728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 05 Juni 2017

    Presiden “LAUT” Sukses Bangun Tol Laut

    Presiden Jokowi, adalah sosok yang memiliki integritas, komitmen dan kapabilitas; merakyat dan rendah  hati, layaknya kerang mutiara yang rela menderita demi menghasilkan sebutir mutiara. Ia adalah Presiden “LAUT”, yakni Legitimate, Akomodatif, Unggul dan Tangguh, yang sukses membangun tol laut.

    Jokowi adalah Indonesia banget. Ia sadar betul bahwa geografis Indonesia, yang didominasi oleh air dan laut, dihiasi 17.508 pulau besar dan kecil memiliki potensi ekonomi yang belum dikelola secara maksimal. Potensi besar ini kerap dilupakan oleh masyarakat bahkan oleh pemerintah daerah setempat.

    Laut adalah simbol kebebasan, kejayaan dan masa depan. Keperkasaan nenek moyang bangsa Indonesia menguasai laut tercatat dalam catatan sejarah, dan dibuktikan melalui sejumlah literatur, tapi kita sengaja melupakannya. Tol Laut yang digagas oleh Presiden Jokowi, adalah mengingatkan kita tentang kekayaan laut yang melimpah dan menjadi tali penyambung sejarah bahwa nenek moyang kita pernah berjaya di laut, bahkan mampu mengarungi samudera luas hingga ke pesisir Madagaskar, Afrika Selatan.


    Pada tahun 2014, saat Jokowi pertama kali mengemukakan gagasan tentang Tol Laut, banyak orang ragu dan tak percaya, bahkan ada  yang menganggap hanya dongeng, namun kini hasilnya telah nyata dan kesuksesannya membuat kagum para pengeritik yang menganggap Tol Laut hanya isapan jempol.

    Gagasan Tol Laut adalah upaya untuk mewujudkan Nawacita pertama, yakni memperkuat jati diri bangsa Indonesia; dan mewujudkan Nawacita ketiga, yakni membangun Indonesia dari pinggiran, dengan cara memperkuat daeraah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

    “Nenek moyang kita adalah pelaut, nenek moyang kita berjaya karena berhasil menaklukkan laut dan memanfaatkan laut,” ujar Jokowi di Youtube miliknya, yang diunggah 19 Februari 2017.(1)

    Di Youtube miliknya itu, Presiden Jokowi menjelaskan bahwa Tol Laut adalah jalur pelayaran yang bebas hambatan, yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia, dan menghubungkan antarpulau.

    Harapannya, jika pelabuhan-pelabuhan dan antarpulau terhubung dengan Tol Laut, tidak ada lagi kelangkaan sembako, BBM dan semen; sehingga pemerataan ekonomi tercapai dan harga barang menjadi lebih murah diseluruh Indonesia.


    Multiplier effect Tol Laut bisa memunculkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, mengurangi beban jalan raya dan menurunkan biaya logistik;  biaya transportasi jadi murah dan harga-harga yang berkaitan dengan kebutuhan pokok turun dengan signifikan.

    Singkatnya, keberadaan Tol Laut adalah untuk menggerakkan roda perekonomian secara efisien dan merata. Menurut Presiden Jokowi salah satu faktor penunjangnya adalah  kebutuhan akan pelabuhan laut dalam (deep sea port) untuk memberi jalan bagi kapal-kapal besar melintasi rute dari Sabang sampai Merauke.(2)

    Presiden “LAUT” sangat memahami kondiri geografis bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurutnya, Tol Laut merupakan andalan masyarakat di daerah-daerah terpecil, terluar dan terjauh. Sebab ketiadaan pelabuhan dan kapal yang melayari wilayah mereka, membuat komoditas yang mereka miliki tak bisa diangkut dan dipasarkan ke daerah lain yang membutuhkannya.

    Presiden Jokowi melihat  laut bukan hambatan, tetapi sebagai peluang. Juga ia melihatnya sebagai sumber kejayaan dan kemajuan bangsa Indonesia. Menurutnya, bila kita memperhatikan laut akan membuat cara pandang kita melihat Indonesia sebagai satu kesatuan, bukan hanya sekedar pulau-pulau terpisah. Hal itulah yang mendorongnya menggagas Tol Laut, dan menegaskan kembali bahwa Indonesia adalah  bangsa maritim.

    Kecerdasan Presiden “LAUT” memandang laut mengingatkan dan menyadarkan kita yang selama ini memandang laut sebagai hambatan dan pemisah daratan. Akibatnya, banyak orang terasing dan kurang memanfaatkan laut sebagai sumber pangan terbesar untuk kehidupan.

    Selama ini banyak orang menganggap laut hanya sebagai tempat menampung kotoran, menampung air hujan dan banjir. Laut diberi beban berat. Seandainya laut dapat berkata seperti manusia, maka satu kata yang dikeluhkannya adalah polusi; satu kata yang dikehendakinya adalah lestarikan; dua kata yang diharapkannya adalah lindungi laut; tiga kata penting diucapkannya manusia sudah dimaafkan; empat kata penting yang diingatkannya adalah manusia jangan mencemari laut; dan lima kata paling penting yang disampaikannya manusia aman bila laut dipelihara.

    Kita sebagai masyarakat Indonesia patut berbangga memiliki Presiden yang peduli laut. Sejak kemerdekaan tahun 1945 sampai 2014 saat Tol Laut digagas, kurang lebih 69 tahun para pemimpin bangsa ini mengabaikan potensi laut. Namun dalam kepemimpinan Presiden “LAUT”, laut yang sebelumnya ditakuti dan dijauhi, dan  hanya dipandang sebagai sebuah hamparan eksotik dimanfaatkan sebagai sarana untuk pemerataan ekonomi.

    Laut yang luasnya 2/3 dari daratan atau sekitar 70 persen kurang mendapat perhatian dibanding daratan. Enam Presiden sebelumnya lebih fokus pada ekonomi hijau ketimbang ekonomi biru yang bersumber dari laut. Misalnya, Kementerian Lingkungan Hidup dalam memberikan penghargaan  lebih tertuju untuk kelestarian lingkungan darat, diberikan dalam bentuk penghargaan Kalpataru, Adipura, dan Adiwiyata.

    Sesungguhnya tidak hanya hutan di darat memiliki kemampuan menyerap emisi karbon dioksida (CO2), tetapi juga organisme laut. Organisme laut seperti terumbu karang (coral reefs), hutan bakau (mangrove), padang lamun dan biota kecil seperti plankton memiliki kemampuan menyerap emisi karbon dioksida (CO2 ) seperti halnya hutan atau pohon di darat. Masyarakat yang melestarikannya perlu dipikirkan penghargaannya oleh Kementerian Lingkungan Hidup, sehingga banyak orang yang tertarik dan peduli tentang kelestarian laut.

    Kebijakan cerdas Presiden “LAUT” menggagas Tol Laut  menyadarkan kita kembali bahwa nenek moyang kita adalah pelaut. Mereka berjaya karena berhasil menaklukkan dan memanfaatkan potensi yang dimiliki laut, antara lain sebagai sumber makanan, protein, dan obat-obatan; juga sebagai pertahanan, jalur strategis perdagangan dan sebagai international leverage.

    Untuk mendukung program Tol Laut, Presiden Jokowi terus meningkatkan kebutuhan transportasi laut, seperti percepatan pengembangan pelabuhan dan fasilitasnya, pengadaan kapal-kapal perintis dan tiket penumpang yang disubsidi pemerintah.

    Pelabuhan-pelabuhan yang telah diresmikan oleh Presiden Jokowi memiliki fasilitas yang cukup memadai, di antaranya dilengkapi tempat penampungan yang cukup besar, tempat pengumpulan ikan hasil tangkapan nelayan, dan memiliki luas pelabuhan yang memadai, sehingga membuat para pelaku usaha antusias menggunakan pelabuhan dalam aktivitas bongkar muat barang. (3)

    Masyarakat yang berada di daerah terluar, terjauh, terpencil, terisolir dan terpencar seperti  Papua dan Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara tidak hanya sulit membayar harga barang yang berlipat ganda, namun sering mengalami kesulitan dalam mendapatkan barang kebutuhan pokok dan memasarkan hasil komoditasnya. Tapi setelah adanya Tol Laut, mereka telah merasakan manfaatnya.

    Penambahan jumlah kapal untuk menunjang program Tol Laut tidak hanya memudahkan pengangkutan barang ke daerah terluar, terjauh, terpencil, terisolir dan terpencar, tetapi juga dapat mengangkut barang-barang yang dihasilkan oleh daerah tersebut untuk dijual ke wilayah lain di seluruh pelosok tanah air. (4)

    Untuk mendukung program Tol Laut, pemerintah meningkatkan jumlah trayek angkutan laut perintis. Pada tahun 2014, jumlah angkutan laut perintis sebanyak 84 trayek. Jumlahnya terus meningkat pada tahun 2015 dan 2016.

    Menurut Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut (Dirlala) Kemenhub, tahun 2015 terdapat  89 trayek atau rute kapal perintis, yang dilayani 52 kapal negara dan 37 kapal swasta. Tahun 2016 meningkat menjadi 96 trayek atau rute, yang dilayani 54 unit kapal negara dan 42 unit kapal swasta, dan 1 unit digunakan khusus untuk  angkutan ternak.

    Masih menurut Dirlala Kemenhub, bahwa pada tahun 2015  terdapat 38 pelabuhan pangkal dan 519 pelabuhan singgah. Tahun 2016 meningkat menjadi 40 pelabuhan pangkal dan 527 pelabuhan singgah. (5)

    Penambahan trayek dari tahun ke tahun berdampak positif  terhadap penurunan harga kebutuhan pokok di sejumlah wilayah. Misalnya di Tahuna, ibu kota Kepulauan Sangihe-provinsi Sulawesi Utara, harga beras, terigu dan semen, masing-masing mengalami penurunan 5 persen.

    Penurunan harga serupa juga terjadi  di Namlea, Maluku Utara. Harga beras turun 22 persen, bawang merah turun 20 persen, gula turun 28 persen, minyak goreng turun 15 persen, tepung terigu turun 29 persen, daging ayam ras turun 49 persen, tripleks  turun 17 persen dan semen turun 22 persen.

    Program Tol Laut juga berdampak positif terhadap penurunan harga di wilayah lainnya. Misalnya di pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, harga semen turun 14 persen. Harga ayam ras di Wamena turun 49 persen, kata Budi Karya, Menteri Perhubungan. (6)

    Bitsael S Temmar, bupati Maluku Tenggara Barat (MTB), mengatakan bahwa program Tol Laut sangat membantu daerahnya. “Harga satu sak semen misalnya, yang tadinya berkisar Rp 200 ribu, namun dengan adanya Tol Laut, kini harganya turun dan bisa sama dengan di pulau Jawa,” ujarnya. (7)

    “Berkaitan dengan Tol Laut, yang terkait dengan pelabuhan, terutama di Indonesia bagian timur sudah dirasakan masyarakat. Turunnya harga 20 – 25 persen, itu penurunan yang cukup tinggi, kata Presiden Jokowi. (8)

    Gagasan Presiden Jokowi tentang Tol Laut telah melahirkan kembali semangat maritim bangsa Indonesia; berhasil menurunkan biaya logistik; membuat disparitas harga antara satu wilayah dengan wilayah lainnya relatif sama; jumlah dan trayek kapal perintis yang tiap tahun ditambah memudahkan distribusi barang dan penumpang ke sejumlah pulau yang sebelumnya tak dapat diakses oleh transportasi laut.

    Memang tak mudah meyakinkan masyarakat yang selama puluhan tahun tak mengenal lagi laut sebagai warisan nenek moyangnya, namun Presiden “LAUT” tak menyerah memperkenalkan Tol Laut, karena ia yakin laut adalah masa depan Indonesia. Menjelang tiga tahun masa kepemimpinannya dan HUT Kemerdekaan RI ke-72, kesuksesan Tol Laut mulai nyata dan mampu mensejahterakan masyarakyat.

    Penulis :  Solemanmontori Soleman   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Presiden “LAUT” Sukses Bangun Tol Laut Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top