebuah tulisan yang menggugah dan membangkitkan semangat menjadi Indonesia.
    Saya membaca tulisan tersebut bukan dari Harian Kompas sebagai perilis tulisan pertama kali. Maklum tinggal di pelosok desa di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekalipun desa yang menjadi bagian dari daerah istimewa namun belum terjamah Harian Nasional seperti Kompas. Untung akses internet sekarang sudah bisa didapat walaupun sinyal data belum bisa dikatakan istimewa.

    Namanya keberuntungan, kalau sudah jodoh memang tidak akan kemana-mana. Adalah tim sukses Jokowi-JK waktu itu yang memberi Tabloid Dua Jari. Tabloid yang memuat artikel Revolusi Mental tulisan Jokowi. Sebuah tulisan yang dikutip dari Harian Kompas. Sayang, dalam Tabloid tidak menyebut tanggal berapa. Mungkin saking tergesanya naik cetak hingga keterangan waktu diabaikan oleh redaksi. Yang penting Tabloid Dua Jari bisa segera terbit dan secepat kilat bisa menyebar dan menyambar kampanye hitam legam.

    Maklum, waktu itu kampanye hitam yang dilakukan Tim Sukses Prabowo-Hatta memang luar biasa. Lewat Obor Rakyat, dituduhkanlah bahwa Jokowi itu keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hingga beberapa orang yang saya kenal sempat bertanya-tanya. Benarkah Pak Jokowi itu PKI? Benarkah Pak Jokowi itu belum haji?

    Untunglah ada Tabloid Dua Jari yang waktu itu benar-benar membantu untuk memberikan penjelasan tentang siapa sosok Jokowi. Saya pun turut senang karena ada artikel berbobot berjudul Revolusi Mental, sebagai uraian gagasan Pak Jokowi sendiri tentang kepemimpinan nasional.

    Membaca artikel tersebut tumbuhlah keyakinan bahwa Jokowi adalah pemimpin harapan bagi Persada Nusantara. Revolusi mental pun menjelma menjadi konsep yang mengandung daya magis (lebih).

    Dalam tulisan itu Jokowi menjelaskan bahwa revolusi mental itu bukan revolusi fisik. Revolusi mental adalah sebuah paradigma. Suatu model berpikir yang mencairkan kebekuan hingga keputusasaan nalar berpolitik bangsa ini. Sebuah kerangka dasar bagi suatu nation building yang manusiawi. Sebuah gaya hidup yang menjadi jatidiri budaya Nusantara yang bersahaja. Itulah yang disebut revolusi mental.



    Revolusi mental dalam arti seperti di atas memang dimaksudkan sebagai terobosan budaya politik untuk memberantas setuntas-tuntasnya praktik-praktik buruk yang sudah sekian lama dibiarkan. Revolusi mental, dengan demikian benar-benar memerlukan dukungan moral dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin.

    Memahami tulisan Jokowi, dalam hati pun segera muncul binar harapan menuju Indonesia Hebat! Apalagi Jokowi menempatkan gagasannya dalam skala nasional. Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan seperti dituliskan berikut ini:

        “Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional. Usaha kita bersama untuk mengubah nasib Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil dan makmur. Kita harus berani mengendalikan masa depan bangsa kita sendiri dengan restu Allah SWT. Sebab, sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.”

    Kalimat-kalimat Jokowi di atas merupakan ajakan. Sebuah kode bahwa Jokowi hendak menerapkan kepemimpinan yang partisipatif. Dan, ini memang terbukti. Kewibawaan hak prerogatif sebagai Presiden tetap dijaga dengan kekuatan batinnya, pada sisi lain partisipasi masyarakat tetap diwadahi sejalan dengan konstitusi.

    Ketika mendapuk Sembilan ‘Srikandi’ Panitia Seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi adalah contohnya. Partisipasi masyarakat dipertontonkan dengan bijak dan apik. Kepercayaan seorang Presiden didelegasikan dengan ciamik. Mengapa panitia seleksinya perempuan semua? Jelas sebuah tanya yang layak mengemuka. Rupanya Jokowi sedang meminta restu dari Ibu Pertiwi dengan cara mempercayai para Srikandi tanah air.

    Tak kalah unik adalah ketika merombak kabinet. Tidak ada yang bisa mengusik daya batin seorang Joko Widodo. Jadilah, Si Kerempeng bermental banteng ini sungguh piawai dalam menjaga keseimbangan yang dinamis. Logika politik jalan, insting politik juga bekerja. Sungguh tidak mudah menemukan sosok demikian.
    Ketika perhatian warga dunia nyata dan dunia maya tertuju pada ulah kaum berdaster pada 14 Oktober 2016, Presiden justru melakukan perombakan kabinet. Sihir politik tingkat tinggi jelas diperagakan Jokowi. Bagaikan gerak tipu Evan Dimas yang membuat penjaga gawang lawan mati langkah dalam mengantisipasi datangnya bola.

    Tak kalah apik nan heroik adalah ketika Wiro Sableng gadungan menunjukkan kekuatan Kapak Naga Geni 212. Untuk menghadapi murid Sinto Gendeng gadungan, Jokowi cukup membawa payung warna biru untuk merebut panggung 212. Tak ayal suara berisik dari panggung tersebut pun tenggelam bagaikan kulit pisang di kandang kambing.

    Gaya kepemimpinan Jokowi tidak hanya memperlihatkan kecerdasan tetapi juga keberanian. Indonesia butuh pemimpin pemberani seperti ini dan bukan jenderal yang gampang prihatin dan mengeluh. Semangat pantang menyerah dan puasa mengeluh seolah menjadi identitas kepemimpinan Jokowi. Kepemimpinan yang menampakkan esensi revolusi mental seperti yang pernah ditulis semasa kampanye.

    Bahwa revolusi mental harus dimulai dari diri masing-masing. Sebagai Kepala Negara, Jokowi telah menunjukkan bagaimana memimpin negara ini dengan mental pemberani. Tak segan-segan bagi apa dan siapa pun yang merongrong dasar negara Pancasila, siap-siap saja menerima gebuk dan tendang!

    Sampai di sini barangkali terkesan betapa seriusnya sebuah gerakan revolusi mental. Benarkah seperti itu?

    Tunggu dulu. Jangan terburu berkesimpulan seperti itu. Lihat saja apa yang dilakukan Kaesang Pangarep sang putra. Melalui video yang diunggah tentang parodi minta proyek jelas sebuah terjemahan revolusi mental yang tengah terjadi dalam setiap pribadi yang menjadi keluarga Presiden. Sekalipun anak Presiden tidak lantas bermanja-manja ria menikmati hidup dengan mengemis kemudahan. Kompak bukan? Bagaimana revolusi mental harus dimulai dari lingkungan terdekat.

    Selain itu, ada-ada saja yang dilakukan Jokowi. Memang bukan Jokowi kalau tidak punya banyak akal. Masih ingat kan, dengan kasus papa minta saham?

    Ketika anggota Mahkamah Kehormatan Dewan saling melotot mengadu otot leher kala mau memberi sanksi pada Setya Novanto, Jokowi malah membuat pesta tawa di istana bersama para pelawak dan komedian. Revolusi mental adalah soal kejujuran. Apakah para anggota dewan yang terhormat itu sungguh jujur pada rakyat melalui tontonan sidang mereka? Untuk menjawabnya cukup dengan tawa ‘ha ha ha ha’ ala Jokowi.

    Dan, yang belum lama berselang adalah kisah secarik kertas yang diberikan Jokowi kepada wartawan. Gara-gara secarik kertas itu banyak awak media yang rela tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak? Disangka catatan penting mengingat negara dalam situasi genting, tidak tahunya berisi menu makanan berbuka puasa. Hahahaha…

    Revolusi mental ternyata tetap kental dengan tawa orang-orang yang berakal, bukan? Pak Jokowi, Pak Jokowi… hihihihihi… presidenku yang keren abis sehabis-habisnya. #JokowiUntukIndonesia



    Penulis   :   Setiyadi RXZ   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Revolusi Mental Itu Tetap Kental Dengan Tawa Orang-orang Berakal Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top